Jodoh Sandiwara

Jodoh Sandiwara
50. ambiguitas


__ADS_3

Amora terbangun di sore harinya, ia menguap sambil keluar dari kamarnya dan menemukan bahwa tidak ada orang di ruangan. Ia mengira Ben sedang ada di kamarnya, tetapi ternyata dugaannya salah, Ben tidak terlihat di kamarnya atau di manapun.


Ia juga penasaran kemanakah Vincent pergi, laki-laki itu belum juga kembali dari kemarin. Apakah Vincent sudah terlebih dahulu kembali ke kota X dan meninggalkan mereka di ibukota? tapi untuk apa, ia tidak mengerti


"Kruyuk" Perutnya berbunyi menandakan ia lapar, ia baru ingat ia belum memakan makanan berat sama sekali. Hidungnya yang tajam mencium wangi makanan dari suatu tempat. Amora mengikuti aroma yang ada di udara itu dan berhenti tepat di depan meja makan


Matanya terbelak ketika melihat banyaknya makanan yang ada di dalam tudung saji. Bahkan menurutnya semua makanan ini tidak akan bisa ia habiskan sendirian.


Ada angsa panggang satu ekor utuh, sup yang terlihat mirip dengan sup jamur pada masanya, dan apalagi ya namanya, ia juga tidak bisa menyebutkan semuanya karena perbedaan zaman mereka sangat jauh. Di zamannya yang lalu, makanan hangat merupakan suatu kemewahan, orang miskin hanya bisa puas dengan pil makanan yang tidak berasa


Ia menghitung dan mendapati enam piring yang berbeda dengan lauk yang berbeda, Amora bingung harus ia apakan semua makanan ini, dia bukan sapi yang bisa melahap semuanya.


"apa sebaiknya aku menunggu si muka datar ya?" Amora bergumam, Kemudian langsung menepis pikirannya itu begitu mengingat kelakuan menyebalkan orang itu kemarin. Amora  masih merasa kesal sampai detik ini juga.


"sudahlah, makan saja duluan. Peduli amat sama si muka dingin" Amora mendengus kesal, ia memanaskan lauk yang ia ingin makan, kemudian duduk di meja makan untuk menyantap makanannya

__ADS_1


"Sreet" Suara pintu terdengar dibuka, Amora teralihkan pandangannya kearah pintu dan mendapati Albert dengan masih memakai jas nya berjalan masuk, Amora memalingkan wajahnya dari Albert, bertingkah solah-olah tidak peduli walaupun ia merasa Albert tambah tampan jika memakai jas hitam seperti itu.


Pandangan mata Albert begitu masuk juga mengarah ke Amora yang sedang duduk di meja makan. Melihat dirinya diacuhkan, ia tahu Amora masih marah karena kejadian lampau. Tapi untunglah ia memakan makanan yang ia bawakan


Tas nya di lempar asal ke sofa dan langsung berjalan menuju Amora,  duduk di kursi yang kosong di dekat gadis itu. "mau apa" Gadis itu bertanya curiga


"makan, apalagi kalau bukan itu" Albert tersenyum polos, ia sengaja tidak memakan apapun tadi agar ia bisa makan berdua dengan Tikus kecilnya ini. Ia mulai mengambil lauk ke piring kosong


"sebentar, itu masih dingin" Amora kelepasan berbicara, ia langsung mengutuk dirinya sendiri yang terlalu baik. Albert menoleh kearahnya dan tersenyum lagi seperti orang bodoh. "kalau begitu, bisakah kamu memanaskannya untukku" Katanya.


Tubuhnya semakin condong kearah Amora yang bergerak ke arah sebaliknya, Amora tidak mengerti mengapa ia tidak langsung menendang orang menyebalkan satu ini, mungkin ia sudah tersihir oleh senyumannya yang seperti malaikat


Albert tersenyum tambah lebar, ia memegang dagu Amora dan mendekatkan dirinya. "mau apa" Amora merasa waspada ketika melihat gelagat Albert yang terbilang tidak normal. Albert tidak menjawabnya dan hanya menggerakkan kepalanya semakin dekat


"Bos, aku pulang. Kerjaannya udah selesai" Vincent masuk sambil berseru, Amora langsung menendang Albert dan mengambil lauk untuk dipanaskan. Albert melihat kearah Vincent dengan mata yang menyeramkan

__ADS_1


Orang yang ditatapnya merasa bersalah sekaligus takut, kenapa dia tidak mendengarkan kata Ben untuk menginap saja di markas malam ini dan memaksa pulang. Ia tadi menertawakan si maniak komputer itu karena hukumannya, sekarang sepertinya Vincent akan lebih menertawakannya


Ia tersenyum canggung kearah mata tajam milik bosnya, menunjuk kamarnya dan langsung masuk ke dalam


Albert menghela nafas ketika melihat Vincent kabur, ia harus memberinya kerjaan yang lebih banyak agar orang itu tidak menganggur. Ia mengeluarkan handphonenya dan mengirim kerjaan yang bisa ia beri kepada Vincent


"Silahkan" Amora meletakkan lauk yang sudah ia hangatkan di ujung meja yang berlainan dengan Albert, Albert menoleh dan menaruh ponselnya ke dalam kantong dan lanjut mengambil makanan yang disodorkan


Melihat si muka tembok itu sedang makan ia dengan cepat langsung berlari ke kamar dan menguncinya, ia sebenarnya ingin menendang Albert lebih keras lagi tadi.


Albert tertawa ketika melihat Amora berlari meninggalkannya, ia merasa makanan ini lebih enak daripada  yang biasanya, Ia terdiam seperti memikirkan sesuatu, lalu membatalkan 1/10 dari berpuluh tugas yang ia berikan kepada Vincent atas dasar hatinya yang sedang gembira


"tingnong" Bel berbunyi, Albert menjadi kesal, siapa yang mengganggunya ketika sedang menikmati makanan yang enak ini. Karena bel tidak kunjung berhenti, Vincent keluar dari kamarnya, ia memutar matanya ketika melihat bosnya yang tidak beranjak untuk membuka pintu sendiri.


"siapa?" Tanya  Vincent sambil membuka pintu

__ADS_1


 


 


__ADS_2