
"Nona, kita sudah sampai" Vincent membangunkan Amora yang tertidur ketika mereka sampai ditempat yang dimaksud Amora. Dengan mata yang masih setengah terpejam, Amora turun dari mobil. Ia mengusap matanya berulang kali untuk menghilangkan kantuk
"kamu ngapain pakai kacamata hitam seperti itu" Kata Amora sambil tertawa, ia menunjuk Vincent yang menggunakan kaca mata hitam entah untuk apa, "bodyguard selalu pakai kacamata hitam ketika beraksi bukan?" Vincent tersenyum, sambil tersenyum alisnya naik satu yang membuatnya tambah tampan.
"Oke, mari jalan bodyguard ku" Amora menyeringai dan mulai berjalan memasuki pasar yang terbilang cukup ramai itu. Sama seperti pasar antik yang ia pernah kunjungi, pasar ini terdiri dari kios-kios yang berada di pinggir jalan juga.
Amora masuk ke toko pertama dan melihat dengan mata ajaibnya, ia tidak melihat apapun yang bercahaya sehingga ia keluar dari toko dan masuk ke toko lainnya.
Amora mengeluh, sambil mengipaskan tangannya sebagai pengganti kipas ia menggerutu mengapa hanya sedikit barang yang asli di toko antik yang ada di Beijing. Amora menenteng lukisan yang tadi ia beli, dari setengah toko ia baru menemukan satu barang yang asli. Bahkan di kota X ia menemukan dua barang antik, kenapa di ibu kotanya ia menemukan hanya satu barang antik.
Menghela nafas kesal, ia melanjutkan untuk berjalan. Akhirnya ia sampai di toko terakhir dan hanya menemukan tiga barang antik yang asli.
"Apakah menurutmu ini asli?" tanya Vincent ragu ketika melihat ketiga barang yang dipegang oleh Amora, ia takut Amora hanya asal beli karena ia tidak mencermati barang sebelum membelinya
__ADS_1
"menurutmu?" Amora tersenyum licik, Vincent merasakan khawatir ketika melihat senyum itu, ia akhirnya mengangguk dan menyetujui bahwa itu asli. Tadinya Amora ingin membuat bahan taruhan tetapi ternyata Vincent tidak masuk ke dalam perangkapnya
"Sudahlah ayo pulang" Karena tidak ada lagi yang Amora harus lakukan, ia memimpin Vincent berjalan menuju keparkiran mobil.
Mobil perlahan meninggalkan pasar antik.
Sementara mobil sedang berjalan, Amora tiba-tiba terilhami sebuah ide. Mengapa ia tidak pergi ke makam untuk mengambil barang antik? Bukankah di internet dibilang bahwa ada yang namanya makam kuno,. yang berisi banyak harta
"Vincent, apakah disekitar sini ada makam yang masih belum disentuh?" Tanya Amora, Vincent meliriknya dengan bingung, memang ada tempat seperti itu, tetapi untuk apa seorang gadis pergi kesana
Vincent menelan ludahnya dengan gugup dan mulai menyetir mobil kearah yang ingin Amora tuju sambil berdoa semoga Albert tidak mendengar perkataan mereka.
Tetapi sayang sekali, nyatanya Albert sedang mendengarkan percakapan mereka. Bahkan ia hampir tersedak teh nya sendiri saking kagetnya ketika mendengar Amora ingin pergi ke makam seperti itu.
__ADS_1
Ia segera memanggil Ben dan berangkat menuju kesana dan berharap ia sempat mencegat gadis itu di tengah jalan.
Harapannya tidak terkabul karena kebetulan lalu lintas yang Vincent harus lalui untuk menuju ke makam kali ini terbilang lancar,(dengan bantuan Author juga pastinya).
Mereka sampai di tempat seperti parkiran ini, dengan Vincent memimpin, mereka berdua berjalan melalui jalan setapak yang terbuat dari tanah, suara semilir angin di pepohonan membuat bulu kuduk Amora sedikit berdiri, ia mengingat cerita horor yang pernah ia baca.
"Bruk... bruk.." Suara pukulan terdengar. Amora dan Vincent menghentikan langkah dan saling menatap. Mereka segera pergi bersembunyi di balik pohon
"Aku akan melihat situasi" Vincent berjalan mengendap-endap dengan menyamarkan diri diantara pepohonan, bajunya yang berwarna hijau membuatnya mendapatkan keuntungan.
"Sial, itu tuan besar" rasanya ingin Vincent menjambak rambutnya, ia harus membantu tuan besar atau tetap melindungi Amora saat ini? Ia sangat bingung, akhirnya ia kembali ke tempat Amora berada terlebih dahulu
"Nona Amora, bersembunyilah dulu" Vincent menahan rasa paniknya dan berkata dengan tenang. Amora memandanginya dengan pandangan bertanya
__ADS_1
"Tuan besar dalam bahaya, aku harus melindunginya" Katanya sambil berlari, ia yakin Amora adalah gadis pintar dan bisa mencari tempat persembunyian yang aman.
Amora memandangi Vincent yang lama-kelamaan semakin jauh, Amora tersenyum meremehkan. Untuk apa ia bersembunyi? ia bisa membantu.