Jodoh Sandiwara

Jodoh Sandiwara
32. Adu mulut


__ADS_3

Amora mengikuti langkah kaki Vincent memasuki president suite milik mereka dan langung tercengang, ruangan ini lebih besar sekitar enam kali lipat dari kamarnya. Bahkan mungkin lebih besar karena ruangan ini memenuhi lantai paling atas hotel Goldentry.


Hotel ini sangat cocok dengan namanya, Goldentry. Hanya yang mempunyai duit yang bisa masuk, "huft" Amora menghela nafas. Ia memperkirakan harga kamar regular juga tidak kurang dari puluhan juta.


"Tentu saja hotel ini mewah, ini milikku" Suara Albert mengagetkannya, "sebentar lagi juga akan berpindah tangan" Itulah yang ada dipikiran Vincent dan Ben, Bos besar mereka tidak pernah memamerkan propertinya ke siapapun, dan mereka menebak Bos besar itu memiliki rencana aneh di dalam kepalanya lagi


Ben diam-diam menangis di dalam hatinya, hotel ini sebenarnya miliknya tetapi sayangnya hotel ini didaftarkan atas nama Albert sehingga ia tidak bisa menolak jika di pindah tangankan oleh bosnya.


"Sombong" Amora bergumam, tetapi sayangnya gumamannya itu didengar oleh Albert, senyum tipis di bibir Albert bertambah lebar. Entah mengapa Amora merasa sangat terganggu ketika melihat senyum Albert, senyuman itu terlihat bagai duri di mata Amora, ia memutar matanya dan mengalihkan pandangannya kearah lain.


"Silahkan Nona Amora memilih salah satu dari 6 kamar yang ada di sini" kata Vincent, Amora berterima kasih dan memilih salah satu kamar yang kosong disana dan menaruh barang-barangnya. Acaranya akan dimulai besok jadi hari ini ia bisa beristirahat


Ia mulai memikirkan tentang bisnis barang antik yang akan ia jalani, jika ia ingin membuka toko maka ia harus memiliki barang antik yang banyak terlebih dahulu. Amora membuka laptopnya dan mulai mencari pasar barang antik yang ada di Ibu Kota tersebut

__ADS_1


Ketemu! Amora tersenyum dan mencatat alamat di buku kecil yang biasa ia bawa, ia mengambil tas kecilnya dan berjalan keluar


"mau pergi kemana kamu" Albert bertanya. "Bukan urusanmu" Amora memalingkan muka, Albert yang sedang menonton TV merasa diabaikan.


"Vincent, temani Nona Amora pergi. Jaga dia dengan nyawamu" Perintah Albert, ia takut akan terjadi sesuatu dengan gadis kecil itu di kota besar ini dan menyebabkan ia harus bertanggung jawab nantinya, itu akan sangat merepotkan baginya


"Jangan lebay deh. Aku bisa pergi sendiri" Amora menolaknya, ia menggeleng kearah Vincent yang sudah bangkit dari sofa untuk menjalankan perintah dari Albert.


"sudah kuputuskan aku akan pergi sendirian" Amora meninggikan kedua alisnya dan memberikan penekanan di setiap katanya. "aku sudah memutuskan duluan jika Vincent harus pergi bersamamu" Albert mengatakan hal yang menurut Amora sangat konyol.


Vincent yang menyaksikan mereka bertengkar layaknya anak kecil menjadi sakit kepala. Di satu sisi ia mengerti mengapa Bos nya memintanya untuk menemani Nona muda Amora dan di sisi lainnya ia juga mengerti perasaan Amora yang lebih suka berpergian sendiri


"Sudahlah Nona, mari kita pergi saja daripada membuang waktu kita disini" Vincent menegahi, kedua orang yang sedang beradu pandang menjadi menatapnya.

__ADS_1


"Baiklah Vincent, mari kita tinggalkan orang menyebalkan ini disini" Amora berbalik sembari mengibaskan rambutnnya, mulutnya masih cemberut ketika ia berjalan keluar dari kamar meninggalkan Vincent


"Nona Amora, tunggu" Vincent langsung berlari menyusulnya. Kemudian, dengan Vincent yang menyetir, mobil meninggalkan hotel dan berjalan di lalu lintas yang terbilang ramai ini.


"kenapa aku harus pergi bersama Vincent, aku bukan anak kecil lagi" Amora menggerutu, Vincent yang sedang menyetir mobil tertawa melihatnya. Ada alasan tersendiri mengapa Albert sangat keras kepala dan alasan itu terkait dengan masa lalu Albert yang pilu


"Bukankah lebih baik pergi bersamaku daripada si muka dingin yang kamu bilang?" Vincent berusaha menghiburnya. Ekspresi Amora menjadi lebih baik ketika medengarnya, ia mengangguk dan menyetujui perkataan Vincent


"Benar, Si muka dingin itu sangat ingin ikut terikat dengan urusan yang bukan urusannya" dengan semangat Amora berceloteh tentang keluhannya selama ini. Ingin rasanya Vincent mengingatkan Amora bahwa ada kamera kecil tersembunyi yang dapat merekam semua yang terjadi, tetapi sayangnya ia tidak bisa melakukannya!


Mungkin saat ini bos besar sedang menahan amarahnya. Ia juga sedikit menyesal mengapa ia mengatakan hal seperti itu yang menyebabkan Amora jadi mulai menjelekkan Albert, ia yakin Albert akan memberikannya pekerjaan yang sangat banyak, sama seperti Ben waktu itu.


memikirkannya saja sudah membuatnya tidak bersemangat, ia terduduk layu sambil menyetir dan tidak lagi mendengarkan keluhan Amora yang sedari tadi keluhan itu diulang terus menerus.

__ADS_1


__ADS_2