
Ternyata soalnya mudah, syukurlah. Amora pergi pertama menuju papan tulis, teman-temannya menatapnya heran karena biasanya Amora lah yang paling terakhir dalam mengerjakan
Amora mengerjakan lima soal yang ada di papan tulis dengan lancar, tangannya bergerak secara spontan tanpa memikirkan hasil yang akan didapat, Gina melihatnya dengan terkejut, ternyata benar Amora sudah menjadi pintar
Gina memikirkannya kembali, Amora baru-baru ini tertabrak oleh mobil, apakah itu yang membuat neuron di otaknya menjadi bagus? Ia juga tidak mengerti karena ia bukan ahli biologi tentang otak, mungkin ia harus mengundang seorang professor untuk meneliti otak Amora.
Amora kembali ke tempat duduknya sambil diperhatikan oleh siswa lainnya, Gina memeriksa ulang jawabannya dan mengganti soalnya untuk anak yang lain, Amora melihat mereka dengan bosan, masa soal seperti itu saja tidak bisa.
daripada ia merasa kesal karena yang lainnya kesusahan untuk mengerjakan soal yang biasa ia kerjakan saat sekolah dasar Amora lebih memilih untuk memainkan HP nya. Amora lalu menyadari tidak ada pesan balasan dari si muka dingin sama sekali, syukurlah. Berarti si muka dingin itu menerima kepanjangan bodoh darinya
Amora terkekeh pelan lalu mengganti nama kontak muka dingin dengan menambahkan bodoh dibelakangnya. "Hayo, itu siapa" Rafael mengagetkannya, ia tiba-tiba sudah berdiri disampingnya sambil melongokkan kepalanya.
"Bukan siapa-siapa" Amora langsng menyimpan handphonenya kedalam kantongnya, tetapi Rafael sudah melihatnya, nomor terakhir dari kontak "si muka dingin bodoh"itu adalah 637, ia mengingat nomor siapa itu. Orang yang ketinggalan zaman dan masih menggunakan SMS hanya bisa dilakukan oleh kakaknya Noel, Albert.
"tetapi mengapa disebut bodoh?" Rafael terbingung dan kemudian tertawa. Apa jadinya jika Albert mengetahui nama kontak yang tersimpan dalam ponsel gadis itu. Bisa-bisa ia merobohkan gedung merek handphone yang digunakan oleh Amora.
__ADS_1
Rafael memperhatikan Amora dari belakang, gadis itu melakukan banyak kegiatan absurd seperti membuat jungkat-jungkit dari penggaris, membuat api unggun dari pensilnya, dan sesekali menatap kesal kearah papan tulis dimana seorang siswa sedang terdiam karena tidak bisa menjawab soal.
Rafael berpikir, apakah Amora seperti ini sejak dulu? Tidak, Amora yang dulu masih akan berada didepan sambil mengeluarkan air matanya karena soal yang dikasihkan sangat susah. "Apakah aku harus meminta Albert untuk menabrakkan mobil kearah ku juga ya, biar jadi jenius" Rafael sedang mempertimbangkan beberapa hal yang mungkin akan dilakukannya.
Dua jam kemudian pelajaran matematika pun selesai dan bel pulang pun berbunyi, Amora segera membereskan barang-barangnya dan memasukkannya kedalam tas, ia harus pergi ke toko pakaian untuk fitting gaun yang akan dipakainya besok.
Amora berjalan lebih cepat karena ia sudah meminta kakaknya untuk menjemputnya, ia yakin jika Pak Edi yang menjemputnya akan sangat terlambat. Amora kemudian berhenti dan segera bersembunyi di balik tembok.
"Ngapain muka dingin itu ada didepan gerbang sekolahnya" Amora bertanya di dalam hatinya, untung saja ia segera bersembunyi, jika tidak pasti akan ketahuan. Muka dingin itu ternyata sangat tampan, banyak siswi memperhatikannya bahkan Jaqueline mencuri pandang ketika ia berjalan dengan Bernard yang membuat cowok itu sedikit kesal.
Amora menepuk-nepuk tangannya yang kotor dan berlari sambil menelfon kakaknya untuk mengganti lokasi penjemputan.
"Gadis yang menarik" Seorang laki-laki tertawa pelan ketika ia menyaksikan Amora meloncati tembok.
__________
__ADS_1
"Kenapa kamu berkeringat?" Tanya Lucas menyaksikan muka Amora yang penuh dengan bulir keringat, Amora menggeleng dan menutup pintu mobil. Mereka berdua mengendarai mobil menuju toko gaun langganan keluarga mereka.
Di depan sekolah, Albert dengan sabar menunggu gadis kecil itu keluar, tetapi batang hidungnya pun tidak terlihat. "Ka Albert" Noel melambaikan tangannya kepada kakaknya itu, Taqi dan Rafael mengikutinya.
"Noel" Albert tersenyum sopan kepada adik dalam hukumnya itu. Ya, Noel bukanlah saudara kandungnya tetapi ia adalah saudara tirinya dari ibu yang berbeda.
"Lagi menunggu Amora?" Tanya Noel dengan tersenyum misterius kepada kakaknya itu, Ia bisa tahu kalau Albert sedang berhubungan dengan Amora karena Vincent yang memberitahukannya ketika mereka pulang tadi malam.
"Tidak" Albert menggeleng lalu masuk ke dalam mobil, Vincent yang berada di kursi sopir menggeleng tidak berdaya, ia masih kesal karena harus mengurusi dokumen yang banyak setelah ia memberitahu Noel tentang Amora.
"Jalan" Albert memerintahkan, mobil segera berjalan menuju toko pakaian untuk mengambil jas-nya yang sudah ia pesan dari kemarin.
Amora yang sudah sampai di depan toko melambaikan tangan kepada kakaknya yang harus segera pergi bekerja lagi, ia masuk ke dalam toko sendirian dengan masih menggunakan baju sekolahnya.
"Nona Amora" salah satu pelayan disana menyapanya, Amora menyapanya balik. Pelayan itu membawa beberapa model gaun koleksi seperti yang biasa Amora pesan, Amora terbelak melihatnya, norak sekali gaun-gaun itu!
__ADS_1
Melihat Amora yang terdiam dan tidak langsung melihat gaun, pelayan itu langsung membawakan beberapa gaun lagi, dahi Amora tambah mengernyit melihatnya.