Jodoh Sandiwara

Jodoh Sandiwara
1. Terrible Wish


__ADS_3

Amora melihat mereka dengan tatapan kosong. Awalnya ia pergi ke mall untuk membelikan hadiah anniversary dia dengan tunangannya, Bernard Abiyan. Tetapi siapa sangka ia malah memergokinya sedang berpegangan tangan dengan sahabatnya selama ini, Jaqueline Harrinson.; 


Mereka terlihat berbincang dengan bahagia sambil bergandengan tangan berduaan sembari melihat-lihat, masuk dari toko satu ke toko yang lainnya. Ingin rasanya Ainaya Amora mendatangi mereka lalu memisahkan kedua tangan mereka yang terjalin.


Ia memutuskan untuk pergi membuntuti keduanya. Dengan menaiki taxi, ia meminta supirnya untuk berjalan sedikit lebih pelan daripada mobil hitam yang berjarak sekitar 5 kilometer di depannya. Lalu lintas yang lambat membuatnya lancar mengikuti mereka.


Mobil memasuki daerah perhotelan, Ai sudah mulai merasakan firasat buruk, tetapi seperti biasa Ai mencoba untuk menepis perasaan buruk itu, karena seingatnya hubungan ia dengan Bernard akhir-akhir ini tidak ada masalah, apalagi mereka pacaran sebelum ada keputusan perjodohan dari ayahnya.


Kemudian, mobil hitam berbelok ke kanan, memasuki  hotel X yang memang tempatnya sudah terkenal, "Mungkin Jaqueline menginap disini dan Bernard hanya mengantarnya. Ayolah Ai, bersihkan pikiranmu" Ai menyemangati dirinya sendiri, tangannya yang gemetar mengelus puncak kepalanya.


Amora memang biasa melakukan hal itu jika dia sedih, entah bagaimana, ia selalu merasa dirinya menjadi jauh lebih baik setelahnya.


Ai memarkir mobilnya tidak jauh dari mereka dan mematikan mesin mobilnya, ia tetap menunggu didalam mobil sampai melihat mereka berdua keluar sambil bermesraan.


Dirinya sudah siap meledak, apakah itu Jaqueline yang selama ini dia kenal? Yang selalu baik padanya? siapapun boleh mengkhianati dirinya, asal jangan sahabatnya. Ainaya keluar dari mobilnya dengan segera dan membuntuti mereka berdua sepanjang jalan sampai mereka berdua pergi ke meja resepsionis.

__ADS_1


Amora duduk di sofa yang ada di depan resepsionis, tangannya mengambil asal majalah yang berada diatas meja di dekatnya, syukurlah mereka berdua saling asik menggoda sampai tidak memperhatikan sekitar.


urusan di resepsionis tampaknya sudah usai karena mereka berdua berjalanan bergandengan menaiki lift, Amora segera pergi ke resepsionis untuk menanyakan keduanya.


"Apakah laki-laki barusan bernama Bernard Abiyan?" Tanyanya ragu, penjaga resepsionis itu terlihat ragu, karena bagaimana pun itu adalah privasi pelanggan.


Amora memaksakan dirinya untuk tertawa, "Tenang saja, aku ini kakaknya, aku ingin membuatkannya pesta kejutan karena besok ia akan berulang tahun, jadi aku harus tau nomor kamarnya" Amora ragu apakah penjaganya akan percaya dengannya.


"Tentu saja nona" Penjaga resepsionis itu tersenyum, rupanya ia percaya akan bualan Ainaya. Karyawan itu tadinya ragu untuk memberitahukan kepadanya, tetapi melihat pakaiannya yang elegan ia lebih memilih untuk memberitahukannya. Jika Amora mengetahui hal ini, ia akan bersyukur akan mukanya yang terlihat berkelas.


"Tuan Bernard berada di kamar nomor 506" Katanya sambil melihat kearah buku tamu, langsung saja Ainaya pergi menaiki lift ke lantai lima dan berdiri di depan kamar yang dimaksud.


Sepertinya langit mengetahui kesedihannya, hujan mulai turun, semakin lama semakin deras.


Amora berdiri terdiam, mendengarkan suara hujan yang jatuh bersamaan dengan suara yang tidak asing, ingin rasanya ia masuk, tetapi bukankah lebih baik jika dia berpura-pura tidak mengetahui apapun? Bukankah hubungannya dengan Bernard akan baik-baik saja nantinya?

__ADS_1


Menarik nafas panjang dan membuangnya, ia memutuskan untuk pergi dari sana, sembari ia menunggu lift, ia memperhatikan hujan dari jendela di dekatnya. "Mengapa hidup sangatlah buruk" Ia menghela nafas berkali-kali.


"Apa salahku" Ia menghembuskan nafas lagi, matanya menatap kosong sambil sekali-kali mengeluarkan air mata yang dengan susah payah ditahannya. 


Ia masuk kedalam lift dan berjalan melintasi lobi, tamu yang baru saja datang menatapnya heran tetapi tentu saja Amora tidak memperhatikannya. Dari kejauhan resepsionis memandang Amora dengan aneh, "Mungkin kedua saudara itu bertengkar? Kasian sekali, padahal kakaknya akan mengadakan pesta kejutan untuknya besok" resepsionis itu menggelengkan kepala iba. 


Amora mengambil handphone nya "Halo pak, bisakah anda menjemput saya" tetapi pihak seberang langsung memutuskan sambungan telefonnya. "Lihat kan, bahkan supir tidak menghargai dirinya" Ia menatap kearah langit sambil tersenyum sayu.


"Sudah malam, lebih baik aku menaiki bis saja" Ia menghela nafas untuk yang ke sekian kalinya dan mulai berjalan, rambutnya yang tadi ia atur menjadi rusak terkena hujan, Amora tetap berjalan dengan pelan, air matanya kembali mengalir lagi.


Bernard adalah satu-satunya hal baik baginya selama ia hidup, tetapi tidak disangka sahabatnya yang ia percaya akan merebut kebahagiaan satu-satunya, ia mengelap air matanya yang mana percuma karena air mata itu sudah bercampur air hujan.


"Tin tin" Suara klakson mobil berbunyi, Amora yang sedang mengelap air matanya menatap kosong kearah lampu sorot mobil yang semakin dekat.


"Akan lebih baik jika aku mati" Amora menutup matanya, menunggu ajal tiba dengan berdoa semoga ia tidak pernah dilahirkan kembali, sungguh ia lelah.

__ADS_1


"Bruk" Suara dentuman keras menghantam dirinya, hal terakhir yang ia ingat adalah suara pengemudi yang memanggilnya dan kemudian pandangannya menghitam.


"Cih merepotkan" seseorang yang duduk di kursi penumpang mendecakkan lidahnya, kesal karena perjalanannya terganggu 


__ADS_2