
Tempat itu bernama Rumah Gizoun, entah mengapa namanya seperti itu atau enggak gara-gara authornya kehabisan nama Amora juga tidak tahu, ia berjalan dengan senang karena ia sedang membawa dua harta yang berharga dengannya.
Amora harus membayar pendaftaran seharga satu juta dan untuk setiap barang yang akan diperiksa sebesar delapan ratus ribu, rupanya inilah yang menjadi alasan mengapa para penjual barang antik di pasar itu terkadang menjual barang asli
mereka tidak mau kehilangan banyak uang untuk barang yang kebanyakan diberi label palsu oleh Rumah Gizoun ini. Amora masuk dan mendapati beberapa penjual barang antik pada mengantri di depan meja dan para kolektor yang sedang memperhatikan pemeriksaan barang
rupanya para kolektor itu takut barang antik itu jatuh ke tangan yang lain, Amora ikut mengantri, pada kehidupannya yang lalu sebagai Alisha, ia tidak suka mengantri karena itu akan menghabiskan waktunya tetapi rupanya sekarang ia akan banyak mengantri
Amora tidak peduli dengan penjual yang bersemangat memegang barang antik yang menurut mereka asli, karena ia tidak melihat cahaya putih memancar dari benda yang dibawa mereka. Ia menghela nafas ketika melihat kekecewaan di muka mereka
Gilirannya pun tiba, Amora menyerahkan guci keramik miliknya kepada seseorang dibalik meja yang memegang kaca pembesar dan alat-alat kuno lainnya, tentu saja alat itu kuno bagi Amora yang berasal dari seratus tahun kedepan
Rupanya orang itu mengira barang yang ia bawa juga palsu, orang itu mengambil gucinya dengan tidak bersemangat. Pertamanya ia memeriksa secara asal, kemudian ia menjadi serius dan memutar guci itu, melihat ke dalamnya, dan masih banyak lagi.
"Nona selamat, guci ini berasal dari zaman Dinasti Ming, aku akan membuatkan kartu keaslian untuk ini" Orang itu menjabat tangannya yang sedang bingung "Dinasti Ming?" Tanya Amora
__ADS_1
"iya, 1368 M yang lalu" Orang itu mencoba menjelaskan namun Amora tetap tidak mengerti dan hanya tersenyum canggung (Sori gaiseu, Authornya bukan anak sejarah. Bodoh sejarah aku karena aku jurusan IPA )
"Mungkin itu zaman manusia purba" Amora berpikir lagi, seingatnya ia tidak pernah membaca tentang Dinasti di buku sejarahnya, hanya ada perang dunia satu, perang dunia dua, perang dunia tiga, dan perang dunia keempat. Ia harus membaca tentang ini lebih banyak karena mungkin saja itu akan dikeluarkan dalam ujian
Amora menatap orang itu yang sedang berbicara dengan bawahannya, ia menoleh kearah para kolektor yang sudah bersiap menawarkan harga yang pantas untuk barang antik ini, bahkan ada yang sudah mengeluarkan cek nya
"Nona, aku ingin tahu apakah anda bersedia untuk menjual..." Seseorang membuka tawaran harga. "Aku akan membelinya seharga lima juta" Sahut yang lainnya. "tidak, aku menawar 8 juta" teriak yang lainnya
"maaf aku tidak akan menjualnya" Amora meminta maaf kepada para kolektor yang sedang beradu mulut sambil beradu kekayaan itu, ia akan memberikan guci ini dan patung naga ke Tuan Frins sebagai hadiah pertemuan. Sebenarnya ia hanya akan memberinya guci itu dan patung naga akan Amora simpan untuk jaga-jaga
"Nona, ini kartu keasliannya" Orang itu memberikannya sejenis sertifikat, di zamannya yang dahulu barang antik tidak terlalu dihargai walaupun ada sedikit yang suka mengoleksinya.
"Terima kasih, aku juga ingin memeriksa patung naga ini" Amora kemudian meletakkan patung naga berwarna emas itu keatas meja, para kolektor itu menatapnya dengan penuh minat
Rupanya orang dibalik meja itu tidak menganggap remeh Amora lagi sejak ia memeriksa guci keramik asli, ia segera mengambil patung naga itu dan memeriksanya.
__ADS_1
"Yang ini juga asli, ini berasal dari Dinasti Tang. Nona, bagaimana kamu bisa beruntung mendapatkan dua barang ini?" Orang itu bertanya dengan sinar di matanya yang terlihat jelas, rupanya orang tua itu mengagumi dirinya
"yah bisa dibilang, aku beruntung" Amora menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia tidak tahu alasan apalagi yang harus dibuatnya selain itu. Untung saja orang itu dan kolektor percaya dengan mudahnya, rupanya ia memang beruntung
"Nona muda ini, namaku Fang Gizoun, kamu bisa memanggilku kakek Fang" Orang tua itu menjabat tangannya. "nama ku Aileen Amora, kamu bisa memanggilku Amora" Amora memperkenalkan dirinya balik, sebenarnya orang lain juga bisa memanggilnya Aileen tetapi ia lebih suka namanya sebagai Amora karena huruf depannya sama dengan Alisha.
"apakah kamu ada waktu hari ini untuk makan siang?" Fang bertanya kepadanya, Amora kemudian mengingatnya, melihat jam dan menyadari ia telah terlambat 30 menit!
"Maafkan aku tuan Fang, aku terlambat untuk mengurus sesuatu" Amora meminta maaf.
"Tidak apa, hubungi aku jika kamu sempat" Fang mengeluarkan kartu namanya dan memberikannya kepada Amora, Amora mengangguk dan segera pergi ke kasir untuk membayar biaya pemeriksaan sebanyak satu juta enam ratus ribu
"Kamu tidak usah membayar biaya pemeriksaan, anggap saja itu hadiah dariku" Tuan Fang tiba-tiba muncul, rupanya ia meninggalkan orang lain yang sedang mengantri untuk mengatakan itu kepada Amora
"Terima kasih Kakek Fang, aku akan menemuimu begitu urusanku selesai" Amora tersenyum kearahnya, ia tahu kakek Fang berusaha berteman dengannya, ia menerimanya karena niat baik itu tidak boleh ditolak
__ADS_1
"hahaha, anak muda yang baik. Jangan lupakan janjimu itu" kata Kakek Fang sambil tertawa ketika Amora berjalan. "Pasti" Amora mengangguk dan pergi menjauh dari rumah Gizoun, pergi menuju tempat Tuan Frins menyuruhnya