
"Aku bilang aku tidak punya teman sepertimu lagi, jadi keluarlah. Aku merasa ingin muntah ketika melihat wajahmu" Amora tersenyum, menyembunyikan matanya yang berkilat dingin.
"Amora, kamu jahat" Jaqueline berpura-pura pergi keluar, dirinya yakin jika Bernard akan mengejarnya. Benar saja Bernard berlari keluar sambil membawa bunga mawar yang seharusnya ia berikan kepada Amora.
"Amora, kamu tidak boleh berbuat seperti itu kepada anaknya Tuan Harinson!" Ayahnya membentak, Kenneth merasa heran dengan putrinya ini, biasanya ia akan menangis bahagia ketika Bernard memberikan perhatian kepadanya.
"Sudahlah tuan Kenneth, aku ingin tidur, tolong pelankan suaramu" Amora berjalan menuju tempat tidurnya, ia sangat malas menyebut pria di depannya dengan sebutan ayah.
"Amora, aku ayahmu! sopan sedikit" seru Tuan Kenneth, nadanya sedikit meninggi.
"Iya.." sebelum Amora sempat menyelesaikan kalimatnya, Bernard muncul sambil bercucuran keringat. Amora yakin Bernard mengejar Jaqueline sampai ke tempat parkir untuk menenangkan gadisnya itu.
"Amora, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang jahat seperti itu!" Bernard sedikit membentak, kemudian ia menyesal karena pasti Amora akan menangis tersedu-sedu.
"Sesuatu yang jahat?" Amora yang tadinya ingin menutup mata langsung bertanya dengan polos, "Jaqueline adalah sahabatmu kan, seorang sahabat tidak boleh menyakiti hati sahabatnya yang lain" Bernard berseru, pasti air mata gadis ini sudah habis terpakai karenanya tidak langsung menangis .
"Sekarang kita bukan" Amora menguap bosan, ia mencoba menekan tombol remote TV untuk menyalakannya, berhasil.
__ADS_1
"Kamu!" seru Bernard, ia tidak tahu harus mengucapkan apalagi kepada Amora.
"Kamu tahu tuan Bernard, sebaiknya kita membatalkan pertunangan kita" Amora muncul dengan ide cemerlang, ia ingin fokus menjadi salah satu anggota Anonymous, yaitu komunitas Grey hacker yang disatukan yang ada pada zaman tubuhnya yang lama, mungkin zaman ini juga mempunyai komunitas yang mirip seperti itu.
"Apa.." Bernard merasa dirinya salah dengar, pasti begitu, tuan putri ini sudah jatuh cinta kepadanya sejak dahulu. "Aku bilang sebaiknya kita membatalkan pertunangan, apakah Tuan Bernard membutuhkan seorang dokter telinga?" Amora memandang Bernard yang tergagap.
"Tuan Bernard maafkanlah perkataannya barusan, aku yakin kalo anak ini hanya bercanda denganmu karena seperti yang kamu tahu kepalanya sedang sakit. Ketika ia sembuh aku akan menyuruhnya pergi ke rumahmu dan menulis surat permintaan maaf" Ayahnya yang baik mewakilinya berbicara, mengusir Bernard secara halus dan memihak kepada pria itu.
"Baiklah, aku akan menyiapkan makan malam untukmu nanti" Bernard berpamitan dan segera pergi meninggalkan rumah sakit, Tuan Kenneth mengantarnya sampai mobil.
"Aku baik bu, jangan khawatir. Aku hanya berpikir ulang tentang menikahi seorang Pria seperti Bernard itu" Amora tidak merasakan ingatan buruk tentang ibunya, jadi ia menjawabnya dengan senyuman yang tulus. Nyonya Aria menghela nafas lega dan membelai rambutnya.
"Baguslah kalau begitu, aku akan membantumu untuk menggagalkan pertunangan diantara kalian berdua. Sudah ibu duga kamu tidak akan menyukai pria bermuka dua seperti Bernard" Nyonya Aria berkata lembut, Amora kemudian mengingat suatu ingatan lagi. Ketika ia dijodohkan oleh pria itu, hanya ibunya lah yang menunjukkan ekspresi tidak suka bahkan mencegahnya berkali-kali, tetapi Amora yang dulu tidak menghiraukan bahkan menangis mendengarnya.
"Amora, kamu sangat bodoh" Amora mengutuk Amora yang dulu. Ia bertekad untuk menjauhi hidup seperti pemiliknya yang lama.
"Apa maksudmu Aria, Amora akan tetap menikah dengan tuan muda keluarga Kinn tidak peduli apapun yang terjadi" Tuan Kenneth membanting pintu sambil berteriak marah, ia mendengar ucapan istrinya tentang membatalkan pertunangan.
__ADS_1
"Tapi tuan muda itu sangatlah buruk" Nyonya Aria berusaha meyakinkan suaminya, tetapi Kenneth malah bertambah marah.
"Pertunangan telah dilaksanakan dari tiga tahun yang lalu, karena satu atau dua hal pihak sana belum bisa menggelar acara pernikahan, dan kamu menyuruhnya untuk membatalkan?" Kenneth berteriak lagi, membuat Aria sedikit takut.
"Bukankah itu karena mereka tidak ingin anak tunggal mereka menikahi orang sepertiku?" Amora mencibir, ia mendapatkan ingatan ketika ia sendiri bertamu ke rumah keluarga Kinn dengan pakaiannya yang norak, tampak seperti nona manja dari keluarga kaya, dan kebetulan pakaian itu adalah "hadiah" tulus dari Jaqueline.
"Amora! Jika kita tidak mendapatkan bantuan dari keluarga Kinn, perusahaan kita pasti akan bangkrut!" Tuan Kenneth memijat kepalanya, Amora bertingkah keluar dari jalurnya. Biasanya ia hanya akan diam mendengarkannya mengomel di hadapannya.
"Itu karena kamu tidak becus menjalankan bisnis keluarga" Amora mencibir lagi, ia mengingat bagaimana kakaknya tanpa dukungan siapapun berhasil membawa bisnis mereka yang biasa menjadi besar, tentu saja dengan sedikit kemampuan manipulasi milik dirinya.
"Amora!!" Kenneth berteriak, kali ini Amora takut akan memecahkan jendela dengan frekuansi suaranya yang tinggi, ia terus menerus memandang jendela, seolah berharap jendela itu akan pecah.
"Tuan, sudahlah. Amora sedang sakit sehingga ia tidak dapat berpikir dengan jernih" Suara seorang wanita terdengar, Amora tidak meliriknya sama sekali.
"Amora, bibi mendengar kamu sedang sakit, jadi bibi membawakan buah untukmu" Nyonya Lisa menaruh keranjang buah di atas meja, Amora kini memandangnya.
Seberkas ingatan memenuhi kepalanya lagi. Lisa Gunawan, istri kedua ayahnya, penampilannya lebih buruk dibandingkan ibunya sehingga ia sendiri bingung mengapa ayahnya lebih memilih Nyonya Lisa dibandingkan ibunya. Lihat saja make up nya yang tebal, jika di zamannya pasti sudah disangka ia itu wanita murahan.
__ADS_1