
"lama sekali" Albert mengomel kecil sambil menunggu Amora yang masih sibuk berdandan di dalam kamar, sesekali ia melihat kearah jam tangannya dan menghitung berapa lama waktu ia menunggu tikus kecil satu itu
"Sangat lambat, seperti siput saja" Ledek Albert dingin ketika Amora membuka pintu kamarnya. Amora memandang laki-laki yang sedang duduk di sofa itu dengan kesal. Lihat saja, bahkan posisi duduk Albert saat ini sangat mengesalkan! Kaki kanannya dinaikan keatas kaki kiri, tangan dilipat, dan matanya memandang sombong kearah dirinya
Amora hanya tersenyum datar dan bergumam tidak jelas seolah ia meminta maaf. Albert yang sudah tidak sabar memimpinnya untuk keluar dari hotel dan masuk ke mobilnya. "Kita akan menjemput Kevin dan Ben terlebih dahulu bukan?" Tanya Amora memastikan, ia tidak mau berduaan di mobil bersama muka tembok ini lagi
"Menurutmu?" Albert bertanya sambil menaikkan alisnya, bukankah itu jawaban yang sudah jelas, tentu saja mereka tidak akan menjemput keduanya dan hanya akan bertemu di tempat yang sudah ditentukan. Amora memutar matanya, ia tidak mau mati karena marah hanya karena Albert, ia membuka pintu belakang dan duduk di sana
"Ngapain?" Tanya Albert datar. Amora tidak mengerti apa yang ia maksud sehingga ia tidak merespon apapun. Albert menunggu lama, tetapi Amora tidak juga pindah ke kursi depan dan hanya memandang layar handphonenya saja dengan cueknya
"duduk di depan" Albert memerintahkan. "eh?"Amora terlihat bingung, kemarin saja Albert juga duduk dibelakang ketika ia menyetir, berarti ia juga boleh.
"sebaiknya aku menyewa sopir" kata Albert, lalu ia membuka pintu mobilnya. "Iya iya, aku pindah" Amora berkata kesal, ia menutup pintu belakang dengan cara membanting pintu itu dan membuka pintu depan. Masalahnya adalah jika ia tidak pindah, si muka dingin itu akan duduk di belakang, lebih tepatnya di sampingnya. Itu sama saja, bahkan lebih menyebalkan
__ADS_1
Albert kembali masuk ke dalam mobil dan duduk lagi, ia tersenyum melihat tikus kecilnya yang sedang marah seperti ini. Dia bukan kucing, jadi mengapa Tikus kecil ini kelihatan ingin menghindarinya
"Sabuk pengamannya" Ucap Albert, ia menunjuk sabuk itu dan segera saja Lilla memasangkannya, takut jika Albert tiba-tiba melakukan itu untuknya.
"udah ayo berangkat, tunggu apa lagi?" Katanya kesal. Memandang Albert dengan tatapan menusuknya. Sayangnya, tatapan menusuk itu tidak mempan kepada si muka dingin itu, lihatlah bukan hanya dia tidak takut, bahkan muka Albert sedang menunjukan bahwa ia sedang menahan tawanya saat ini
"Baiklah Nona cerewet" Ucap Albert, ia menjalankan mobilnya, memasuki jalanan yang lalu lintasnya terbilang ramai ini
"Mereka menunggu di dalam, ayo keluar" kemudian ia membuka pintu dan keluar begitu saja, meninggalkan Amora yang menatapnya bingung. "nona?" Tanya seorang pelayan, ia bertugas untuk memakirkan mobil tamu yang datang, dan heran ketika mengetahui Amora tidak kunjung turun dari mobil.
Amora tersadar dan kemudian keluar juga, menyusul Albert yang sudah jauh di depannya
"dimana Albert?" gumamnya, ia mencari Albert di kerumunan orang ini sambil memperhatikan keanggunan nya, ternyata hal itu tidak perlu terlalu dipusingkan, lihat saja orang-orang ini hanya mengabaikannya. Amora mengambil minuman dan berjalan menuju kursi terdekat
__ADS_1
"emang ya bos itu parah banget" Ben tiba-tiba duduk di sebelah Amora, hampir saja minumannya ia semburkan. Akhirnya ia terbatuk untuk menyamarkannya
"Halo nona Amora" Ben tertawa kecil ketika melihat respon Amora yang seperti itu, ia mengambil sapu tangan dari balik jas nya dan memberikannya kepada Amora
"Terima kasih" Amora lalu mengambil sapu tangan tersebut, mengelap minuman yang berantakan di bibirnya. "Lalu, kemana si muka dingin itu?" Amora berkata datar. Ia lumayan kesal dengan Albert karena ia pergi meninggalkannya begitu saja barusan
"Tidak tahu, mungkin seperti biasanya, ia saat ini sedang dikelilingi banyak orang yang sedang menjilat mungkin" Vincent meneguk anggurnya, ia melihat Albert berada di kejauhan berada di tengah-tengah kerumunan.
Amora berpikir itu mungkin saja. Baguslah, ia sedang tidak ingin berbicara dengan orang lain terutama si muka dingin itu. Jadi ia berdoa semoga Albert tidak mempunyai pikiran untuk datang menghampiri dirinya
Ia melihat meja bundar yang ia tempati bersama Ben saat ini, meja ini terletak di bagian belakang sehingga tidak ada orang yang berminat duduk disini. Entah karena mejanya atau karena dirinya yang membuat orang-orang itu tidak ingin duduk disini. Walaupun Amora tidak terlalu peduli.
Masih tersisa delapan bangku kosong disini! Ia berdoa akan bertemu dengan kakek atau siapapun yang ia kenal sekarang, jadi mereka bisa menempati kursi yang kosong ini
__ADS_1