
"kakek tenanglah, kita pasti akan menang" Amora menenangkan Tuan Xavier yang terlihat sedang panik. Mereka sedang berada di dalam mobil untuk pergi ke tempat yang biasa Keluarga Guivera datangi, salah satu kasino terbesar di kota X ini
"Benar, tenang saja. Walaupun kita kehilangan kendali perusahaan, kita masih bisa merebutnya di masa depan" Kata Brian yakin, hanya lima tahun sebelum pertaruhan sebelumnya bukan? tidak akan membawa dampak banyak pada mereka juga, keuangan keluarga pasti masih stabil meskipun ada pengurangan yang signifikan didalamnya.
Brian juga seorang dokter dan memiliki rumah sakitnya sendiri, jadi seharusnya kebutuhan mereka masih bisa ia atur untuk hidup seperti sebelumnya, dan lagi pula Rafael juga memiliki perusahaannya tersendiri walaupun tidak sebesar milik ayahnya itu, "lalu kenapa ayah terlihat panik seperti dunia mau kiamat saja" Pikirnya heran
"kakek, kenapa kakek panik. Seharusnya jika kita kalah kali ini tidak ada masalah bukan?" Pertanyaan Amora disambut dengan antusias oleh yang lain, soalnya mereka juga ingin mengajukan pertanyaan yang sama
Xavier memandang Amora yang sedang bertanya sembari menghela nafas, "Memang keluarga kita masih bisa hidup berkecukupan, tetapi bagaimana dengan karyawan yang lainnya. Apalagi kakek merekrut karyawan yang tidak sempurna dan Quinn ingin sekali menyingkirkan mereka karena dinilainya tidak pantas"
Xavier memikirkan banyak karyawannya dari mulai yang berada di pusat maupun yang ada di perusahaan cabang dengan kondisi yang tidak sempurna secara fisik, ia dan Quinn berbeda pendapat soal itu.
Ia berpendapat jika mereka harus diberi kesempatan untuk menutupi kekurangan mereka, lagi pula selain dilihat dari kekurangan yang dimiliki, mereka sebenarnya adalah seorang pekerja keras.
Tetapi Quinn berbeda, ia ingin perusahaan itu sesempurna mungkin, sehingga ia protes ketika Xavier merekrut orang-orang yang menurutnya tidak layak.
__ADS_1
Mungkin karena pola pikirnya itu, banyak rekan kerja yang lebih menyukai Xavier yang apa adanya. Jika mereka menghadap Quinn, akan terasa seperti mereka melihat bos besar sombong yang ada didepan mereka dan bukan seorang rekan kerja.
"huft" Amora menghela nafas, percuma juga ia menenangkan kakeknya jika lima menit kemudian ia kembali ke kondisi awalnya. Amora berdoa semoga Vincent tiba di tempat itu terlebih dahulu dan akan menawarkan diri untuk membantu kakeknya terlebih dahulu.
Jika Vincent datang, maka penjudi mereka tidak perlu bermain. Amora mengeluh, coba saja ia bisa mewakili kakeknya, pasti ia tidak akan berhutang tiga permintaan yang merepotkannya. Sayangnya ia kali ini tidak bisa bertaruh dengan itu karena ia menyadari ada beberapa orang yang bergantung kepada kakeknya di GuQu
"Kita sampai" Suara Xavier membuat lamunan Amora buyar, ia suka sekali menatap pemandangan luar dari jendela mobil, lampu-lampu di pinggir jalan itu sangat indah saat di malam hari.
Amora menghela nafas dan keluar dari mobilnya, ia mengikuti kakeknya memasuki kasino dan menaiki tangga keatas. Amora melihat ke sekeliling tetapi tidak menemukan Vincent dimana pun. Apakah Tuan Frins itu ingkar janji? Jika benar demikian, ia akan sangat kesal kepadanya.
"haha Xavier, silahkan masuk" Tuan Quinn menyambutnya dengan tangan terbuka, kakeknya hanya tersenyum sopan sambil duduk di samping meja bundar yang ada di tengah ruangan. Terlihat penjudi Tuan Quinn sedang menatapnya, ia memakai jas hitam sama seperti perwakilan mereka
Penjudi mereka duduk di kursi kosong yang ada di seberang orang itu, Xavier dan yang lainnya duduk di meja lain dimana makanan ringan sudah menunggu mereka
"Baiklah tuan-tuan, saya akan mulai membagikan kartu" kata dealer penjaga setelah kedua pihak bercakap sopan sebagai pembukaan.
__ADS_1
Amora kini mengutuk hingga generasi ke-18 tuan Frins, bahkan Albert pun dia kutuk juga mengingat perlakuan menyebalkannya kemarin
Kini kedua orang yang duduk di meja bundar itu terlihat fokus, berbeda dengan Tuan Quinn yang terlihat santai, kakeknya sangat tegang melihat mereka berdua, Amora mengetahuinya dari tangan gemetaran kakeknya saat hendak menuang teh
Ia sendiri memperhatikan kedua orang itu dan kemudian merasa heran, mengapa dirinya bisa melihat kartu yang dimiliki oleh kedua orang itu? Apakah sebaiknya ia yang mewakili permainan ini. Ya, Amora berniat untuk melakukan itu di babak selanjutnya
Babak pertama mereka kalah, Xavier menghela nafas kecewa sementara Tuan Quinn tertawa sambil meminum sampanye nya. "kakek, biarkan aku yang mewakili" Amora berbisik ke telinga kakeknya dan membuat orang tua itu tersedak.
"apakah kamu mengerti caranya bermain kartu?" Tanya Xavier heran. Amora terlihat berpikir lalu ia menggeleng "Tidak tahu, tetapi aku ingin mencoba" Amora berkata jujur
"Tapi aku tidak bisa membiarkanmu mencoba saat ini, jika kamu entah bagaimana bisa menang, Tuan Quinn akan mengincarmu karena dendam dan kakek tidak bisa mengikutimu terus-menerus bukan?" Xavier menggeleng, merasa terharu akan inisiatif cucunya untuk membelanya, tetapi ia paham konsekuensi akan hal itu.
Amora mengangguk mengerti, ia belum mengokohkan sayapnya di dunia ini, jadi ia masih harus menyembunyikan dirinya terlebih dahulu. Amora melihat dengan kecewa kearah perwakilan milik mereka yang sedang memakan hidangan ringan, setiap babak terdapat waktu istirahat selama 10 menit.
Amora mengutuk kembali Tuan Frins yang mengingkari janji dan kecewa dengan dirinya sendiri, mengapa ia begitu mudahnya percaya dengan orang lain? bagaimana ia bisa lupa pelajaran tentang kepercayaan yang ia dapatkan di kehidupannya yang lalu!
__ADS_1