Jiwa Pengganti Sampah Keluarga Duke

Jiwa Pengganti Sampah Keluarga Duke
Bab 86


__ADS_3

Calvian mendudukkan dirinya di atas tanah sambil mengatur nafas yang tersengal. Pria paruh baya itu memerlukan cukup banyak mana agar bisa terlepas dari pengaruh kalung itu.


Meskipun begitu, kontrak dengan kalung Krikia tidak bisa di lepas dengan mudah, kecuali dia mati atau raja Grambiel membatalkan kontrak itu.


Iris segera menghampiri Calvian dan menyembuhkan nya dengan menggunakan sihir suci.


Pikiran pria itu tertuju pada gadis bermasker rantai itu. Entah mengapa dia terlihat sangat mirip dengan Leona. Meskipun dirinya masih ragu karena wajahnya tidak terekspos.


Tapi pria itu mencoba mengingat sesuatu.


Benar, dia tidak tau dimana makam putrinya dan saat itu tidak mendengar ada acara pemakaman. Dia curiga jika itu Leona.


Kemana gadis itu selama ini? Kenapa dia menghindari dirinya?


Apakah penampakan waktu lalu adalah Leona yang asli? Tetapi dia melihat sendiri jika gadis itu tertusuk pedang putra mahkota tepat di jantungnya.


Berbagai pertanyaan berkecamuk di pikirannya sebelum suara Iris mengalihkan perhatiannya.


"Ayah, kau baik-baik saja?" Tanya gadis itu dengan mata berkaca-kaca saat melihat pria itu mengerutkan keningnya.


Calvian hanya berdehem sebagai jawaban dan bergerak bangkit menuju tenda tempat acara berburu di lakukan.


Iris mengikuti langkah lebar sang ayah meskipun dirinya tertinggal jauh di belakang pria itu.


Kenapa kau mengikuti ku sampai kemari?" Tanyanya dingin yang sukses membuat Iris menunduk dan meremat tangannya gugup.


"Aku melihat Ayah berjalan kemari dengan terburu-buru. Jadi aku memutuskan mengikuti Ayah." Cicitnya ketakutan.


Tanpa menjawab perkataan Iris, Calvian segera pergi meninggalkan gadis itu yang kini menunduk


Iris hanya bisa mengepalkan tangannya menahan emosi. Kenapa pria itu tidak menerima permintaan maaf darinya? Apalagi selama ini perkembangan hubungan dirinya dengan putra mahkota tidak ada kemajuan. Bahkan mereka belum memutuskan tanggal pernikahan.


Iris merasa Calvian menjauhi dirinya karena gadis bermasker itu yang entah kenapa bisa mirip dengan Leona, meski tidak yakin dia harus memastikan sesuatu.


Segera gadis itu pergi menyusul Calvian yang telah berjalan jauh di depannya.


💠💠💠💠


Peserta yang mengikuti kompetensi berburu berbaris rapi dan mengumpulkan monster buruan mereka. Seketika semua peserta dan penonton menatap kelompok dari kekaisaran dengan horor.


Mereka menangkap monster kelas satu beserta beberapa bangsa orch. Raut wajah raja Grambiel seketika menjadi buruk, namun dia berhasil menyembunyikan dengan baik.


Kaisar Ein yang melihat itu hanya bisa terkekeh tanpa suara, bahkan Leona menyeringai lebar di balik maskernya untuk memikirkan rencana selanjutnya.


"Terimakasih untuk hadirin yang telah hadir dalam kompetisi berburu kali ini. Pemilik poin tertinggi sekaligus pemenang kompetisi ini adalah kelompok kekaisaran Kamitsuki. Sesuai janji, aku menyerahkan kalung warisan kerajaan ini." Serunya sedikit kesal saat melihat senyum mengejek dari kelompok itu.


Khalix di dorong untuk maju mengambil hadiah oleh Kaisar Ein dengan menaik turunkan alisnya. Dengan malas pria itu maju mendekati raja Grambiel yang menatapnya dengan jengkel. Seketika Khalix tersenyum miring saat membayangkan pria itu kesal di hadapan umum.


