Jodoh Sandiwara

Jodoh Sandiwara
59. ALergi?


__ADS_3

Sang sopir memakirkan mobilnya di sebuah tempat parkiran hotel yang ada di sana. Mereka berdua turun lalu langsung menuju ke restoran yang berada di lantai paling atas, Amora yakin hotel ini adalah hotel bintang lima hanya dari melihat keadaan restorannya


Tetapi ia merasa sangsi, Amora tidak memakai baju bagus karena habis jogging dan hanya memakai celana training, ia bertanya-tanya apakah akan diusir dari sini. Baru saja ia ingin mengajak Sean pergi ketika seseorang pelayan menyapa mereka dan mengantarkan ke ruangan VIP yang ada di sana


"Pesan saja apa yang kamu mau. Aku yang bayar" Kata Sean. Tangannya sudah sibuk membuka buku menu.


Karena Amora tidak tahu jenis-jenis rasa dari makanan saat ini, ia hanya memesan secara acak apa yang terdengar enak di telinganya. Pesanan pun datang tidak lama kemudian.


Mereka berdua mengobrol tentang banyak hal, sebenarnya yang paling banyak berbicara adalah Sean sedangkan Amora kebanyakan hanya mendengarkan karena Sean sangatlah bawel, ia sendiri juga heran mengapa Sean bisa mencerocos sebanyak itu tanpa merasa serak.


Lama juga mereka berbicara, setelah selesai satu topik langsung saja berlanjut ke topik selanjutnya, tidak terasa waktu sudah menunjukkan saatnya makan siang, mereka memutuskan untuk makan di sana sekalian juga. Amora kali ini memesan Lunch set yang ada disana


"aku mau ke toilet" Kata Sean sambil bergegas pergi, Amora mengangguk dan memainkan handphonenya, ternyata si muka dingin itu berulang kali menelponnya dan mengiriminya pesan lebih dari 20.


"Udah makan" Ketik Amora membalas, Albert mengiriminya pesan apakah ia ingin dibawakan sesuatu untuk makan siang nanti, sebenarnya Albert mengiriminya pesan ketika di pagi hari, tetapi Amora baru menjawabnya sekarang


Di sisi lain Albert langsung membuka handphonenya begitu ada pesan masuk kemudian langsung menutupnya. Ia merasa kesal, kemana si tikus kecil itu pergi, itu salahnya sih karena mengirim orang lemah untuk menahan Amora keluar dari hotel itu.

__ADS_1


Ia menggelengkan kepalanya dan merasa kasihan kepada Amora karena perempuan itu melewatkan kesempatan untuk makan gratis di restoran paling terkenal di ibu kota. ALbert berniat untuk memfoto semua makanan dan mengirimnya ke gadis itu.


Mobil Albert pun sampai di parkiran, ia keluar dari mobil dan langsung menuju ke kamar VIP yang biasanya ia tempati ketika makan di sini, tetapi alangkah kagetnya dia ketika melihat Amora sedang berada di kamar VIP yang lain, pintunya yang sedikit terbuka membuatnya dapat melihat ke dalam.


Albert merasa tidak nafsu makan lagi, apalagi setelah ia melihat Sean masuk ke dalam ruangan itu dan menutup pintunya. Awan hitam serasa berada diatas kepalanya dan ia langsung berjalan keluar dari hotel dan meminta sopir membawanya ke markas agar ia bisa melampiaskan amarahnya.


"Selamat datang bos" Ben menyambutnya begitu melihat Albert memasuki markas, markas itu disamarkan menjadi komplek perumahan tempat para orang penting ALbert tinggal bersama keluarganya, yah, setidaknya itulah yang orang awam pikirkan.


"Bos?" Tanya Ben bingung, muka bosnya kini terlihat seperti ingin melenyapkan seseorang, ketampanannya berubah menjadi kejam.


"Jangan ganggu, pergilah!" Seru Albert, ia segera pergi ke ruang bawah tanah tempat ia mengurung musuh-musuhnya, kebetulan sekali ia juga harus mengorek informasi dari mereka ketika ia merasa kesal.


"HAtchi" Amora bersin tiga kali, ia mengusap hidungnya sambil mengutuk siapapun yang berkata jelek tentang dirinya. "Dingin?" tanya Sean, ia baru saja ingin memanggil pelayan untuk menaikkan suhu ketika Amora mencegahnya.


"Tidak usah" Kata Amora, mereka kembali mengobrol sampai hari berubah menjadi malam, Authornya juga tidak tahu mereka ngomongin apa, jadi jangan tanya oke.


_______

__ADS_1


Amora menenteng kue yang ia beli sambil bersenandung. Ia membayangkan ketiga orang pasti akan menyukai kue ini karena dia sendiri menyukai rasanya. Amora keluar dari lift dan menekan password dan segera masuk karena udara terasa dingin kali ini


"Ada apa?" tanya Amora heran ketika melihat Ben dan Vincent sedang duduk di sofa sambil memandangnya. Hawa dingin membuatnya menatap ke Albert yang juga menatapnya dengan sorotan mata tajam.


"pergi ke mana kamu" ALbert berkata dingin, dari tadi ia ingin menyeret Amora kembali pulang tetapi ditahan oleh Vincent.


"makan sama teman" Amora menjawab tanpa rasa bersalah, ia menaruh kuenya di atas meja yang terletak di tengah sofa dan membukanya.


"Kue ini enak loh, aku akan mengambil pisau" Katanya sambil kabur, ia tahu pasti dirinya akan diomeli oleh Albert karena telat pulang, mangkanya sebelum ALbert marah, ia harus menyogoknya dengan kue.


Amora kembali dengan pisau dan empat piring di tangannya, ia sengaja memotong bagian Albert yang terbesar dan memberikannya, bahkan buah persik yang ia suka dengan rela ia berikan kepada ALbert


Albert melihat kuenya dengan sedikit senyum di hatinya, tadi ia melihat bagaimana tidak relanya Amora untuk memberikan semua buah persik di kue kepadanya. "ada apa? makanlah, ini sangat enak, terutama buah persik itu" Katanya kearah ALbert.


"Aku alergi buah persik" Kata Albert berbohong, ia segera memberikan buah itu kepada Amora dan membawa kuenya ke dalam kamar. Amora memandanginya dengan aneh, dia alergi buah persik?


Vincent dan Ben yang melihatnya juga bingung, mereka mengira setidaknya ada pertumpahan darah malam ini, tetapi mengapa berakhir seperti ini? sudahlah, lebih baik mereka memakan kue saja

__ADS_1


 


_____________


__ADS_2