Jodoh Sandiwara

Jodoh Sandiwara
36. lebih dari lima suku kata


__ADS_3

"hahaha, Albert memang sudah dingin dari ia lahir. Bahkan ibunya sendiri ketakutan ketika memegang tubuh Albert yang terasa dingin ketika ia lahir" Tuan Gu tertawa, ia sedang mendengarkan cerita tentang cucu nya dari Amora.


yang membuatnya sedikit terkejut adalah kenyataan bahwa cucu nya bisa berbicara lebih dari lima suku kata dalam sekali tarikan nafas, biasanya ia sangat mengirit kata-kata terutama kepada perempuan seperti Amora, 


"Sejak ibunya meninggal, anak itu menjadi lebih dingin lagi. Ibunya itu.." Kata Tuan Gu mulai bercerita.


"kakek" Sebuah suara terdengar. Mereka berdua menengok berbarengan dan menemukan Albert dengan nafas yang tersengal, mungkin laki-laki itu habis berlari sepanjang jalan setapak.


"apa yang kakek lakukan disini?"  tanya Albert dengan nada datar seperti biasa. "Dan, apakah Nona Amora tidak punya tempat indah lain untuk dikunjungi, mengapa Nona memilih tempat suram seperti ini. Apakah pikiranmu sudah tidak ada" Lanjutnya, matanya menatap datar kearah Amora


Ingin rasanya Tuan Gu bertepuk tangan. Benar dugaannya, cucu nya yang biasanya irit dalam berkata-kata bisa mengatakan kata sebanyak itu dalam satu tarikan nafas.


"Apa hubungan mereka" Kini Tuan Gu mulai penasaran, matanya menjadi bersinar saat ia melihat kearah Amora yang tertegun mendengar perkataan Albert


"apakah masalah. Mau pergi ke luar angkasa kek, mau ke tengah laut kek. Apa masalahnya denganmu" Katanya sambil berkacak pinggang, pria aneh ini mengapa langsung memarahinya begitu mereka bertemu, apakah Albert menyusul kemari hanya untuk mengomel kepadanya


"ya itu masalah" Albert mengangguk, Amora mendengus kesal. Untuk apa Albert menyetujui kata-katanya.


"dan sedang apa orang-orang itu" Amora menunjuk segerombolan pria ber-jas hitam di belakang Albert. "untuk apa kamu tahu itu, itu bukan masalahmu bukan?" tanya Albert dengan main-main

__ADS_1


"menyebalkan" Amora merutuk. Ia memalingkan kepalanya dan mulai melangkah pergi.


"Jangan pergi dulu" Albert menahan tangannya, tentu saja Amora langsung menangkisnya. Amora melihat Albert dengan pandangan bertanya, alisnya dinaikan satu sebagai tanda ketidak sabaran


"pria ber-jas hitam itu sedang membereskan geng yang tadi menyerang kakek" jelas Albert, Amora mengangguk mengerti. Lika-liku orang kaya memang sangat merepotkan, tetapi ia menyukainya dan memutuskan suatu saat ia harus membuat kelompok gangster miliknya sendiri agar bisa melindungi orang-orang terdekatnya.


"tapi aku sangat ketakutan tadi" Amora mengeluh, ia mendapatkan suatu ide brilian yang tiba-tiba saja muncul. "ya, nona muda ini pasti sangat takut" Kakek Gu mengangguk, ia ingin tahu apa yang sedang dimainkan Amora.


Vincent melihatnya terpana, ketakutan dari hongkong! Amora lah yang memukul mereka paling kejam diantara yang lainnya! Ia sangat yakin bosnya sudah mengetahui kebohongan yang gadis itu ucapkan


"Bagaimana ini" Tanya Amora, matanya memelas dan melihat kearah Albert yang langsung memutar matanya, gadis ini! ia sudah melihat siluet hotel di matanya yang berpura-pura melas itu. Dasar, pasti ia ingin mendapat kompensasi. Tapi tidak apa, Amora sudah menyelamatkan kakeknya, jadi ia harus membalas jasanya tentu saja


"Mengapa? apa yang kamu sembunyikan?" Tanya Amora penasaran.


"mau atau tidak?" Tanya Albert datar, Amora langsung mengangguk takut jika Albert menarik kata-katanya kembali, "Ben, urus itu ketika kita kembali" Albert melihat kearah Ben yang terlihat pasrah. "Bos, itu hotel mahal. Kenapa kamu memberikannya begitu saja" ratapnya dalam hati


Sedangkan Kakek Gu juga terlihat sama mengejutkannya, cucu nya tidak suka jika properti miliknya disentuh orang lain, bahkan ia sendiri ketika meminta kamar khusus di hotel itu mengalami penolakkan keras darinya.


Memang cucu nya sangat pilih kasih. "Gadis, mari kita makan malam. Kamu belum makan bukan?" Tanya Kakek Gu, Amora mengangguk, tidak bisa berbohong

__ADS_1


"dimana kita akan makan malam kakek?" Tanya Amora, Albert yang mendengar panggilan Amora untuk kakeknya langsung tersedak


"Kakek tua!" Seru Albert langsung. Ia sangat yakin kakek tua ini lah yang menyuruh Amora untuk memanggilnya kakek, sama seperti kepada pacarnya dulu.


Kakek Gu hanya tertawa dengan keras, lalu seolah-olah tidak mendengarnya, Kakek Gu menarik tangan Amora kearah jalan setapak, meninggalkan Albert yang masih marah kepadanya


Sesampainya di tempat parkiran mobil, Kakek Gu langsung menarik tangan Amora ke mobilnya. Albert langsung saja menyusul mereka dan menyerobot masuk setelah Amora duduk.


"Kakek kali ini akan satu mobil dengan Vincent, biar dia bisa menjagamu lebih mudah" ALbert beralasan, ia menutup pintunya dan menyuruh sang sopir jalan. Meninggalkan kakek tua yang tertawa dibelakang


"apakah kakek mu tidak apa? sepertinya ia masih tertawa" Amora bertanya prihatin, ia menengok kebelakang dan melihat kakek itu masih tertawa. "ya, dia baik-baik saja" Kata Albert datar


"lalu mengapa kamu yang ada disini" Amora baru tersadar, kini ia berdua lagi dengan si muka dingin ini. Albert tidak mengatakan apapun dan hanya diam melihat ke luar jendela


"jawab jelek!" Amora berseru, ia menginjak kakinya keras. "diamlah, lagipula aku tidak jelek. Coba saja lihat ini" Albert menunjukkan berita di ponselnya


"Pria terganteng tahun ini" Amora bergumam, Albert meng-scroll dan muncullah namanya di urutan pertama. Ingin rasanya Amora muntah melihat apa yang baru saja ia baca. Ia menendang kaki Albert sekali lagi dan menjadi diam


Sedangkan Albert diam-diam tersenyum puas ketika melihat gadis itu terdiam, ia menyembunyikan raut wajahnya dengan cara melihat jendela selama perjalanan

__ADS_1


__ADS_2