Jodoh Sandiwara

Jodoh Sandiwara
30. Bo...


__ADS_3

"Amora, ada yang mencarimu diluar" Lucas mengetuk pintu kamar Amora yang terkunci, ia yakin adiknya ini masih tertidur lelap di kamarnya.


"Iya" Hampir saja Lucas tertabrak pintu yang tiba-tiba saja terbuka, ia melihat Amora sudah berpakaian lengkap entah untuk apa. "mau pergi kemana kamu?" Tanya Lucas


"Ada deh. Sepertinya aku tidak akan pulang beberapa hari ke depan, tolong urus rumah ya ka" kata Amora, hari ini adalah hari dimana ia berjanji kepada seseorang untuk menemaninya ke sebuah acara yang Amora juga tidak tahu tiga hari yang lalu, ia sudah memakai baju formal yang ia beli kemarin.


"tapi di depan itu laki-laki loh, mau kemana kamu" Lucas menahan tangan adiknya dan membuatnya terhenti. Amora menatap kakaknya bingung, lalu tersenyum menggoda. "Mau nikahan ka" Katanya sambil mengedipkan matanya, Lucas membelakkan matanya tidak percaya


"jadi perihal kamu sudah bertunangan itu benar ya" Lucas bergumam. "eh??" Tanya Amora, ia belum memberitahukan kakaknya apapun dan mana mungkin Lucas mempercayai perkataan orang menyebalkan yang ada di pesta kakek waktu itu.


"itu, kata kakek ada yang mengaku sebagai tunanganmu di hadapannya" Jelas Lucas, Amora mendecak kesal, Orang itu lagi! Ia akan menendangnya jika bertemu dengannya lagi.


"sudahlah ka, aku pergi dulu" Amora tidak bisa berkata-kata, ia juga tidak bisa menceritakan perjanjian konyol yang ia lakukan dengan orang licik itu. Dengan perasaan kesal di hatinya menyebabkannya menjadi bersemangat dalam berjalan, ia tidak sabar untuk menendang Albert dengan keras


"Kakak mau pergi kemana pagi-pagi buta seperti ini" Amora mendengus, sungguh sial dia. Mengapa ia selalu bertemu dengan orang menyebalkan! Sedang apa Abigail di ruang tamu sambil menatap jendela.


"Sedang apa kamu, mengintai mereka ya" Kata Amora langsung, ia menunjuk pemandangan luar jendela dimana Ben dan Vincent sedang berdiri di luar mobil sambil berbincang. Amora akui memang keduanya menghasilkan pemandangan yang indah, ditambah lagi mobil hitam berkilauan yang tampak baru

__ADS_1


"Udah bener?" Amora berpikir, ia mengingat jika mobil mereka sudah hancur ketika berada di rumah teh, Amora berpikir mungkin keduanya sudah mendapat ganti rugi dari orang yang merusak


"Ten.. tentu saja tidak, untuk apa aku mengintai mereka" Abigail membantah, Amora langsung kembali dari lamunannya dan menatap Abigail sambil tersenyum kecil. "yakin?" Tanyanya sambil maju selangkah, "eh.."  Abigail merasa salah tingkah, ia tidak tahu harus menjawab apa


"yasudah" Amora mengangkat bahunya tidak peduli dan pergi meninggalkan Abigail yang masih terbengong. Membuka pintu dan berjalan dengan perlahan kearah mobil hitam itu


"Selamat pagi kalian berdua" Amora menyapa Vincent dan Ben yang juga menyapanya


"Tampaknya kalian sudah mendapat ganti rugi dari orang yang merusak mobil kalian kemarin" Amora melirik kearah mobil, Ben tersenyum pahit, bagaimana bisa mereka meminta ganti rugi kepada bos besar mereka


"Yah, anggap saja begitu. Mari berangkat Nona" Ben membukakan pintu belakang untuk Amora. Kemudian ia sendiri duduk di depan bersama Vincent yang menyetir. Mobil pun pergi dari kediaman Mora dan menuju kearah bandara.


"Dia menunggu di bandara" Vincent berbohong, padahal Albert sedang mengurus sesuatu hal terlebih dahulu dan memerintahkan mereka untuk pergi menjemput Amora tanpa dirinya


"Oh" Tiba-tiba saja Amora merasa kecewa, ia kira si muka dingin itu ada di mobil sehingga ia bisa menendangnya karena perkataan aneh yang diucapkan Albert seenaknya


Vincent memakirkan mobilnya di parkiran pribadi miliknya, mereka bertiga lalu keluar dan pergi ke pesawat pribadi milik Albert yang sudah menunggu mereka.

__ADS_1


"selamat datang Tuan Ben dan Tuan Vincent" Pramugari menyapa mereka. Vincent melipat kaca mata hitamnya dan bertanya "Apakah Bos besar sudah ada di dalam pesawat?"


Pramugari itu menggeleng, kemudian ia mempersilahkan ketiganya untuk memasuki pesawat. Amora duduk di salah satu kursi yang ada di dalam dan menatap ke sekitarnya. 


"Dimana muka dingin, apakah dia belum bangun?" Tanya Amora heran karena belum melihat batang hidung dari Albert di pesawat. "bos besar akan sampai sebentar lagi" Ben yang duduk di depannya menjawab. Amora mendengus kesal "Dasar kebo, pasti dia bangunnya kesiangan"


Ben yang mendengarnya tertawa, Vincent ikutan tertawa tetapi ia berhenti karena ia menyadari orang yang sedang berdiri di belakang Amora. Orang itu Albert, ia berdiri sambil berkacak pinggang


"siapa yang kebo" Suara dinginnya yang khas membuat Amora menoleh, ia menaikkan satu alisnya ketika memandang Albert


"Kamu lah" Katanya dengan berani. "ckk" Albert mendecakkan lidahnya kesal


"Tidak duduk?"Tanya Amora begitu menyadari Albert masih berdiri di belakangnya. Apakah kebiasaan muka dingin ini berdiri setiap ia naik pesawat? Norak banget kebiasaannya


"kamu menempati kursiku" Kata Albert dingin, "Ckk" kali ini Amora yang mendecakkan lidahnya, ia bangkit berdiri dan pindah ke kursi depan. Ia menyapa Ben dan duduk di sampingnya


Ben menelan air liurnya dengan takut, ia sudah merasakan hawa-hawa membunuh dari orang di hadapannya ini. Ia yakin sebenarnya bosnya hanya menyuruh Amora untuk bergeser ke kursi yang ada di samping jendela dan bukan mengusirnya. Tetapi Amora malah pindah ke sampingnya, Ben merasakan nasib buruk sudah menunggunya.

__ADS_1


Ben tersenyum canggung pada Albert yang ada di depannya, ia bingung apakah ia harus pindah atau tidak. Tetapi rupanya bosnya itu tidak mempedulikan pertanyaannya dan memilih untuk membaca buku yang bosnya bawa di dalam tasnya


__ADS_2