Jodoh Sandiwara

Jodoh Sandiwara
42. Kena Batunya


__ADS_3

Amora merasa bosan, apakah acaranya hanya seperti ini? saling mengobrol tentang urusan bisnis sekaligus secara tersirat menyombongkan kekayaan mereka. Ia menghela nafas dan mulai mengambil makanan lagi untuk yang ketiga kalinya.


Jika ini bukanlah hal yang ia janjikan, ia sudah pergi dari sini dari setengah jam yang lalu. Ben melihat Amora yang terduduk bosan sambil tekekeh, bagian serunya belum mulai. Tunggu sampai pesta ini selesai


Tanpa Amora ketahui, sesekali Albert mencuri pandang kepada Amora, mengawasi tikus kecilnya itu agar tidak terlibat masalah yang akan merepotkan dirinya nanti. Rupanya ia tidak perlu khawatir, tikus kecil itu tidak beranjak sama sekali dari kursinya dan hanya makan seperti sapi gemuk ditemani oleh Ben,


"ckck. Apakah dia kelaparan sampai segitunya. Apa sebaiknya aku mendatangkan koki ya" Tanya Albert didalam hatinya, sebetulnya ia tidak terlalu menyukai tempatnya didatangi oleh orsng yang tidak dikenalnya. Tetapi ia kemudian memutuskan akan menyewa koki nanti setiap pagi


Acaranya pun dimulai, Amora menghela nafas kecewa. Rupanya dari tadi acaranya sama sekali belum dimulai. Amora sudah hampir kehabisan kesabaran ketika MC naik keatas panggung untuk penyambutan. "serius, dari tadi belum dimulai?" Amora berbisik kearah Ben, ia melihat laki-laki itu mengangguk


"huft" Amora menyandarkan dirinya di sandaran kursi, rasa kesalnya memuncak ketika ia melihat Albert datang dari kejauhan dan duduk di kursi yang ada di sebelahnya, padahal masih banyak kursi kosong disekitar. Ia menatap tajam kearah Albert


"kursi ini kosong, jadi aku bisa duduk disini" Albert berkata datar, dengan santainya duduk disana, tidak mempedulikan apakah Amora menyetujuinya atau tidak. 


Sejujurnya, Amora bukannya tidak mau Albert duduk di sampingnya, tetapi efeknya setelah itu. Lihat saja, saat ini banyak orang asing yang datang ke meja bulat mereka dan duduk di kursi yang kosong, padahal tadinya meja ini hanya diisi olehnya dan Ben

__ADS_1


Amora bangkit dari kursinya dan berniat untuk mengambil makanan lagi, tetapi kali ini Albert menahannya. "Sekalian" Ia membisikkannya sehingga suaranya teredam oleh suara MC yang sedang berbicara. Akhirnya Amora mengangguk setuju dan Albert melepaskan pegangan tangannya


Sesampainya di depan meja tempat makanan berada, Amora menengok kearah meja dan tersenyum licik, memastikan Albert tidak sedang mengawasinya.


Ia akan membuat Albert menyebalkan itu merasakan akibatnya jika berurusan dengannya. Amora mengambil wine dan menaruh bubuk cabe kedalamnya, untungnya warnanya tidak terlalu berbeda dari warna wine yang biasanya.


"rasain" Amora sudah membayangkan muka Albert yang kepedesan ketika meminum wine ini. Ia juga mengambil satu untuk dirinya sendiri, tentu saja minuman punya dia ditaruh di ujung nampan yang berbeda dari punya Albert. Mengambil beberapa kue manis, lalu berjalan kembali ke mejanya


Albert merasakan hal buruk akan terjadi ketika melihat kedua gelas yang terpisah diatas nampan, ia tersenyum kecil tetapi senyuman itu buru-buru dihapusnya supaya tidak terlihat oleh yang lainnnya. Sementara Amora tidak melihat, ia memutar ujung nampan yang satu dengan nampan yang lainnya.


"Ada apa?" tanya Albert, Amora mengusir pikiran anehnya dan menggeleng, ia memberikan gelas yang ada di sisi kanan, gelas yang berisi wine dengan bubuk cabe sebagai toping


"silahkan dinikmati" Amora tersenyum manis, Albert pun ikutan tersenyum karenanya, untunglah tadi ia bertindak cepat dengan menukar sisi nampan. Albert mengambil gelas yang disodorkan dan senyum menghiasi wajahnya


"mari bersulang Nona Amora" matanya yang tersenyum menunjukkan kilatan kelicikan. Amora yang belum menyadari bahwa ia masuk ke perangkap mengambil gelasnya, lihat saja setelah ini si muka dingin tidak akan mencari masalah dengannya lagi

__ADS_1


"bersulang untuk masa depan" Albert mengangkat gelasnya, "bersulang" kata Amora. Suara dentingan antara gelas kaca terdengar, mereka berdua meneguk anggur pada waktu yang sama


"eh?" Amora merasakan panas dari mulutnya, ia memandang gelas wine nya dengan aneh, apakah ia menaruh bubuk cabe pada kedua gelas? Amora tentu saja tidak merasa melakukan itu


ia merasakan pedas di tenggorokannya, Amora berpikir itu mungkin karena makanan yang ia makan barusan dan menegak anggur sekali lagi. Namun, ia heran, mengapa rasa di mulutnya semakin pedas, jangan-jangan..


Ia melihat kearah Albert yang sedang meminum anggurnya dengan tenang, melihat Amora bermuka bingung ia tersenyum yang langsung menjawab pertanyaan Amora. "sialan" rutuk Amora di dalam hatinya.


"apakah rasa minuman itu sesuai dengan seleramu Nona?" Tanya Albert bertanya basa-basi. Ingin rasanya Amora menendang orang di sampingnya saat ini sekarang juga, tetapi sayangnya ia tidak bisa melakukan itu


"Tentu saja" sambil tersenyum Amora mengatakan kebohongan, matanya sudah berkedut marah melihat Albert yang masih saja tersenyum menatapnya. 


Ketika melihat tikus kecilnya menatapnya bengis, Albert merasakan wine ini lebih enak daripada wine manapun yang pernah ia minum sehingga ia menegak lagi dan lagi. Albert tersenyum dan mengisyaratkan bahwa ia ingin membisikkan sesuatu. Amora mendekatkan telinganya dengan spontan karena penasaran.


"Kamu harus berlatih dulu seribu tahun untuk bisa mempermainkan ku" Kemudian ia menjauh, kembali duduk dengan cara yang biasa. Menatap tatapan marah Amora dengan senyum tidak bersalah. 

__ADS_1


__ADS_2