
Amora memandang kartu yang Vincent pegang dan menyadari bahwa ia bisa melihat kartunya, ia sebenarnya tidak terlalu paham dengan permainan kartu aneh di jaman ini, tetapi ia yakin bisa memainkannya karena di cangkulan ada kartu bercahaya seperti biasanya.
Permainan ini berbeda dengan permainan yang kemarin ia mainkan bersama mereka, Amora tidak mengetahui nama permainannya dan tidak ada yang memberitahukan kepadanya. Ia hanya tahu kalau kartu yang dipegang oleh Tuan Frins lebih bagus dari lawannya, memang pantas ia mendapat julukan "dewa judi" seperti yang dibilang orang-orang
"menang" Tidak lama kemudian Frins membuka kartunya sambil tersenyum, lawannya menjadi patah hati saat melihat kartu yang dipegang Vincent itu.
"Ronde dua dimenangkan oleh Tuan Xavier" Dealer itu berkata dan mulai mengocok kartunya lagi lalu membagikannya. Kali ini tuan Quinn sudah kehilangan harapan, menatap Xavier yang sedang tersenyum dengan nanar
Ronde ketiga pun dimulai, Amora mulai tidak fokus kepada permainan begitu mengetahui bahwa merekalah yang akan menang. Ia sedang asik memandangi makanan yang ada di atas meja. Ya, Amora sedang memilih ia akan memakan apa selanjutnya
"Kue stroberi atau coklat ya" Amora sedang mempertimbangkannya. Ia harus menawarkan Tuan Albert disebelahnya sebelum ia bisa memilih kedua kue itu. Jadi ia harus memilih dengan fokus
Akhirnya ia memutuskan untuk memakan kue rasa coklat, ia mengambil kedua kue itu dan menengok kearah Albert dengan senyum manis
"Kue stroberi ini untukmu tuan" Katanya sambil menggeser piring yang berisi kue stroberi kearah lelaki itu. Albert memandang muka tersenyumnya dan merasa geli. Pandangannya beralih kearah kue coklat yang cepat-cepat disembunyikan oleh gadis itu
"Aku tidak suka rasa stroberi, berikan aku yang coklat" Katanya dingin, suaranya pelan jadi hanya Amora yang bisa mendengarnya
"Maaf tuan, kue coklat sudah habis" Ucap Amora sambil masih tersenyum, padahal di dalam hatinya ia sudah mengutuk Orang Menyebalkan di depannya ini.
__ADS_1
"Oh ya?" Albert tersenyum mengejek dan menunjuk kue yang disembunyikan dengan jari telunjuknya, ingin rasanya Amora mematahkan jari itu sekarang, tetapi ia tidak bisa karena kali ini ia bergantung kepada bawahan orang ini
Dengan tersenyum paksa ia memberikan kue coklat pilihannya kearah Albert. Ia kemudian berpaling dan menatap jalannya pertandingan sambil bergumam kesal
"kue stroberi mu nona" Albert menggeser kue stroberinya kedepan Amora yang dibalas dengan dengusan gadis itu, tetapi pada akhirnya Amora mengambil garpu dan mulai memakan kue yang disodorkan.
Albert tersenyum kecil melihatnya, memandang kue coklat didepannya yang sebenarnya tidak ia sukai dan mulai memakannya. Rasa mual mulai terasa di perutnya, ia tetap memaksakan diri untuk menyendok sedikit demi sedikit dengan tempo selambat-lambatnya
Dari balik topengnya, Vincent memandang Albert dengan aneh. Ekspresi mual yang tidak bisa disembunyikannya itu membuatnya merasa terkejut. Mengapa bos nya itu masih memaksakan makan kue berasa coklat yang tidak ia sukai?
"Huft" Vincent menghela nafas sambil tetap memperhatikan bosnya. Di ujung sana Quinn merasa ada harapan untuknya dalam meraih kemenangan ketika melihat Frins menghela nafas, ia mulai mencondongkan diri dari tempat duduknya
Quinn tidak sabar menunggu permainannya berakhir, jika Frins kalah disini ia bisa membuat reputasinya jatuh dan mendapatkan perusahaan GuQu, seperti melempar dua burung dengan satu batu! Siapa suruh Tuan Frins terlibat dengan pertarungannya
"Jadi, aku menang lagi bukan saat ini?" Xavier berdiri, wajahnya tidak bisa tidak tersenyum, ia bahkan tidak mau repot untuk menyembunyikan muka bahagianya. Amora tertawa kecil, pasalnya ia tadi melihat Vincent menukar kartu dengan yang ada di lengan bajunya, untung saja dia ada di pihak mereka
"ck.. Tunggu saja lima tahun lagi" Quinn beserta para asistennya keluar dengan tergesa-gesa
Xavier bersalaman dengan Vincent sambil mengucapkan beberapa kata terima kasih dan basa-basi lainnya. Dari pinggir Amora melihatnya sambil tersenyum berseri-seri.
__ADS_1
"Baiklah sudah waktunya untuk pulang. Tuan Frins, aku harap kamu bisa datang untuk makan malam bersama kami minggu depan sebagai tanda terima kasih dari keluarga Guivera" Kata Xavier.
Xavier menatap Vincent di depannya dengan pandangan antusias. Sedangkan Vincent sendiri bingung haruskah ia menolak atau tidak karena jika ini situasi biasanya pasti ia akan menolak, tetapi saat ini...
Vincent memandang Albert menunggunya untuk berbicara.
"Tentu saja Tuan Frins ada urusan lain kakek, benar kan?" Amora mewakilinya untuk berbicara, ia berpikir Vincent memandangnya untuk meminta bantuan, karena ia tidak bisa bergabung untuk menyembunyikan identitasnya
"Oh kamu benar" Xavier baru menyadari bahwa ia salah untuk mengundang seseorang yang tidak ingin identitasnya diungkap.
"Tidak apa, minggu depan kami bisa hadir" kata Albert. Amora langsung menatapnya degan pandangan permusuhan. Mata Albert menyipit dibalik topengnya
"Bagus bagus" Seru kakeknya yang sedang merasa bahagia. Vincent dan Ben menatap Bosnya heran, minggu depan bukankah mereka harus pergi untuk mengurus sesuatu
Amora juga ikut mengutuk di dalam hatinya, tadinya ia berencana untuk pergi memulai bisnis barang antiknya, tetapi sayangnya sekarang gagal.
Dengan Tuan Xavier yang memimpin mereka keluar dari kasino dan menuju mobil mereka masing-masing yang sudah dibawakan oleh supir dari tempat parkir jadi mereka tidak harus berjalan kesana
"Kamu masih berutang satu kepadaku" Albert berbisik kearah telinga Amora sebelum ia masuk ke dalam mobilnya. Mobil itu berjalan menjauh dari pandangan Amora
__ADS_1
"bos, pikirkan lagi, kita tidak bisa menunda jadwal minggu depan" Ucap Ben frustasi, ia melihat bos nya sedang memandang keluar jendela dari kaca spion.
"Kita bisa dan kita akan" balasnya dengan yakin