
"siapa yang mengirim mereka" Vincent berkata dengan bingung, ia dari tadi berjalan bolak-balik sambil memikirkan kemungkinan yang ada. Albert hanya menatap ke satu titik dengan pandangan dingin
"Bos" Vincent berseru, ia agak merasa kesal karena bosnya seolah tidak peduli dengan orang yang berada di belakang mereka yang menyerang. Albert menghiraukannya dan menatap Ben untuk meminta informasi yang sudah di dapatkannya
"sayangnya, aku tidak menemukan siapapun dengan nama Daniel yang mungkin berada di belakang semua ini" kata Ben, ia dari tadi menatap layar komputer dengan serius, seolah berbanding terbalik dengan Ben yang kemarin
Albert menghela nafas lega di dalam hatinya, hatinya tidak ingin menyetujui pikiran buruk dari otaknya yang aneh itu, ia akhirnya bisa bernafas lega setelah dikonfirmasi. Jika dipikirkan ulang, aneh juga jika orang seperti Amora bisa kenal dengan orang yang seperti itu.
Albert kini merasa bersalah sudah dingin kepada Amora yang dengan berbaik hati menawarkannya teh terlebih dahulu barusan. Ia mengingat tatapan marah makhluk kecil itu ketika ia langsung pergi bersama Ben ke markas dengan mengunci ruangan.
"huft" Albert menarik nafas lalu mengeluarkannya. Ia harus mencari cara agar tikus kecil itu tidak memperlakukannya seperti kucing lagi. Baru saja ia berhasil tetapi sayangnya digagalkan oleh hama pengganggu, Albert merasa harus menyingkirkan hama ini secepat mungkin
__ADS_1
"Vincent, siapa orang yang lebih berkuasa dibandingkan kita saat ini" Albert menyilangkan tangannya. Vincent menggeleng "Di kota X hampir tidak ada Bos, bahkan di ibu kota kekuatan kita sebanding dengan kekuatan besar disini. Di kota lainnya juga tidak ada" ucap Vincent
Albert mengangguk, jika itu bukan kekuatan besar maka pasti itu adalah kekuatan gabungan beberapa kekuatan yang lebih kecil daripada yang dimilikinya. Mereka kini sudah keterlaluan
"segera temukan dalang dari semua ini, aku ingin mengetahuinya dalam satu minggu ini" Albert berkata dingin, ia tersenyum dengan cara yang menyeramkan.
"baik bos" Vincent mengangguk, ia langsung keluar untuk mencari informasi mengenai hal itu
"Lalu apakah kita harus kembali sekarang?" Ben bertanya, ia sangat ingin tidur saat ini. Penyebab ia mengantuk seperti ini hanya ada seorang, yaitu bosnya yang ada di hadapannya.
Ben mengangguk dengan senang, ia mematikan laptopnya dan segera mengemudi dengan cepat menuju ke hotel Goldentry untuk tidur, sebenarnya ia bisa saja tidur di markas saat ini, tetapi bos nya menyuruh dia secara tersirat (tidak langsung) untuk menjaga Amora yang tidak mungkin dibawa ke markas.
__ADS_1
Sembari menyetir mobil Ben memikirkan tentang ekspresi Amora saat ini, ia mengingat muka keki milik gadis itu ketika nampan yang di atasnya ada gelas teh di tepis oleh Albert, saat ini ia pasti sangat marah.
Ya, kejadian sebenarnya adalah seperti itu, ketika mereka sampai di ruangan, Amora yang merasakan dirinya tegang membuat teh agar perasaannya menjadi lebih baik, ia juga dengan berbaik hati membuat dua cangkir lagi untuk Ben dan juga Albert.
tetapi sayangnya perbuatan baiknya itu menjadi duri di mata Albert, terutama senyum tidak bersalah di mukanya, entah mengapa tangannya tiba-tiba bergerak dengan sendirinya dan menumpahkan teh itu, gelas dan teko pecah diatas lantai
Kemudian Bos besarnya itu dengan langkah besar langsung pergi tanpa mengucapkan satu kata pun, Ben melihat kearah gadis itu dengan pandangan meminta maaf dan segera menyusul bos nya
terakhir kali ia melihat gadis itu berjongkok dan memungut pecahan kaca dari teko dengan muka marah.
Ben memakirkan mobilnya, di tempat parkir kini penuh dengan para anak buah yang menggunakan jas hitam, mereka adalah top-50 dari total anggota kelompok yang ada. Tidak seperti preman pada umumnya yang terlihat kucel, mereka terlihat lumayan tampan jika tidak berdiri bersama bos nya.
__ADS_1
Mereka semua membungkuk ketika Ben turun dari mobil dan tetap membungkuk sampai Ben masuk ke dalam lift yang menuju ke lantai paling atas. Ben mengetik kata sandi dan terbukalah pintu lift ke lantai paling atas
Langsung saja ia masuk dengan menggunakan kartu miliknya