
Amora menguap untuk yang ke sepuluh kalinya, ia hari ini harus kembali bersekolah jadi ia bangun di pagi hari yang buta. Gara-gara seseorang yang bernama Ghostevil jadi ia harus begadang semalaman, jika tidak ia pasti harus membeli komputer yang baru.
Amora yakin GhostEvil bukanlah namanya yang sebenarnya karena ia juga memakai nama samaran, Ia sangat penasaran siapakah yang berada dibaliknya, apakah si muka dingin itu? Jika benar berarti pertaruhan Amora sangat tepat.
Lucas memandang adiknya yang tampak kantong mata dengan cemas, Adiknya itu terlihat sedang berpikir sambil memainkan pancake nya. "Ada masalah apa Amora?" Tanya Lucas yang membuat semuanya yang berada di meja makan menoleh kearah Amora. Amora menggeleng dan menyatakan bahwa dirinya baik-baik saja.
Setelah sesi sarapan usai, Amora berangkat menuju ke sekolahnya dengan diantarkan oleh sopirnya, Edi. Itu pun ia harus menunggu selama sepuluh menit terlebih dahulu baru sopirnya itu datang, Amora menghela nafas dan memutuskan untuk membeli mobil untuk dirinya sendiri.
Amora memandang keluar jendela, menikmati langit biru diluar, dahulu ia tidak dapat memandang langit seperti ini dan hanya memandang layar komputer yang membosankan itu. Ia bersyukur kali ini ia mendapat kesempatan sekali lagi untuk menikmati hidup
Tetapi menikmati hidup tentu saja membutuhkan banyak uang. Konyol jika ada yang bilang "uang tidak akan bisa membawa kebahagiaan" Kebahagiaan memang pilihan masing-masing orang tetapi bukankah lebih asik jika kamu menangis di dalam mobil BMW dibandingkan dengan menangis disamping tumpukkan sampah?
Uanglah yang bisa memberikan pilihan bagi orang-orang yang mempunyainya, dan karena itu Amora bertekad untuk menghasilkan uang, hal pertama yang harus ia lakukan adalah membuat perusahaannya sendiri dengan firewall yang ia masih sempurnakan.
Amora yakin jika ia mendirikan perusahaan yang beroperasi dibidang teknologi ia akan bisa membuat nama besar, apalagi ia mempunyai keahlian dari peradaban yang sudah maju, perlahan ia akan membuat hal-hal yang seharusnya ada di masa depan.
Mobil pun sampai ke depan pintu gerbang sekolah, dengan menenteng tas kuningnya Amora pun berjalan masuk ke pintu gerbang, kemudian ia terdiam, ia tidak tahu dimana kelasnya sendiri, Amora sedang menunggu ingatan Amora yang dulu untuk datang kepadanya, ia terdiam didepan gerbang
__ADS_1
"Oh lihatlah dia, Nona Amora yang arogan sekarang dicampakkan oleh Bernard yang ia banggakan dulu" Seseorang mengganggu konsentrasinya, ia segera menengok kebelakang, tiga orang gadis muda mengenakan seragam seperti dirinya sedang menatapnya dengan pandangan bermusuhan
ingin rasanya Amora mengutuk Amora yang lalu karena membuat banyak musuh dimana-mana tetapi ia tidak bisa, jika Amora yang dulu pintar pasti ia tidak akan berpindah zaman seperti ini dan hidup untuk yang kedua kalinya.
Ketiga orang didepannya terus saja mengoceh sementara Amora diam saja mengacuhkan mereka, ketiga orang itu akhirnya diam mengetahui Amora tidak marah seperti dirinya yang lalu.
"Siapa?" Tanya Amora sambil menunjuk gadis yang berada di tengah, gadis itu memandang Amora tidak percaya.
"Apakah nona besar kita ini menjadi tambah bodoh" Orang itu mencibir, Amora menggeleng "Bukan, aku hanya tidak mengenal orang kecil sepertimu" Ia membalasnya.
"jangan main tangan" Orang itu berkata dingin, gadis itu berniat untuk memarahinya tetapi mengurungkan niatnya begitu mengetahui siapa yang menahan tangannya.
"Noel" Gadis itu berseru kaget bercampur senang, laki-laki bernama Noel itu melepaskan tangannya dan berlalu, ketika mencapai tempat Amora ia mengangguk samar lalu berlalu.
"Amora" Seseorang gadis berteriak, Amora mendesah didalam hatinya, mengapa mantan sahabatnya muncul disini, ia memaksa senyum kearahnya
"Maafkan saja dia Riana, Amora baru saja kehilangan ingatannya sehingga ia tidak bsa berpikir jernih" Jaqueline meminta maaf kepada gadis yang ternyata bernama Riana itu. Amora tertawa culas mendengarnya, apakah Jaqueline membelanya atau membela Riana ini
__ADS_1
Senyumnya menghilang digantikan pandangan dingin, tadinya Amora berpikir mungkin ia dan Jaqueline masih bisa bersahabat karena ia sudah merelakan urusan Bernard kepadanya dan pada dasarnya Amora yang sekarang tidak menyukai laki-laki seperti itu jadi ia pikir masih bisa berteman dengannya, tetapi pikirannya salah besar.
Merasakan pandangan dingin Amora, Jaqueline sedikit menggigil. Ia melihat Amora berbalik pergi, ia segera berseru "Apakah kamu masih marah karena Bernard lebih memlihku?",
Amora langsung saja menghentikan langkahnya, tentu saja ia tidak marah tetapi Amora merasa kesal ketika kata-kata itu diucapkan. "Tentu saja tidak, waktu yang dihabiskannya bersamamu lebih banyak daripada waktuku bersamanya, jadi Bernard pasti lebih memilih dirimu" Kata Amora, setelah mengatakannya ia berlalu pergi.
Riana memandang Jaqueline dengan pandangan sebal, ternyata dia yang merebut kekasih orang. "Hiks, dialah yang merebut Bernard dariku, ia menekanku dengan menggunakan keluarga Mora-nya dan kemudian seenaknya membuat pertunangan dengan Bernard" Jaqueline menutup mukanya sambil menangis.
Riana menatap Jaqueline degan tidak percaya, ia sekarang mengasihani gadis didepannya ini dan mengutuk nona muda yang merebut kekasih orang lain. Ia mulai menenangkan Jaqueline ketika kerumuman kecil mengelilinginya.
Ketika mendengar masalahnya, orang-orang di kerumuman mulai mengutuk Amora yang tidak tahu malu. "Jahat sekali merebut kekasih orang" "bagaimana bisa kamu masih mau berteman dengannya" Kerumuman bertambah marah begitu Bernard datang dan mengklarifikasi hubungannya dengan Jaqueline.
"Sudahlah, ia tetap menjadi temanku, ia hanya butuh waktu sekarang" Jaqueline menghapus air matanya dan tersenyum.
"Hatchi" Amora bersin untuk yang ketiga kalinya, siapa yang sedang mengutuknya saat ini. Setelah ia mendapat ingatan yang diperlukan, Amora pergi ke kelasnya dan duduk dibangkunya, ia melipat tangannya dan tertidur karena merasa mengantuk
Amora yang sedang tertidur tidak mengetahui kalau mulai sekarang namanya akan lebih terkenal.
__ADS_1