Jodoh Sandiwara

Jodoh Sandiwara
14. Mari berteman Amora


__ADS_3

"Itu temennya  yang lagi tidur tolong dibangunkan" Tia menunjuk Amora yang sedang tertidur di kursinya, pelajaran akan dimulai tetapi ia masih saja tertidur. Amora kemudian dibangunkan oleh seorang gadis yang berada dibelakangnya, dengan nyawanya yang masih setengah ia terbangun lalu melihat kearah depan.


"Maafkan saya bu, saya semalaman begadang untuk belajar" Amora beralasan, guru itu melihatnya tidak percaya, murid didepannya ini pasti berbohong, "Baguslah, ibu yakin kamu akan mendapatkan nilai 90 untuk ulangan ini bukan?" kata Tia lagi, ia memberi kertas soal didepan Amora yang kebingungan.


Ternyata benar hari ini ulangan! tetapi tunggu, bukankah otak gadis ini sangat buruk jika dipakai berpikir? bagaimana ini! Amora kemudian melihat kearah kertas ujian.


Tidak susah ternyata!, materi sejarah yang ditanyakan adalah hal yang ia baca selama hidupnya di masa lampau, dengan begitu Amora dengan lancar mengerjakan ujian sampai nomor terakhirnya, ia kemudian meletakkan tangannya kembali dan tertidur lagi.


Tia yang sedang mengawasi muridnya menggeleng ketika melihat kearah Amora, ia yakin Amora akan gagal dalam ujian ini


Ulangan pun berakhir, bel yang menandakan prlsjaran berakhir pun berbunyi dan terdengar suara siswa yang mengeluhkan tentang waktu yang berjalan sangat cepat. Kertas ulangan satu kelas dikumpulkan di meja depan dan Tia membawanya untuk diperiksa.


Ketika siang hari tiba, Bel istirahat untuk makan siang pun berbunyi, semua anak bersorak dan segera menuju ke kantin, Amora juga berjalan sambil terkadang menguap.


Di sepanjang koridor ia merasa murid-murid yang lainnya sedang menunjuk dirinya sambil berbisik dengan teman sebelahnya, Amora mengangkat bahunya tidak peduli dan terus berjalan.


Ia membeli makanan dan berjalan ke meja untuk memakannya, tetapi di tengah jalan seorang murid yang sedang bermain kejar-kejaran dengan murid lainnya tidak sengaja menabraknya


"prang" bunyi piring jatuh berbunyi nyaring di kantin, ia segera menjadi pusat perhatian. Anak yang menabraknya menyadari siapa yang telah ia tabrak dan segera gemetar ketakutan.


"Maafkan aku" kata anak itu kecil, ia yakin kaka kelas didepannya ini akan mengamuk kepadanya seperti rumor yang beredar.


"Mengapa kamu ketakutan seperti itu, aku tidak memakan manusia" Kata Amora diakhiri dengan tertawa kecil. "Eh?" Anak itu bingung.

__ADS_1


"Apakah kamu tidak apa, kuah mie ini sangat panas" Amora mengkhawatirkan anak itu apalagi ketika dilihatnya baju seragam anak itu basah terkena kuah. Anak itu menggeleng.


"Siapa namamu?" Amora menanyakan namanya, "Diandra" Anak itu menjawab, Amora mengangguk dan mengeluarkan uang dari dompetnya.


"Oke dian, kamu bisa membeli baju yang baru dengan uang ini" Amora memberikan beberapa lembar uang kepadanya, gadis itu masih bengong melihatnya, Amora segera mengusirnya karena ia kelaparan saat ini dan perlu makan, anak itu berlari pergi dengan rasa terima kasih.


Amora kemudian membeli lagi mie yang sama dan mulai makan sampai ia melihat lima orang gadis mendatangi dirinya, Amora menahan dirinya sendiri untuk tidak kesal.


mereka akan membuat mie nya dingin, mie yang dingin sangat tidak menggugah seleranya. ia menengok keatas, kearah seorang gadis yang sedang berkacak pinggang.


