
"Tikus kecil, akhirnya kamu bangun, aku hampir saja berpikiran untuk menyiramu ke dalam toilet karena kamu tidak bergerak terus" Albert berkata dengan dingin seperti biasanya. Ia diberitahukan oleh Hans bahwa Amora sudah tersadar malam ini dan langsung ia bergegas ke kamar Amora, 10 langkah tepat sebelum pintu ia mengubah ekspresi mukanya menjadi dingin lagi baru kemudian membuka pintu dan berjalan masuk
Amora mendelik marah dalam hatinya. Lihatlah, orang ini ingin membuangnya ke dalam toilet! padahal kan ia seorang manusia dan bukan hewan! Walaupun ia disebut tikus, memangnya jika binatang itu mati akan dibuang ke toilet apa, bukannya nanti akan menyebabkan toilet mampet atau semacamnya itu!
Tetapi kemudian Amora mengingat perkataan Dokter Hans saat ia tidak sadarkan diri, dan tanpa sadar pandangan matanya berubah, dari kemarahan menjadi iba. Ia sendiri tidak tahu mengapa ia merasa kasihan, padahal dirinya sendiri saja tidak memiliki kekasih di zamannya yang dulu jadi Amora tidak bisa memahami apa arti kehilangan tunangan.
"hal kecil kenapa kamu melihatku dengan pandangan menyebalkan di matamu" Albert merasakan pandangan kemarahan gadis di depannya berubah menjadi pandangan sedikit iba? Ia sendiri juga tidak yakin.
Amora menggeleng, tentu saja ia tidak berani menyatakan alasan sebenarnya mengapa pandangannya berubah.
"jangan bilang kamu sakit lagi? Cepat berbaring" Kata Albert panik. Sebelum Amora bisa menghentikannya, ia langsung menghilang dari pintu dan kembali dengan membawa dokter Hans yang terlihat berusaha menyamakan langkah besar Albert
"Katamu tadi dia sudah sembuh, tetapi mengapa pandangannya masih sayu. Apakah kamu sudah tidak bisa menjadi dokter lagi, sebaiknya aku mengirimmu jauh ke afrika untuk menjadi relawan, bagus juga sih, karenamu nanti rumah sakit milikku akan terkenal dan..." Albert mulai mengecoh
"Tembok bodoh aku tidak apa!" Amora sangat tidak menyukai omong kosong yang cowok itu ucapkan karena dirasa sangat berisik, ia segera saja menghentikannya dan tercengang setelah itu, mengapa ia memanggilnya tembok bodoh!
"itu.. kepanjangan bodoh adalah.." Amora berusaha memberi penjelasan tentang kata yang satu itu, sama seperti yang sudah lama terjadi.
Hans tercengang ketika melihat Amora berani berbicara seperti itu, bahkan dirinya merasa lebih heran saat Albert tidak segera memerintahkan orang untuk langsung mencincang Amora di tempat, sama seperti yang biasa ia lakukan
__ADS_1
Albert hanya tertawa mendengar penjelasannya, ia mengira Amora masih mendiamkannya karena kejadian teh waktu itu, tetapi mendengarnya mengutuk seperti itu, mungkin Amora sudah tidak terlalu benci terhadapnya.
"sudah, tidak ada yang harus dibahas lagi" setelah selesai tertawa, Albert langsung keluar dari kamar dengan langkah besar.
Amora dan Hans memandangnya dengan bingung.
"sepertinya dia sudah tidak waras" Tanpa sadar Hans bergumam. "setuju" Amora membalasnya.
Hans menengok kearahnya, tidak disangka nona di tempat tidur itu bisa mendengar gumamannya, padahal menurutnya suaranya sudah sangat kecil dan jarak mereka terpaut jauh. Merasa ditatap, Amora mengangkat satu alis dan bertanya mengapa, tetapi Hans hanya menggeleng sembari keluar dari kamar
Amra menghela nafas ketika Hans tidak nampak lagi batang hidungnya, ia mengambil novel yang ada di laci meja dan mulai membaca, tiga puluh menit kemudian Vincent masuk sambil membawa berkas-berkas di tangannya.
"apa itu Vincent?" tanya Amora penasaran ketika melihat cowok itu menaruh setumpuk berkas di depannya
"tanda tangan disini untuk menerima properti hotel ini" Vincent menyerahkan pulpen. Tangannya bergetar agak tidak rela, untung saja bukan Ben yang ada di posisinya, pastinya dia akan menangis ketika Amora mulai menandatangani dokumen
"hah?" Amora berkata bingung, ia hanya menatap tumpukan kertas itu diatas meja kecil yang menjadi tatakan kertas dengan pandangan bingung
"Ini perintah bos besar untuk mentransfer properti hotel ke Nona Amora atas permintaan maaf karena dua kali percobaan pembunuhan yang lalu, dan sekaligus rasa terima kasih karena telah menyelamatkan tuan besar" Vincent menjelaskan.
__ADS_1
Ia merasa yakin bahwa jika bukan Amora, pasti bosnya tidak akan memberi hadiah mahal seperti ini, Paling bantar bosnya akan memberi sejumlah uang.
Akhirnya Amora tau apa yang dimaksudkan olehnya, segera saja senyum terbentuk di wajahnya, tentu saja si Muka dingin itu harus memberikan kompensasi yang layak kepadanya. Dengan hati yang senang Amora menandatangani dokumen penyerahan itu.
Amora membaca kontrak yang ia tanda tangani satu persatu, ketika ia membaca persyaratan nomor 5 ia mengerutkan dahinya. "mengapa si muka dingin itu masih mempunyai saham juga" Ia menghela nafas, jika begini jadinya pasti ia dan Albert akan sering ketemu untuk mendiskusikan masalah hotel ini di masa depan, padahal kan ia sedang menghindari muka tembok itu.
__ADS_1