"Persetan dengan hadiah yang kau berikan, Bajingan. Kau pikir dengan semua ini kami akan menyerahkan diri? Kau terlalu serakah, sombong, bodoh dan lemah. Aku heran apakah kepalamu itu isinya koin emas atau otak emas? Pasti mahal kalau dijual." Bisik Khalix dengan nada membunuh yang membuat raja Grambiel mengeratkan rahangnya. Urat kekesalannya muncul menghiasi leher dan kepala pria paruh baya itu.

__ADS_1


"Siapa kau yang beraninya menghinaku, anak sialan! Aku raja di kerajaan ini." Marah raja Grambiel dengan nada tertahan. Khalix terkekeh geli mendengar perkataan pria paruh baya itu.


"Oh, aku ini anak yang kau ingin lenyapkan. Apakah kau mulai pikun?" Bisiknya lagi dan segera mengambil hadiah yang dibawa oleh pelayan itu.


"Katakan bagaimana pendapat Anda tentang kompetisi ini?" Tanya salah satu penonton dengan antusias.


Khalix berdeham sejenak dan menatap penonton dan peserta dengan gugup.


"Menurutku kompetensi ini... Membosankan." Ucapnya sambil tersenyum sambil memasang wajah mengantuk dan menguap lebar, tidak lupa melayangkan kiss bye kearah penonton dan turun dari panggung.


Sementara putra mahkota mengepalkan tangannya. Harusnya kalung itu menjadi miliknya dan akan diberikan pada calon istrinya.


Raja Grambiel merasa terhina dengan perkataan Khalix. Beraninya orang itu menyebut kompetensi ini membosankan? Dia harus memikirkan cara untuk menyingkirkan Khalix dan rombongannya.


Putra mahkota Casian segera pergi dari sana dengan perasaan marah. Sedetik kemudian seringai kejam muncul di wajah tampannya.


💠💠💠💠💠


Bangsa Orch muncul dengan senjata andalan mereka saat semua peserta kompetisi sibuk membersihkan tenda mereka. Beberapa orang mulai berjatuhan saat terkena pukulan senjata bangsa hijau itu.


"Bangsa Orch datang!"


"Kita di serang!"


"Calvian, lindungi aku!" Seru raja Grambiel panik dan ketakutan. Pria itu segera pergi meninggalkan area itu, mengabaikan para bangsawan dan bawahannya yang kebingungan.


Jumlah bangsa Orch yang mencapai ribuan, sementara mereka yang berjumlah ratusan orang. Jumlah yang tidak seimbang membuat mereka ragu-ragu dan ketakutan.


'Duar'


'Duar'


Beberapa simbol sihir muncul di bawah kaki bangsa itu dan menyebabkan ledakan yang besar. Beberapa bangsa Orch yang terkena ledakan itu tewas dengan tubuh berceceran.


Lalu beberapa kunai dan shuriken serta aneka senjata terlempar ke arah bangsa itu. Seketika banyak bangsa Orch tewas dengan luka tusukan.


Beberapa prajurit yang melihat hal itu terkejut dan menatap ke arah asal senjata itu. Terlihat Jim, seorang gadis bermasker dan Wei Tao memasang kuda-kuda serta beberapa meter dari mereka terdapat mayat bangsa Orch yang berceceran mengingat tenda mereka paling luar dan rawan serangan.


"Karena kita kedatangan tamu, sebaiknya kita sambut dengan meriah." Ujar kaisar Ein sambil menyugar rambutnya, tidak lupa pria itu memasang pose tampan.


Leona membuka maskernya, membuat beberapa orang menatap gadis itu dengan tak percaya. Sementara Kei dan Ken menggeram memamerkan gigi taring mereka.


"Semuanya!! Ayo majuu!" Teriak Leona dan segera berlari menerjang kearah bangsa Orch itu diikuti oleh kaisar beserta rekannya.


Suara dentingan pedang, ledakan dan teriakan kesakitan menggema di area itu. Mereka membabat habis bangsa Orch yang menyerang tenda mereka.


Diiringi dengan hujan kelopak bunga, hujan senjata dan jarum es, membuat beberapa bangsawan menatap pertarungan itu dengan kagum dan ngeri. Apalagi kelopak bunga itu bisa menghasilkan ledakan yanga mematikan.


