
"Pluk" Kepala Amora merasakan ada yang mengganjal di belakangnya, ia menyingkirkan benda itu tetapi tidak juga merasa nyaman
"apaan sih ini" Gumamnya kesal, ia akhirnya terbangun dengan kondisi tidak rela dan melihat si muka dingin sedang memerah mukanya. "ada apa?" Tanyanya heran, si muka dingin menggeleng, terlihat olehnya Albert sedang menarik nafas dan mukanya kembali ke muka sedatar tembok yang biasa ia tunjukkan
"kamu meniduri bahuku, pegal sekali rasanya" Albert memijat bahunya, mencegah Amora mengetahui kebenarannya. Amora merasa bersalah, tetapi mengapa si muka dingin ini tidak membangunkannya saja supaya ia bisa pindah.
"Membangunkan dirimu? Sudah aku lakukan berulang kali, tanya saja Ben. Aku hampir akan melemparkan dirimu keluar mobil jika saja Ben tidak menahan ku" Albert mengomel, Amora melihatnya dengan takjub, orang datar ini bisa mengomel juga rupanya
"Ya sudah, aku juga minta maaf karena seharusnya aku tidak tertidur" Suara Amora juga sedikit lebih lembut daripada biasanya, tidak melengking tinggi seperti ketika ia mengobrol dengan Albert seperti sebelumnya
Albert merasa syok mendengarnya, tikus kecil ini mengapa tiba-tiba suaranya menjadi lembut, apakah ia sakit tenggorokan atau semacamnya itu, ia bimbang mengenai apakah ia harus membawa Amora ke dokter THT saat ini juga
Tetapi pada akhirnya ia tidak melakukannya, ia merasa bagus juga jika tikus kecilnya tidak berbicara dengannya seolah ia terjepit sehingga menghasilkan nada suara yang tinggi
"Aku pergi dulu" Amora menyadari bahwa Ben sudah tidak ada dan hanya ada mereka berdua di dalam mobil, ia membuka pintu mobil dan berjalan keluar. Tentu saja Albert mengikutinya
__ADS_1
"Sudahkah kamu mengunci pintu mobil" Amora menatap datar kearahnya sembari bertanya. Sama seperti dugaannya, lelaki ini belum mengunci mobilnya sama sekali dan hanya meninggalkan kunci mobil di dalam.
Amora menepuk dahinya kesal, ia berbalik untuk mengambil kunci itu sekaligus mengunci mobilnya. Albert yang melihatnya tersenyum, walaupun ia tidak mengunci mobil juga pasti tidak akan ada yang mengambilnya, lihat saja berapa banyak orang yang mengawasinya saat ini
Amora membuka tangan Albert dan menyerahkan kunci mobilnya, "Jika mobil saja hilang, bagaimana kamu bisa mempertahankan apa yang menjadi milikmu" Amora mendengus kesal, si Albert ini seolah-olah tidak peduli dengan apa yang dimiliki olehnya dan hanya meninggalkannya begitu saja setelah digunakan, entah mengapa hal itu sedikit mengganggu Amora
Albert masih terdiam di tempatnya sementara Amora sudah berada dua langkah di depannya. Albert tersenyum ketika menyadari ada kata-kata tersembunyi di balik ucapan tikus kecilnya
"Tenang saja, aku tidak akan meninggalkan apa yang menjadi milikku" Ia berkata seperti itu sambil menghadang Amora, ia tersenyum lebar sambil menatap manik mata gadis itu
Amora memutar matanya kesal dan berbelok ke kanan, tetapi Albert juga melakukannya. "Ck" Albert mendecakan lidahnya
"silahkan duluan Nona" menggunakan kedua tangannya, Albert seolah menunjukkan jalan kepada Amora. Gadis itu berjalan dengan langkah besar sampai...
"bahaya!" Seru Amora, ia menarik Albert menunduk tepat saat sebuah peluru melewati mereka. Albert langsung bertindak cepat, ia berlindung ke sisi dinding yang bisa menghalangi mereka dan mengeluarkan pistolnya dari balik jas.
__ADS_1
"Dor.. Dor.." Dua tembakan dilepaskan. Anak buah Albert juga keluar saat bunyi pistol terdengar dan merasa senang ketika melihat bosnya hidup. Mereka lalu memasang penghalang bundar di sekitar Albert dan menembakkan peluru kearah musuh
Seru sekali! Amora merasa tegang saat ini, tetapi ia merasa ini agak menyenangkan. Yah, asal tidak ada peluru nyasar di kepalanya secara tiba-tiba saja, tetapi dengan kejadian ini akhirnya dia bisa menyadari bahwa gelangnya bisa berguna dalam keadaan seperti ini
Tadi ia seolah bisa melihat tempat jatuhnya peluru dan secara spontan ia langsung menarik Albert agar ia tidak celaka.
"menunduk saja tikus kecil" Albert mendorong kepala Amora kebawah, ia merasa was-was jika tiba-tiba saja kepala Amora lah yang diincar oleh mereka, jadi ia berusaha menyembunyikan kepala Amora di balik tinggi para anak buahnya
Amora memegang tangan Albert yang ada diatas kepalanya dan menyingkirkannya, ia ingin melihat tembak-menembak itu, ia juga bingung kenapa ia menyukai hal itu, padahal di zamannya yang lalu ia sangat takut jika ada orang yang memegang pistol.
Tentu saja karena di zamannya yang dulu tidak ada cincin yang bisa membuatnya merasa aman. Ia menjadi tertarik saat ini, mengapa cincin ini bisa membuatnya mendapat kekuatan super, sepertinya ia adalah reinkarnasi dari seorang dewi yang kuat di masa lalu.
Albert yang melihat tikus kecil itu sedang tersenyum sendiri merasa aneh, apakah Amora yang mengirim pasukan ini untuk menghabisi dirinya, tetapi untuk apa Amora menyelamatkannya jika berniat untuk membunuhnya
Pasti ia ada rencana lain yang lebih berbahaya, jika tidak mengapa ia tersenyum sambil melihat kearah orang-orang yang sedang ditembak oleh anak buahnya. Pandangan matanya menjadi agak dingin ketika ia memikirkannya
__ADS_1
Apakah ia bekerja sama dengan seseorang bernama Daniel itu! ya, itu bisa saja. Albert menggelengkan kepalanya, ia mencoba menjauhkan pikiran buruk itu dari kepalanya, sekarang bukan waktunya yang tepat. Albert tadi sudah menghubungi Vincent yang pasti saat ini sedang menuju kemari