Jodoh Sandiwara

Jodoh Sandiwara
44. Mulai


__ADS_3

"dia? menjadi jenderal" Kata Amora berkata meremehkan. Ben menjadi malu, wajah sombongnya lenyap di depan Amora.


"Tentu, dia bisa membuat virus mematikan yang bisa membuat komputer milikmu mati total hanya dalam lima detik" Lian membanggakan pemimpinnya itu, tetapi perkataannya hanya membuat Ben bertambah malu. Masalahnya, Amora lah satu-satunya orang yang bisa menetralkan virus itu ketika ia mengirimkannya, jadi Ben merasakan harga dirinya turun saat ini


(maksudnya menetralkan itu di ilangin gitu loh, susah lah jelasinnya)


"OOh begitu, tentu saja itu sangat hebat" Amora menahan tawanya sambil melihat kearah Ben yang sudah menunduk itu, ia tersenyum lebar kearahnya. Kelima orang yang tidak tahu apa yang sudah terjadi hanya melihat kearah jenderal mereka dengan bingung, bukankah Ben biasanya membanggakan dirinya akan hal itu, mengapa sekarang ua terdiam seperti ini


"Sudahlah, mari kita mendatangi para orang tua itu, kelihatannya mereka sedang melihat kearah kita sambil berbisik-bisik sekarang" Ben mengalihkan pembicaraan mereka, mereka kini melihat para orang tua yang memberi mereka muka sombong.


"ingin sekali aku menghancurkan virus yang mereka buat agar muka sombong mereka menghilang selamanya" Adam menggeram, jika itu terjadi ia akan menarikan tarian kesombongan miliknya yang sudah ingin ia lakukan sejak lama. Yang lainnya pun merasa begitu, Amora juga tidak yakin mengapa mereka terlihat sangat dendam dengan para orang tua itu


Oh iya, kalian jangan membayangkan orang tua yang dimaksud itu sudah berusia lebih dari 50 tahun, mereka masih berusia sekitar kepala tiga, tetapi dibandingkan kelompok yang mengelilingi Amora saat ini, mereka sudah bisa disebut orang tua. (kelompok Ben itu berusia kepala dua )


Amora juga heran, bukankah seorang peretas seharusnya menyembunyikan dirinya sendiri dan tidak menunjukkannya seperti ini. Ia mencoba menanyakannya kepada Ben, dan ia menjawab bahwa mereka telah menandatangani kontrak mengenai hal itu. Jika ada dua belah pihak yang dendam, mereka hanya bisa menyelesaikan dendam itu melalui komputer dan tidak dengan nyawa mereka. Lagipula mereka hanya menganggap ini sebagai permainan anak-anak dan mereka berasal dari keluarga atas, jadi mereka tidak memusingkan hal itu

__ADS_1


Mereka perlahan mendatangi kelompok orang tua itu dan duduk di meja bundar di depan mereka. Pintu hall tempat pesta berlangsung sudah di tutup rapat-rapat jadi tidak akan ada yang mengganggu mereka saat ini.


"Sudah siap kalah lagi, anak muda?" salah seorang orang tua itu tersenyum, mengeluarkan laptopnya dengan gaya yang di lebih-lebih kan dan menatap mereka provokatif


Terhadap sikap orang tua itu, Ben tersenyum tenang. Ia mengeluarkan laptopnya dan menyalakannya. "tentu saja tidak apa jika kami kalah, tetapi jika kalian kalah aka sangat memalukan" Ben mengejek mereka, terlihat ayahnya yang terlihat sebal dengan ucapannya


"Pintar sekali omonganmu itu Ben, tetapi sayangnya kita tidak akan kalah" Ayahnya Ben membalas omongan anaknya, orang tua yang lainnya menyoraki dengan sorakan yang tidak kalah kencangnya


"bos, tidak apa jika kita kalah lagi" Tias tersenyum maklum, para orang tua itu mempunyai lebih banyak pengalaman daripada anak muda seperti itu, jadi kalah pun tidak apa


"Bisakah kita mulai tuan-tuan?" Ben bertanya provokatif, ia berharap ayahnya akan kalah kali ini karena ia menginginkan gelar kemenangannya walaupun sebenarnya Amora yang memenangkan pertandingan, tetapi tidak apa, kemenangan calon istri milik temannya adalah miliknya juga


(Albert: Heh sembarangan, lihat saja nanti)


Albert yang menunggu di ruangan di dekat ballroom itu bersin, ia mengusap hidungnya yang terasa gatal itu dan merasa bahwa ada orang yang berbicara tentang hal buruk tentang dia dibelakangnya

__ADS_1


"Baiklah, mari kita mulai" Para orang tua itu berjumlah lima orang, mereka semua memegang laptop mereka masing-masing. Sama seperti kelima kesatria ditambah jenderal mereka ini, mereka juga mulai mengeluarkan laptop mereka


Amora tercengang, ia bahkan tidak membawa laptop saat ini, jadi apa yang harus dia gunakan sekarang? Melihat kepanikannya, Ben tersenyum, ia menggeser laptopnya ke depan Amora yang dibalas dengan tatapan heran lima orang lainnya


"Jenderal? apa yang kamu lakukan?" Robert berkata dengan tercengang ketika bosnya melakukan itu, diantara mereka orang yang paling menguasai adalah Ben, tetapi mengapa ia malah memberikan tempatnya ke seseorang gadis yang tidak mereka kenal


"fokus saja, Amora bisa melakukannya" Ben tersenyum yakin. Amora menghela nafas sambil memutar matanya. Orang ini! tentu saja ia bisa melakukannya, bagi dia yang berasal dari masa depan, ini hanyalah hal sepele


Pertarungan pun dimulai, kedua belah pihak mulai menyerang satu sama lain. Permainan ini mereka sebut benteng. Sama seperti permainan anak-anak yang ada saat ini, permainan ini terdapat beberapa orang yang menyerang kearah benteng lawan, tetapi juga harus ada yang melindungi bentengnya sendiri. Perbedaannya adalah, mereka memainkan ini memakai virus dan bukan memakai kaki untuk berlari


Keringat sudah mengucur di kening kelima kesatria, hanya Amora yang masih bisa menguap sambil jari-jarinya bergerak cepat. Ia mulai serius ketika dirasakan permainan ini menyenangkan dan ia tidak ingin kalah saat pertama kali ia bermain. Gerakan jari-jarinya semakin cepat, kode-kode yang dimasukkan juga semakin kompleks


Para orang tua tercengang begitu melihat kecepatan pihak lain menyerang mereka, mereka pikir pihak lain akan kalah lagi saat ini, jadi ketika kambing hitam mereka izin tidak ikut karena malas dan ingin bermain game saja, mereka memperbolehkannya. Tau akan seperti ini mereka akan menyeret orang tua satu itu bagaimana pun kondisinya


dua jam pun berlalu, kedua orang tua itu bertambah lelah, biasanya permainan akan berakhir sebentar lagi tetapi sekarang kondisinya berbeda, ketika mereka mencoba menekan para anak muda itu ke sudut, selalu ada hal kecil yang menyelinap masuk sehingga mereka terpaksa mundur untuk mencegah hal kecil itu masuk lebih dalam

__ADS_1


__ADS_2