Beberapa prajurit mengerahkan anak buahnya untuk membantu kaisar Ein dan pasukannya. Bahkan Calvian ikut membantu sambil menggerutu.

__ADS_1


'Dasar raja tidak berguna. Bukannya menyelamatkan bangsawan dan memberi perintah, dia malah ketakutan. Benar-benar membuatku kerepotan.'


Leona menghitung jumlah Orch yang berlari ke arahnya dengan santai, lalu dia merapalkan beberapa segel tangan dan menghentakkannya ke tanah. Dalam waktu singkat, sebagian besar bangsa Orch terkurung dalam sebuah kristal.


Semua yang berada terkejut dengan hal itu, bahkan Jim dan dua pria siluman yang selalu bersamanya.


"Leona, kau?" Gumam Jim yang dibalas dengan tatapan polos gadis itu.


"Kenapa, Paman? Aku capek. Lagian mereka pantas di pajang seperti itu. Kalau di jual, kita bisa kaya." Cengir Leona yang langsung dibalas dengan jitakan penuh cinta dari Kazuma.


"Bagaimana jika mereka lepas, Leona?" Tanyanya kesal.


Leona memasang pose berpikir yang entah mengapa terlihat menyebalkan.


"Baguslah jika mereka bebas. Jadi kita bisa bermain, Kazuma." Ucapnya enteng.


Mereka yang berada dekat dengan Leona hanya bisa mengelus dada penuh kesabaran. Ingin sekali mereka melempar gadis itu ke dunia lain jika saja dia tidak memiliki peran berarti dalam hidup mereka.


"Tapi Leona, kau tidak bisa membuat lelucon seperti ini." Kesal kaisar Ein. Leona hanya nyengir tanpa dosa.


Sementara bangsa Orch mendekati rekannya yang terjebak di dalam kristal itu dan memukulnya, naas kristal itu hancur berkeping-keping bersama rekannya yang terjebak.


'Prang'


"Aku hanya bilang kalau mereka akan bebas pergi ke neraka dengan pelayanan VIP tingkat dua." Lalu gadis itu menjentikkan jarinya.


Suara pecahan terdengar di sana, terlihat kristal itu hancur menjadi kepingan kecil. Bahkan bangsa Orch yang terperangkap ikut hancur bersamanya. Sontak mereka menganga tak percaya melihat hal itu.


"Ke-kenapa bisa?"


"Ba-bagaimana bisa?"


"Karena kristal mengubah tubuh mereka. Lagipula ini bukan sihir, kok." Ujar Leona santai.


"Bunuh dia!!" Seru pemimpin bangsa Orch itu dengan marah. Jumlah mereka berkurang drastis.


Pertarungan sengit kembali terjadi dan dalam waktu singkat mereka telah berhasil di lumpuhkan. Beberapa yang selamat di interogasi, dan prajurit yang terluka di obati oleh Kaze dan Kiara dengan membagikan elixir buatan mereka.


"Ayo kita lengserkan raja itu." Seru salah satu fraksi bangsawan dengan marah.


"Benar. Dia tidak cocok menjadi raja kita."


Kaisar dan pasukannya tersenyum miring. Lalu sebuah rencana muncul di kepala pria itu.


"Hei, di mana putra mahkota? Bukankah tadi dia ada di sini?" Tanya Kaisar dengan kebingungan. Para bangsawan terdiam dan baru menyadari bahwa putra mahkota tidak ikut bertarung bersama mereka.


"Oh, benar. Apakah dia ketakutan dan memilih bersembunyi? Ayah dan anak sama-sama tidak berguna." Cibir bangsawan lain.


"Untuk hari ini kalian boleh kembali ke kediaman kalian. Sisanya mari ke istana raja dan buat acara meriah!" Seru Kaisar Ein bersemangat. Mencari pasukan tambahan untuk menyingkirkan raja itu ternyata sangat mudah. Sepertinya para bangsawan tidak menyukai raja mereka setelah kematian ratu Errena.

__ADS_1


__ADS_2