Jodoh Sandiwara

Jodoh Sandiwara
40. tragedi pagi


__ADS_3

Amora bangun pagi sekali dan mendapati bahwa ketiganya sama sekali belum ada yang tebangun, ia memandangi dirinya di dalam kaca dan mendapati matanya yang sembab, Amora mengeluh karena ia terlihat jelek sekarang


Ia berjalan menuju dapur dan menyeduh susu dingin yang ia ambil dari kulkas, Ia berpikir apakah seharusnya ia memasak makanan saat ini atau tidak. Akhirnya ia memutuskan ia akan memasak, ia mengambil telur dan bahan-bahan yang lainnya untuk membuat sandwich isi untuk empat orang termasuk dirinya


"klontang.. krosak... Blang" Suara yang ribut dari luar membuat Albert terbangun, ia segera bersiaga. Mengambil pistolnya yang ada di balik bantal dan perlahan berjalan keluar, suaranya terdengar dari dapur. Ia menyandarkan diri di tembok bersiap untuk menyergap siapapun yang ada di dapur itu


"jangan bergerak atau aku tembak" Albert berkata dingin sambil menodongkan pistol, Amora terkejut. Ia menjatuhkan piring beling dari tangannya


"prangg" Suara nyaring terdengar, pecahan kaca berhamburan kemana-mana. "aduh" Amora mengaduh, pasalnya kakinya terasa ada yang menusuknya, ia menahan kesakitannya karena mungkin Albert tidak peduli dengan hal itu


"Amora!" Albert berseru, ia menyesal sudah terburu-buru menodongkan pistol yang berakibat seperti ini, ia langsung berjalan mengambil sapu dan menyapu jalan agar ia bisa membopong Amora


"kyaa" Amora berteriak kaget ketika ia digendong, Albert menaruhnya di sofa dan mengambil obat serta lakban untuk membalutnya


"Sedang apa kamu pagi-pagi berisik seperti ini" Sementara Albert megobati kaki Amora, ia mulai berseru mengomel.

__ADS_1


"Untung saja aku tidak gegabah dan menekan pelatuknya, bagaimana jika ada peluru menembus kepalamu" Albert berkata lagi, nadanya mulai melengking keatas


"Aku hanya ingin membuat sarapan" Mendengar kata peluru yang menembus kepala membuat Amora takut, ia menundukkan kepala dan berusaha keras menahan air matanya


Melihat kondisi Amora, Albert merasakan dirinya keterlaluan, ia ingin menghibur gadis itu tetapi tidak tahu harus berkata apa, ia menyesal telah mengirim Vincent dan Ben ke markas saat ini, jika ada satu diantara mereka setidaknya ia bisa memerintahkan untuk menghibur Amora


"siapa suruh kamu menodongkan senjata seperti itu hah!" Diluar dugaannya, Amora tidak menangis dan menatapnya tajam sambil mengomel.


"orang normal mana yang meletakan pistol di dekatnya ketika ia tertidur" walaupun ia berseru marah, matanya masih berkaca-kaca. 


"seharusnya aku sama sekali tidak membuat sandwich untuk empat, seharusnya aku buat tiga saja. Untuk apa aku membuatkan sarapan untukmu" Amora memandang Albert marah, ia mengingat sandwich yang susah payah dibuatnya yang sudah jadi diatas meja makan


Ia melihat keatas meja dan mendapati disana ada empat sandwich sudah tersedia, Albert menghela nafas, ia menyeduh dua susu dan membawanya kehadapan Amora yang melihat kearahnya dengan tidak percaya


"Sarapan, tapi bukan cuman kamu yang buat. Aku yang membuat susunya, jadi kita impas" kata Albert dingin, ia menaruh nampan di meja dan duduk di sebrang Amora.

__ADS_1


Albert mulai mengambil sandwichnya dan melahapnya, Amora memandanginya dengan heran seolah ia adalah alien


"ada apa? tidak sarapan" Tanya Albert, ia memandangi Amora dengan aneh. Sudah bagus dia berbaik hati memakan sandwich isi yang tidak terlalu enak ini. Albert merasa perutnya akan sakit nanti.


"Dua sandwich lainnya jangan dimakan...." Amora berusaha melarangnya. Tetapi Albert terlanjur memasukan kedua sandwich itu ke dalam mulutnya


"Itu buat Vincent sama Ben kan" Katanya kesal. Ia bertambah kesal ketika sandwich miliknya pun dimakan juga oleh si muka dingin menyebalkan satu ini. Jadinya ia hanya meminum susu dan tidak memakan apapun


"Mau ngapain kamu" tanya Albert ketika Amora ingin berjalan ke dapur untuk memasak lagi


"Buat sarapan ulang. Sekalian punya kedua orang yang masih tidur" Sahutnya.


"Tidak perlu, mereka tidak ada disini saat ini. Lagipula, segeralah bersiap. Kita akan segera berangkat" Ucap Albert tenang sembari menyeruput susu buatannya. Memang, apapun yang dia buat pasti enak. Tidak seperti buatan gadis didepannya itu.


"Kamu sendiri tidak bersiap" Amora memandang Albert keki, pasalnya Albert sendiri masih saja duduk santai meminum susu nya.

__ADS_1


"Jangan bawel, cepat ganti baju dan kita akan berangkat" katanya, Albert menyentil jidat Amora dan pergi ke kamarnya. Sebenarnya, Ia masih saja memikirkan siapa itu Daniel tetapi ragu untuk bertanya lagi. Takut jawabannya akan membuatnya kesal.


"Apaan si, sembarang nyentil aja" Amora mengusap jidatnya yang sakit. Memandang kearah Albert pergi dengan kesal


__ADS_2