Jodoh Sandiwara

Jodoh Sandiwara
21. Barang antik


__ADS_3

Dalam keadaan kesal ia segera meminta supirnya mengantar dia untuk datang menemui ayahnya yang sekarang sedang bekerja di bank, ia berjalan tergesa-gesa menuju kantor ayahnya yang berada di lantai dua.


"Tok.. tok.. tok.." Setelah mengetuk pintu ia langsung saja masuk, Ketika Viera memasuki ruang kerja ayahnya, ia melihat rekan kerja ayahnya yang lain. Ayahnya melihat mukanya yang kesal dan bertambah kesal akibat anaknya, ia menyuruh rekan kerjanya untuk menunggunya di ruan tunggu.


"Ayaaahhh...." Viera merajuk, ia menekuk mulutnya berharap ayahnya akan menghiburnya seperti biasa tetapi kenyataan berkata lain.


"Anak manja! sepertinya aku terlalu memanjakanmu" Ayahnya berteriak, Viera kaget dan melihat muka Vian yang marah, kata-kata keluhan yang ingin ia ucapkan ditelannya kembali.


"Ayah?" Tanya Viera pelan


"Jangan panggil aku ayahmu, aku tidak mempunyai anak bodoh sepertimu lagi" Seru Tuan Vian, ia memandang anaknya dengan perasaan menyesal, mengapa anaknya ini tidak bisa membedakan mana orang yang dapat disinggungnya dan mana yang tidak


"Ada apa sebenarnya ini ayah" Viera yang cerdas segera merasa ada sesuatu yang salah, ia mengubah sikap manjanya dan bertanya secara logis, tentu saja Viera dapat berpikir cerdas, jika tidak bagaimana ia bisa membuat ayahnya menuruti semua kata-katanya, ia hanya kelewat manja saja.


Vian menghela nafasnya, anak bodoh ini hanya kurang wawasan untuk orang-orang tinggi yang berada di atas mereka. "Apakah kamu tahu siapa yang barusan kamu singgung itu?" Vian bertanya. Viera menggeleng karena ia tidak mengetahuinya


"Dia adalah Aileen Amora dari keluarga Mora.." Ayahnya menyebutkan nama gadis yang lebih tua yang ia temui barusan.


"Keluarga Mora? bukankah Hou lebih besar daripada mereka?" Tanya Viera bingung, keluarga Mora tidak ada apa-apanya dibandingkan keluarga Hou mereka.

__ADS_1


"mengapa aku melahirkan anak bodoh sepertimu, jika dia hanya anggota normal keluarga Mora aku tidak akan marah seperti ini, tetapi orang itu berhasil menemukan kelemahan sistem bank kita. Bisa kamu bayangkan apa yang terjadi jika kita menyinggung orang seperti itu?" Tanya Vian


Viera mengangguk "Aku mengerti ayah, aku akan meminta maaf padanya nanti", Vian menghela nafas, untung saja anak itu cepat mengerti.


"hatchu" Amora bersin sekali dan mengusap hidungnya yang masih gatal. "siapa yang mengutuk diriku di belakangku" Ia berkata sebal, cuaca hari ini panas dan tidak mungkin ia kedinginan jadi hanya ada satu kemungkinan yaitu ada seseorang yang membicarakan dirinya di belakangnya 


"Tapi gelang ini aku apakan, tidak mungkin aku memberikannya kepada tuan Frins bukan? ia adalah seorang laki-laki yang tidak akan menyukai gelang seperti ini" Amora memandangi gelang di tangannya, ia dari tadi masih berjalan-jalan melewati banyak kios barang antik dan terkadang memasuki salah satunya tetapi ia tidak menemukan benda yang menurutnya asli


"untukku sajalah, daripada gelang lima juta ini tidak berguna" Amora kemudian memutuskan, ia memakainya di tangan kanannya dan mendapati tangannya seperti tersetrum


