
"Mau kemana gerangan Nona Amora di pagi buta seperti ini?" Vincent bertanya, terlihat kantong mata besar di area sekitar matanya yang menandakan Vincent habis begadang, untuk apa?Tentu saja untuk menyelesaikan tugas dari bos itu
"Aku ingin lari pagi" Amora berkata singkat, ia malas untuk menjawab pertanyaan basa-basi seperti itu, bukankah sudah jelas jika ia ingin lari pagi dengan hanya melihat pakaiannya dan botol yang ia bawa
Amora sampai di luar hotel dan terhenti, ia tidak tahu di manakah arah taman dari sini. Ia memutuskan untuk kembali lagi dan bertanya kepada resepsionis. Setelah ia tahu jalannya, ia mulai berlari kecil. Polusi yang sedikit membuat udara pagi terasa segar, ada gunanya juga ia bangun pagi seperti ini. Lihat saja, bahkan matahari belum menunjukkan dirinya.
Ia juga tidak tahu sih sebenarnya, apakah karena terhalang gedung tinggi atau murni karena belum muncul yang menjadi penyebab tidak terlihatnya matahari saat ini
Ketika sampai di taman, ia meregangkan tubuhnya dan mulai berlari. Menyapa setiap orang yang ia temui dengan senyuman dan terkadang sapaan. Ternyata banyak juga orang yang bangun pagi untuk berlari seperti ini.
"Halo kakek, selamat pagi" Amora mengucapkan salam ketika ia berhasil menyusul seorang pria berambut putih dari belakang, senyumnya menghilang ketika melihat mukanya yang masih terlihat muda.
"kakek?" orang itu terlihat marah, dahinya mulai mengernyit karena perkatannya barusan. Saat ini Amora tidak tahu harus membalas apa, ia sendiri kaget ketika melihat orang yang mempunyai rambut berwarna putih tetapi masih terlihat muda.
Bagaimana bisa ia lupa, bahkan di zamannya saja ada yang seperti ini. Amora hanya mengira albino baru dimulai berpuluh-puluh tahun lagi karena evolusi manusia yang terus menerus. Ternyata teorinya salah!
Amora kini gugup, takut di zaman ini ada hukum yang mengatur tentang orang yang tersinggung karena salah memanggil. Ia tidak mau di penjara, ia bahkan belum berusia satu tahun di zaman ini. Ia menatap orang itu cemas
__ADS_1
"Siapa yang kamu maksud kakek?" orang itu berhenti berlari, Amora juga berhenti.
"Itu.." jujur saja, ia tidak tahu harus menjelaskan apa kepada orang ini.
"Mau lihat kehebatanku berlari, dasar anak muda sombong" Orang berambut putih itu menatap tidak suka kepada Amora.
Tunggu, kenapa orang ini memanggilnya anak muda. Sebenarnya berapa usia orang di depannya ini, Amora sangat bingung sekarang, apakah sebenarnya ia sudah tua tetapi mendapatkan perawatan sama seperti yang ada di zamannya dahulu? Itu jelas mustahil, teknologi itu baru ditemukan tiga tahun sebelum ia lahir. Lalu...
"Mikir apa kamu, tentu saja aku seusia dengan dirimu. Tetapi diriku jelas berpikiran lebih dewasa daripada kamu" Orang itu berkata. Amora menghela nafas di dalam hatinya, ternyata hanya anak muda sombong yang berpikir dirinya lebih dewasa daripada siapapun. Ia kira ia telah menyinggung orang besar sehingga agak sedikit takut.
"Terserah katamu, aku meminta maaf karena telah salah duga. Dah" Amora berkata, kemudian ia langsung meninggalkan bocah berambut putih di belakangnya.
"dasar bocah sombong" pikir Amora, ia harus mengalahkan bocah ini, jika tidak ia tidak akan bisa tidur tenang malam ini karena marah memikirkan perkataan bocah, bahkan tawa-nya saja sudah menyakitkan telinganya
Amora menambah kecepatan larinya, entah mengapa kakinya terasa ringan. Sepertinya ini adalah efek dari gelangnya lagi, pikirnya senang. Tidak lama kemudian ia sudah bisa melihat sosok berambut putih berlari di depannya, jarak mereka kini sudah tidak terlampau jauh
"Hai bocah putih, kita bertemu lagi. Aku duluan ya" Amora melambaikan tangannya ketika ia melewati bocah berambut putih itu. Bocah itu kesal ketika melihat Amora berlari mendahuluinya, langsung saja ia menambah kecepatan kakinya.
__ADS_1
Mereka berdua kini bukan lagi berolahraga, tetapi mereka sedang mengadakan lomba lari. Ketika mereka melewati orang lain yang sedang berjoging, entah itu sendiri atau dengan teman, mereka selalu disoraki dan juga diberi tepuk tangan serta semangat
Mereka kini sudah berlomba tiga putaran di taman dan bocah putih itu mulai kelelahan, ia memegang dadanya yang kini merasa sesak. Amora merasakan ada yang salah dan langsung berhenti, ia tadi hanya bermain-main dengan bocah sombong itu dan tidak ada niatan untuk mengalahkannya
"ada apa bocah?" Tanya Amora bingung, ia mendudukan bocah itu ke bangku taman yang ada di dekat mereka. Bocah putih itu terlihat sedang kesusahan bernafas, ia mencari-cari sesuatu di dalam tas nya tetapi tidak ada.
Amora semakin panik melihatnya, ia sudah memutuskan untuk memanggil ambulan sampai ia melihat titik putih di dada milik bocah itu. Apakah ini keajaiban gelangnya lagi?
Ia ragu untuk mencobanya, tetapi Amora juga penasaran. Lagipula, tidak mungkin bukan jika orang akan mati jika ia hanya menyentuhnya? Amora akhirnya mencobanya, menyentuh titik tertentu dengan serius
Bocah putih itu melihat Amora dengan bingung, gadis di depannya ini tadi sudah memegang telepon untuk menelpon ambulan tetapi mengapa handphonenya itu ditaruhnya lagi ke dalam tas. Apakah gadis didepannya ini sebenarnya musuhnya?
Ia mulai menyesal mengapa ia tidak membawa bodyguard dengannya tadi pagi. Bocah itu tidak bisa berkata apapun karena lagi sibuk untuk berusaha bernafas, dan hanya bisa melihat Amora yang mimiknya berubah menjadi serius
Telunjuknya diarahkan ke dadanya, bocah putih mulai berpikiran aneh. Tetapi ia tidak bisa berbuat banyak dan hanya bisa berdiam diri tidak melawan.
"Tuk" Ia merasakan dadanya yang sesak kini membaik di setiap tekanan, kemudian merasakan nafasnya kembali normal lagi dan tidak ada tanda-tanda penyakitnya akan kambuh lagi. Apakah gadis di depannya adalah dokter ajaib yang melalui ruang waktu?
__ADS_1
(sampe ketemu mingdep~)