
Kemudian keesokan harinya Amora seperti biasa bangun siang, ia baru bangun ketika matahari sudah berada di atas kepalanya.
"Hoaamm" Ia akhirnya teringat, lalu dengan segera ia mengganti baju menggunakan gaun putihnya dan menata rambutnya agar terlihat cantik, Amora kemudian turun kebawah dan terlihat keluarga Bernard sudah duduk di kursi tamu.
"Halo nyonya dan Tuan Bernard, maafkan aku karena terlambat. Bagaimana kabar kalian selama ini?" Katanya sambil duduk, ia menuangkan teh dan meminumnya.
"Kabar kami baik" Nyonya Oh membalas senyuman Amora. Merasakan ada sesuatu hal yang aneh dengannya.
"Tumben sekali nona Amora memakai baju polos seperti ini" Nyonya Oh tertawa pelan.
"Terima kasih nyonya, tetapi sebenarnya aku lebih nyaman jika memakai baju polos seperti ini" Amora balas tertawa, jika dari jauh mereka akan tampak seperti ibu dan anak yang berbincang sambil meminum teh.
Amora terus menerus mencari topik pembicaraan, mengutuk tuan dingin yang belum menunjukkan batang hidungnya. "Mengapa aku bertaruh padanya, sialan" Gumamnya kesal.
Ia sangat kesal, tau gitu Amora akan meminta bantuan kepada presiden saja. Suruh militer menjaga di rumahnya.
"Dan soal pernikahan.." Tuan Oh akhirnya membuka topik, Amora menahan nafasnya.
"Maafkan aku karena terlambat" Suara dingin terdengar, ia masuk kedalam sambil membawa buket bunga lili kecil.
"Oh, Tuan Albert. Ada apa gerangan kamu datang kemari" Tuan Oh dan Tuan Kenneth buru-buru berdiri menyambutnya. Amora hanya duduk sambil menikmati kue keringnya.
Amora menatap kearah Albert dan kebetulan Albert juga menatap kearahnya. Amora tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
"Aku dengar tunangan ku akan menikah dengan orang lain, jadi aku datang kemari" kata Albert, perkataannya membuat Amora sedikit tersedak. Seriusan? Dari banyak alasan ia memilih pertunangan?
"Apa!" Tuan Kenneth berseru, Amora juga ikutan mendelik kearahnya tetapi Albert tetap saja menunjukkan ekspresi dinginnya.
Albert tersenyum kecil sebagai kode. "Gadis ini, aku saat ini sedang membantumu!" Ia berkata di dalam hatinya.
"Tidak bisa seperti itu" Bernard berdiri, yang dibalas dengan tatapan dingin.
"Mari kita biarkan Mora yang memilih satu diantara kita" Kata Albert, ia tersenyum kecil melihat kearah Amora.
Amora menarik nafas, menenangkan dirinya. Ia berjalan mendekati Albert diiringi tatapan benci dan marah dari Abigail dan Bernard.
"Mengapa Amora selalu dapat segalanya!" Abigail mengutuk didalam hatinya, mengutuk semua silsilah Amora sampai ke nenek moyangnya.
"Apa? Aku dan Jaqi tidak ada hubungan apapun" Bernard berkeringat, pasti Amora tidak tahu itu, pasti.
"Bahkan kamu mempunyai nama kesayangan untuknya. Aku ingin bertanya, apakah nama itu dibuat setelah atau sebelum kamu pergi ke hotel X" Amora berlagak sedih.
"Amora!" Tuan Kenneth berteriak. "Tutup telingamu, nanti bisa tuli" Albert menutup telinga Amora yang membuat semuanya tercengang.
"Tuan Albert, apakah keluarga Ouyang memutuskan untuk melawan keluarga Bernard kami?" Kata Tuan Oh sambil melihat kearah Albert yang sedang menutupi kuping.
"bukankah keluarga Ouyang satu tingkat diatas keluarga Bernard kalian?, untuk apa tunanganku melawan keluarga Bernard?" Amora tersenyum kearah Albert.
__ADS_1
"Si kecil ini, omongannya membuat orang marah sampai mati" katanya di dalam hati, Albert diam-diam tersenyum ketika omongan itu terus bergema di dalam hatinya.
"Kamu!" Tuan Oh berseru, Amora melihatnya dengan tatapan polos.
"Maafkan aku Tuan Oh, aku sangat mencintai Bernard, tetapi sahabatku juga menyukainya, jadi aku lebih memilih untuk merelakan" Amora memindahkan kesalahannya kepada Jaqueline yang saat ini sedang bersin-bersin.
"Amora, aku sudah bilang bahwa aku dan Jaqueline tidak memiliki hubungan apapun" Bernard segera menyanggah, jika pertunangannya batal maka rencananya akan hancur.
"Tapi bukti berkata lain" Amora mengeluarkan Handphonenya dan menunjukkan gambar Jaqueline dan Bernard sedang bergandengan tangan di koridor hotel.
"Semoga kalian bahagia" kata Amora, Air mata tiba-tiba mengalir di wajahnya yang membuat Amora bingung, mungkinkah ini reaksi dari Amora sebelumnya?
"Lap air matamu, jelek" Albert mengeluarkan Sapu tangannya, ia merasa bahwa Amora sedang melakukan akting tetapi entah mengapa ia merasa tidak nyaman.
"Terima kasih" Amora tersenyum dan mengambil sapu tangannya.
"Bernard!" Kali ini Tuan Oh yang berteriak marah, mengapa Bernard sangat bodoh sehingga bisa ketahuan.
"Sudahlah Amora, bukankah wajar bagi seorang laki-laki untuk memiliki banyak istri" Tuan Kenneth masih membela Bernard.
"Tentu saja tidak, yang melakukan hal itu adalah laki-laki murahan yang tidak mengerti perasaan seorang wanita" Albert menimpali, Amora merasakan hangat dihatinya dan menggenggam lebih erat lengan Albert.
Tuan Kenneth yang merasa tersindir berubah menjadi merah mukanya, Lisa juga merasa malu dan Abigail sudah ingin melempar Vas bunga kepada Amora yang ada disebelahnya.
__ADS_1