Jodoh Sandiwara

Jodoh Sandiwara
19. Sebuah Alasan


__ADS_3

Malamnya Amora tidak segera tidur dan langsung membuka komputernya, pertama ia membuka weibo dan mencari username si Frins dan langsung muncul profil nya.


"sombong sekali" Amora berbisik sambil melihat isi weibo dari penjudi nomor satu itu yang berisi tentang kemenangan yang ia pernah dimenangkan dan Amora mengakui kemenangan itu tidak sedikit.


Amora mengingat lagi, di kehidupannya yang lalu memang masih ada judi, tetapi bukan seperti yang ada di zaman sekarang. Ia termasuk jago dalam hal itu pada masa yang lalu, tetapi ia tidak berani mengambil resiko saat ini.


Ia mengetikkan suatu kode di komputernya, jari-jari rampingnya menari indah diatas keyboard dan setelah itu ia tersenyum puas melihat kearah layar komputernya.


"Tiring.." komputernya berbunyi, Vincent menatap layar komputernya yang tiba-tiba saja berwarna hitam dengan amplop di tengah layarnya, ia menjadi panik dan segera berlari menuju Ben yang berada didepan komputer di ruangan yang lain.


"Ben tolong aku, komputerku kemasukan virus" katanya sambil berlari, ia mengatur nafasnya dan segera menghalangi komputer Ben dengan tangannya yang membuat pandangan laki-laki itu teralihkan.


"Itu mustahil bukan, sekarang aku sedang memantau dan tidak ada masalah disini" Ben menggeleng, menganggap Vincent yang terlalu melebihkan. Ben berpikir mungkin saja Vincent sudah kehilangan akal karena kebanyakan menghitung saham atau semacamnya itu.


"Lihat saja sendiri" Vincent menarik tangan Ben, memaksanya untuk mengikuti dirinya. Ben memutar matanya dan segera mengikuti Vincent ke ruangannya, ia melihat layar komputer Vincent dan terbelak. Selama hidupnya, hanya ada satu orang yang dapat masuk dalam keamanan yang ia buat dan orang itu adalah kakak iparnya, jadi ia tidak terlalu dendam.


Tapi untuk orang ini, itu adalah hal yang berbeda. Ia langsung duduk di kursi dan jari-jarinya mulai bergerak, semakin lama semakin cepat. Amora melihat virus yang dikirimkan kepadanya dengan tersenyum kecil, ia membalasnya.

__ADS_1


Ben yang melihat virusnya diatasi dengan baik oleh pihak lain menjadi kesal, jika orang lain mendengar tentang ini maka tidak ada lagi yang ingin memakai jasa perlindungannya lagi dan ia akan diturunkan dari posisi terbaik di dunia internet.


Ben menatap layar komputer lagi, ia tadi menanyakan nama pihak lain dan menunggu pihak lain membalas pesannya.


Amora yang merasa tujuannya untuk mencari perhatian si penjudi berhasil segera memperkenalkan namanya, di seberang sana Ben hampir saja melempar komputernya. Ini adalah dia! untung saja ia bisa mengatasi virus mematikannya, jika tidak Albert akan menatapnya dengan tajam setiap hari.


"Dia Amora" Ben menatap kearah Vincent yang berada dalam posisi duduk dengan sedikit gemetaran. "Amora? Siapa?" dalam kondisi linglung Vincent bertanya.


Ben melihatnya dengan kasihan, rupanya Vincent sudah menjadi gila beneran hanya karena ada kondisi yang tidak sesuai dengan perkiraannya. 


"Aileen Amora, yang baru-baru ini bos perhatikan" Ben memutar matanya, malas sekali ia jika harus berbicara dengan Vincent mode seperti ini. Vincent terlihat berpikir sebentar dan berseru.


"apa yang dia mau?" Tanya Vincent, bukannya ia dan Amora sudah bertukar nomor? mengapa ia harus menggunakan cara seperti ini untuk menghubunginya.


"Tidak tahu, kita tanya saja" Ben kemudian menanyakan apa yang Amora inginkan. Di sisi lain Amora tersenyum dan segera menulis pesan yang sopan kepadanya


"Tuan Frins yang terhormat, aku adalah Aileen Amora dari keluarga Mora. Biarkan aku menjelaskan situasinya terlebih dahulu. Kakekku, Xavier dari keluarga Guivera setiap lima tahun sekali akan memainkan suatu perjudian dengan saingannya dari keluarga Quin. Kebetulan tahun ini penjudi keluarga Guivera tidak dapat hadir, bisakah kamu menggantikannya? Aku akan membantumu apa saja yang dapat aku bantu" Kemudian Amora mengirimnya

__ADS_1


"tanyakan dulu kepada Albert" Akhirnya Vincent memutuskan, ia sejenak bingung apa yang harus ia lakukan. Ia mengetahui bahwa keluarga Guivera dan Quin bersaing untuk menjadi pemimpin perusahaan tetapi seharusnya mereka tidak ikut campur didalamnya.


Ben mengangguk, ia setuju dengan keputusan Vincent. Ia memencet nomor Albert dan menjelaskan situasinya. Albert yang sedang menemani Shizu bermain catur di perpustakaan keluarga Ouyang langsung beranjak, mengambil mantelnya dan tergesa-gesa mengemudikan mobil


Shizu yang ditinggalkan sendirian menghela nafas, ia menjadi bosan kembali. Hanya Albert yang bisa diajaknya bermain catur karena saudara tirinya yang lain sangat payah bermain permainan otak. Ia tidak membereskan catur dan menunggu disana sambil membaca buku.


Sementara itu Albert sudah memarkirkan mobilnya di tempat parkir perusahannya dan langsung naik lift untuk menuju kantornya yang berada di lantai paling atas.


"jadi bagaimana" Dengan nafas tersengal Albert memasuki ruang kerja Vincent tanpa mengetok terlebih dahulu. Mereka berdua melihat bosnya yang sedang menenangkan diri dengan heran, untuk apa bosnya berlari menuju kemari, ia bisa memberitahu kepada mereka melalui telefon.


"tinggal menunggu keputusan darimu" kata Ben. Albert mengangguk


"balas ini kepadanya. Vincent akan menyetujuinya tetapi besok Amora harus menjelaskan situasinya kepada kami secara jelas" Albert menyuruh Ben melakukan hal yang menurut Vincent tidak masuk akal


Bukankah Amora sudah menjelaskannya dengan cukup jelas dalam pesannya? Vincent tidak habis pikir. Ben dengan pikiran yang sama segera melakukan apa yang Albert suruh. Permintaanya diterima langsung oleh Amora


"Aneh, apakah Tuan Frins ini juga jago komputer? tapi mengapa ia meminta mengajak bertemu? Bukankah sudah aku jelaskan ia tinggal datang dua hari lagi? Sudahlah, orang jenius emang rada aneh" Amora merasa maklum, ia sudah bertemu dengan banyak orang jenius di kehidupannya yang lalu.

__ADS_1


Bahkan ia menemukan beberapa dari jenius itu untuk berguru kepadanya, ia tolak semua karena itu sangat menghambat dirinya dalam membantu kakaknya mengelola perusahaannya.


__ADS_2