"Ada apa" katanya dingin, gadis itu terkejut dengan suaranya yang dingin dan untuk sesaat tidak bisa berkata-kata.


"Sejak kapan nona besar memakan mie rendahan di kantin ini" Orang itu mengejeknya, dari ingatannya Amora mengetahui nama gadis ini adalah Kiara, salah seorang penyuka mantan tunangannya.


"Bukankah kamu sangat anti dengan barang murah" Seseorang menimpali, Amora memandang Fani yang menatapnya tidak suka. "Ini bukan mie murah kok, jahat sekali kamu berkata seperti itu" Amora menyalahkan Fani.


"Bu.. bukan itu maksudku"muka Fani memerah apalagi melihat semua orang memandangnya dengan pandangan meremehkan.


"Sudahlah kalian pergi saja, bikin aku tidak nafsu makan saja" Amora mengusir mereka, tetapi mereka tidak segera beranjak dari tempatnya.


"Pergilah kalian" Suara seorang laki-laki terdengar, itu Noel, laki-laki yang tadi pagi menolongnya. Ia datang dengan dua orang anak laki-laki juga sambil membawa nampan.


"iya, ganggu tau ga" Anak laki-laki itu juga terganggu, "Bukan begitu Noel, Amora yang mulai duluan" Fani berdalih, mengapa doi nya membela Amora yang arogan ini sekarang.

__ADS_1


"yaudah pergi aja" Noel mengusir mereka, mereka memandang Amora dengan permusuhan lalu mengangkat kaki mereka dan pergi.


"Huft" Amora menghela nafas lega, jika pandangan bisa membunuhnya ia sudah terbunuh dari tadi, untungnya tidak bisa.


"Terima kasih" Amora berterima kasih kepada ketiga orang yang langsung duduk di kursi kosong di meja nya, "tidak keberatan bukan?" Noel bertanya lagi, Amora menggeleng dan mereka segera duduk dan makan.


"Ngomong-ngomong namaku Rafael, dan dia Taqi. Lalu di depanmu itu Noel" Rafael memperkenalkan dirinya sendiri sambil mengunyah makanannya.


"Salam kenal, namaku Amora" kata Amora memperkenalkan dirinya.


"Kalian itu, kunyah dulu baru ngomong" Taqi melihat kearahnya dan menasihatinya, Amora dan Rafael tertawa pelan sambil meminta maaf.


Mereka kemudian menghabiskan makanannya sambil berbincang, tentu saja diselingi oleh omelan Taqi yang menasihati mereka agar tidak berbicara ketika makan.


"Aku dengar kamu memutuskan pertunanganmu dengan Bernard, apakah itu benar?" Tanya Rafael penasaran. Amora menghela nafasnya, kabarnya sudah tersebar rupanya.


Amora mengangguk membenarkan pertanyaan dari Rafael, "Baguslah, aku heran mengapa perempuan sepertimu mau menjadi tunangan dari sampah sepertinya" Cibir Rafael, Amora kini mengerti bahwa Rafael tidak terlalu menyukai Bernard.


"Perempuan sepertiku? Perempuan arogan dong" Amora terkekeh kecil mengingat rumor yang tersebar. "Kamu tidak arogan sama sekali" Rafael berkata yakin, pembicaraannya dengan Amora barusan membuatnya mengubah persepsinya.


"Benar" Taqi juga mendukung pernyataan Rafael, kelihatannya Noel juga mendukung pendapat itu. "Mari kita berteman Amora" kata Rafael sambil memberi Amora udang yang ada di piringnya ke piring Amora.


"dasar, Bilang saja kamu tidak suka udang" Taqi mendecakkan lidahnya sementara Rafael tertawa.

__ADS_1


"Amora!" seseorang memanggilnya, "Mulai lagi dah" Amora bergumam kecil tetapi mereka bertiga dapat mendengarnya. Mereka melihat seorang gadis sedang berjalan kearah mereka.


__ADS_2