
Mereka pun sampai di ibu kota negara, Beijing. Dua mobil berwarna merah mengkilap menunggu mereka saat keluar dari bandara. Dengan menghela nafas Amora memandang Albert yang duduk di sebelahnya, tadinya ia ingin satu mobil dengan Vincent atau Ben tetapi entah mengapa mereka sudah memasuki mobil yang pertama dan langsung jalan, jadi ia ditinggalkan berdua bersama si muka dingin bodoh ini
"Ga masuk?" Amora masih mengingat pertanyaan Albert ketika ia hanya terdiam memandangi bagian dalam mobil ketika membuka pintu
"Aku memang tampan, tapi kamu jangan terpesona sampai mematung seperti itu" Amora terkekeh, Amora menginjakkan kakinya sebal dan segera masuk ke dalam mobil.
Kini ia sedang melihat Albert dengan sebal, laki-laki itu tidak menghiraukannya sama sekali walaupun Amora yakin ia sadar akan tatapannya saat ini.
"bruk" Amora menginjak kakinya seperti sumpahnya tadi pagi yang akan menginjak kaki Albert ketika bertemu dengannya. Injakannya membuat Albert menoleh.
Responnya setelah itu membuat Amora bertambah sebal, Albert menaikkan satu alisnya yang tebal dengan pandangan bertanya tetapi ia tidak mengatakan apapun melainkan langsung menoleh dan tidak menatap Amora lagi
"Apa maksudmu menyebarkan perjanjian itu di depan kakekku, jika orang lain yang menyebarkan, beliau pasti akan berpikir itu adalah Hoax tetapi lain cerita jika kamu yang menceritakan" Amora bersungut kesal, Albert menoleh kembali dan melihat muka Amora yang cemberut, perempuan ini seperti anak manja saja!
__ADS_1
"Bukankah seperti itu perjanjian kita? Atau kamu ingin membatalkannya? Kejam sekali, padahal aku sudah membantumu, kamu ingin memutuskan jembatan setelah menyebrang? Ataukah kamu takut ada seseorang yang mendengarnya jadi kamu.." Albert terus mengoceh, membuat Amora pening.
"Berhenti, jangan bawel" Amora memegang kepalanya, apakah orang ini baru saja sarapan menggunakan kata-kata sehingga ia menjadi bawel seperti ini? Bukankah dia itu datar dan dingin seperti tembok yang terbuat dari es?
Melihatnya, Albert tersenyum, terkadang orang yang bawel belum tentu suka di balas kebawelannya, itu adalah trik yang Albert pelajari akhir-akhir ini untuk bisa membuat perempuan di sampingnya terdiam
Sepanjang perjalanan Amora menutup mulutnya dan lebih fokus melihat kearah pemandangan, itu lebih baik daripada dibuat marah sampai mati oleh Albert. Albert pun tidak berusaha mencari topik dengan perempuan tersebut sehingga keadaan mobil pun hening.
Di kursi depan sang sopir sudah gugup sedari Albert mengucapkan lebih dari lima patah kata tadi, ia menganggap tuan mudanya ini sudah dihinggapi oleh setan atau sesuatu sejenis itu karena tidak biasanya ia mengucapkan lebih dari lima kata apalagi kepada perempuan.
Amora memandang Albert karena merasakan ada yang ganjil, tetapi tatapan tajam itu telah hilang digantikan dengan tatapan datar seperti biasa, mata mereka bertemu
"Ada apa? Aku tau aku cantik tapi jangan melihatku seperti itu" Amora membalas perkataannya yang tadi. Albert tersenyum simpul
__ADS_1
"Tidak bisa, karena kamu cantik mangkanya aku ingin menatapmu terus" Katanya, pelajaran kedua yang ia pelajari dari temannya yang menjadi psikologi adalah hal ini, balaslah ledekan lawanmu dengan setuju apa yang mereka katakan sehingga lawan terdiam
Benar saja Amora membelakkan matanya tidak percaya, dan bukan hanya Amora saja tetapi juga supir yang didepan, membuat mobil sedikit oleng.
"Dasar muka dingin bodoh" Amora memalingkan wajahnya dengan kesal dan mengutuk Albert terus menerus. Mengapa ia menyerangnya seperti ini, ia tidak tahu harus berbuat apa jika seperti ini jadinya.
Albert tersenyum simpul ketika melihat Amora yang terdiam sambil berusaha tidak melihat kearahnya, ternyata temannya juga benar, temannya itu mengatakan bahwa tidak ada yang bisa tahan akan pesonanya yang ganteng ini.
Jika Amora mendengar apa kata hati Albert, mungkin ia sudah meminta untuk diturunkan di pinggir jalan daripada harus satu mobil dengan orang yang over percaya diri sepertinya.
Mereka pun sampai di hotel yang menurut Amora megah, Ben dan Vincent sudah menunggunya. Amora keluar duluan sambil menunjukkan muka kesal sementara Albert mengikuti di belakangnya sambil menunjukkan tatapan datarnya.
Saat ini Vincent dan Ben sedang bertanya-tanya apa yang terjadi saat perjalanan tadi, menurut mereka pasti ada suatu kejadian yang terjadi dari ekspresi wajah kedua orang itu, mereka ingin bertanya tetapi tidak bisa.
__ADS_1
Mereka langsung menuju ke kamar tipe president sambil disambut oleh para pelayan ketika mereka masuk, Amora langsung menebak pasti hotel ini milik salah satu dari mereka, "Kebetulan sekali" Amora bergumam di dalam hatinya, senyuman menyeringai sudah menghiasi wajahnya, kebetulan sekali ia menyukai hotel ini.
Mungkin saja dengan sedikit negosiasi ia bisa mendapatkannya dengan harga semurah mungkin. Selagi Amora tersenyum, Albert juga ikut tersenyum kecil seolah tahu apa yang dipikirkan oleh tikus kecil yang sedang berjalan disampingnya ini.