Jodoh Sandiwara

Jodoh Sandiwara
53. Panggil Dokter!!


__ADS_3

"terima kasih" Bocah kecil itu berterima kasih kepadanya, Amora mengangguk, ia mencoba menghilangkan rasa kantuk dalam dirinya, ia tidak tahu mengapa tiba-tiba saja rasanya ia ingin tidur saat ini juga


"Kamu baik-baik saja?" Tanya bocah itu agak panik. Bocah itu pernah membaca bahwa kekuatan yang dikeluarkan juga berdampak buruk ketika orang itu menggunakannya, apakah gadis di depannya juga begitu?


Amora menggeleng, ia membeli kopi di mesin penjual otomatis yang kebetulan ada di dekat mereka dan meminumnya, rasa kantuknya kemudian menghilang sedikit setelah ia menghabiskan kopi itu.


"Perkenalkan namaku Sean Asher, kamu bisa memanggilku Sean" Anak itu memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangannya.


"Ainaya Amora, kamu bisa memanggilku Amora" Amora balas menjabat tangan Sean. "Kenapa tidak Ai saja?" tanya Sean bingung, Amora menggeleng, tentu saja itu ada alasan tersendiri


Di zamannya yang dulu, orang-orang memanggil kekasihnya dengan sebutan Aiai yang berarti sayangku, ia sangat tidak suka dengan panggilan itu, jadinya ia terpaksa menggunakan nama belakangnya saja.


Melihat Amora yang tidak mau menjelaskan lebih lanjut, Sean mengangguk, ia saat ini bingung harus mengobrol tentang apa dengan Amora.

__ADS_1


"Aku harus kembali sekarang, sampai jumpa nanti" Amora melihat jam nya lalu terburu-buru berdiri, bahkan sebelum Sean menemukan topik apa yang ingin dibicarakan.


"Sebentar, dimana kamu tinggal. Aku akan mengantarkanmu" Sean berkata dengan tergesa-gesa. Amora berhenti melangkah dan melihat kearah Sean, bagus juga jika ia diantar menggunakan mobil dan bukan berjalan kaki. Pasti polusinya sudah banyak jika ia berjalan kaki saat ini, dan kebetulan bocah yang terlihat kaya ini ingin mengantar dirinya


"Di Hotel Goldentry" Amora menjawab. Sean terlihat senang ketika mendengar jawaban Amora, tentu saja alasannya karena ia juga tinggal disitu saat ini.


"Aku juga kebetulan tinggal disana, jadi aku bisa sekalian mengantarmu" Kata Sean sambil menelpon supirnya. Tidak lama kemudian pak sopir pun datang dengan membawa mobilnya, walaupun Amora tidak mengetahui merk mobil ini, ia masih mengagumi model dari mobil yang ia naiki saat ini


Mobil pun berjalan secara sedang, tidak lama kemudian mobil pun sampai ke hotel Goldentry yang dimaksud karena memang lokasi taman yang tidak terlalu jauh dari sana.


"lantai paling atas" Katanya, anak itu terkejut mendengar jawaban dari Amora, bukankah katanya lantai paling atas hanya ditempati oleh sang pemilik hotel? apakah Amora lah yang memiliki hotel ini? Sean mengangguk maklum, tentu saja untuk dokter hebat seperti dirinya pasti lah mempunyai kekayaan yang tidak sedikit.


Amora berpisah dengan Sean di lift. Cowok itu turun di lantai 5 sedangkan Amora naik terus keatas. Setelah pintu lift terbuka, Amora segera keluar, ia merasa sangat mengantuk saat ini.

__ADS_1


Membuka pintu dan menatap pintu heran mengapa password yang ia masukkan selalu salah, ia mencobanya lagi kali ini dengan pelan, memastikan angka yang ia masuki sudah benar. Tetapi tetap saja pintu tidak terbuka, dan perlahan mata Amora tertutup, tubuhnya bersender ke pintu sambil tertidur.


Albert yang mendengar alarm rumahnya tertawa kecil, ia lupa memberitahu kepada hal kecil itu bahwa password kamar mereka diganti tadi malam, ia menunggu gadis itu menelfonnya untuk meminta tolong tetapi tidak ada telefon masuk sama sekali darinya.


Dengan panik ia melesat keluar kamar, menuju ke pintu depan dan melihat dari lubang intip, ia hanya melihat botol minum yang familiar tergeletak di lantai tetapi tidak melihat Gadis yang membawanya.


Langsung saja ia membuka pintu, tiba-tiba saja ketika pintu terbuka ada benda yang jatuh kearahnya, dengan sigap ia langsung menangkapnya dan melihat benda itu tidak percaya, itu bukan benda ternyata, tetapi Amora yang sedang tertidur


"Syukurlah" Gumamnya dalam hati, ia tadinya mengira musuhnya beraksi lagi dan mencoba menculik Amora kali ini, untungnya bukan itu yang terjadi. Tapi tunggu, Albert langsung melihat dengan panik kearah muka Amora yang pucat seperti mayat hidup itu.


"Vincent, panggilkan dokter sekarang" Albert langsung berteriak. Vincent dari dalam kamarnnya langsung keluar dan melihat bosnya dengan bingung, awalnya ia ingin bertanya ada apa, tetapi ketika melihat Amora yang sedang terbaring di pelukan bos nya dan mukanya terlihat pucat, ia langsung menghubungi dokter pribadi milik Albert


 

__ADS_1


(oke sampe ketemu minggu depan, entah hari apa pokoknya minggu depan aja)


__ADS_2