"Aduh" Merasakan arus listrik yang semakin besar, Amora segera mencopot gelang itu. Tetapi gelangnya sama sekali tidak bisa dilepaskan sama sekali, ia menariknya dengan sekuat tenaga namun hasilnya tetap nihil


Gelang itu perlahan menyatu dengan kulitnya, "tunggu, menyatu dengan kulitku? Author jelek, cerita apa yang kamu buat denganku" Amora mengutuk si pembuat cerita


"dik, apakah kamu tidak apa?" Tanya sebuah suara, Amora menatapnya dengan aneh. Apa ini?, apakah ia sudah meninggal? ataukah ia bereinkarnasi ke tubuh orang lain lagi? yah bagus lah setidaknya ia tidak meninggal karena gelang jelek ini.


"adik?" Tanya orang itu lagi. "tahun berapa ini sekarang" Amora bertanya lagi, orang itu menatapnya aneh


"Tahun 2020, ini adalah toko milikku, aku membawamu kesini karena melihatmu pingsan di tegah pasar" kata orang itu, Amora bersyukur, rupanya ia tidak mati atau pun berpindah zaman lagi karena itu pasti akan sangat merepotkan

__ADS_1


"dan Anda?" Tanya Amora kepada orang tua itu. "perkenalkan namaku Xie, aku pemilik toko antik Xiefang ini" Bos itu memperkenalkan dirinya, Amora mengangguk dan menatap ke sekelilingnya, ia sedang berada di sebuah kamar, mungkin saja itu adalah tempat istirahat Tuan Xie yang ia temui


"Terima kasih Tuan, sebaiknya aku segera pergi sekarang" Ia bangkit dari tempat tidurnya, Xie memimpin jalan, menuruni tangga dan melewati barang antik yang ditaruh diatas rak-rak kayu.


"Sebentar" Amora berhenti di depan guci putih, ia melihat guci ini mengeluarkan cahaya putih samar di sekelilingnya, ia melihatnya lebih dekat lagi dan rupanya matanya tidak salah


Ia mundur karena terkejut dan melihat kearah barang yang lainnya, ia mendapati barang lainnya tidak bercahaya sama sekali kecuali sebuah pajangan naga yang juga bersinar. Ada apa dengan matanya?


"apakah barang ini asli?" Amora bergumam kecil, ia pernah membaca tentang mata sakti ketika ia yang dulu masih hidup sebagai Alisha, rupanya kejadian itu nyata dan bukan hanya sekadar khayalan saja.


Matanya bersinar, jika ia bisa melihat barang yang asli, Amora akan mudah menjadi orang kaya. Ia memutuskan untuk membeli keduanya


"Bos, berapa  harga kedua barang ini?" Tanyanya, Bos itu terlihat berpikir, sepertinya nona di depannya ini menyukai kedua barang itu, ia bisa menjualnya dengan harga mahal sepertinya


"untuk nona manis ini aku akan memberi harga satu juta lima ratus untuk kedua barang itu" katanya menatap Amora


"Mahal sekali, lima ratus ribu dan tidak kurang" Amora sekarang sadar seharusnya jika ia ingin membeli barang antik ia tidak boleh menunjukkan muka tertarik terlebih dahulu


"Terlalu mahal, sembilan ratus ribu" Rupanya Tuan Xie berpikir itu terlalu rendah

__ADS_1


"tujuh ratus ribu, jika tidak bisa aku akan pergi membelinya di toko lain" kata Amora, Xie terlihat sedang berpikir dan akhirnya setuju. Ia membungkus kedua barang itu dan memberikannya kepada Amora.


Amora berjalan keluar sambil menenteng dua barang antik, ia segera pergi ke tempat dimana bisa mengetahui apakah barang antik itu asli atau palsu. Di sepanjang perjalanan ia melihat barang-barang yang bercahaya dengan jumlah yang lumayan banyak, Amora menahan dirinya untuk tidak membeli semuanya terlebih dahulu


__ADS_2