
"dasar orang aneh tidak tahu diri" Ketika Ben masuk terdengar suara kutukan Amora, ia tentu saja tahu kutukan itu ditujukan kepada siapa. Ben mengetuk pintu kamar Amora dan seketika di dalam menjadi hening.
"Amora nya tidak ada" Amora berseru kesal ketika Ben tidak kunjung berhenti mengetuk, Ben terkekeh pelan. "Ini Ben Nona Amora, Bos besar mengatakan ia tidak akan pulang malam ini" kata Ben, ia mengeraskan suaranya supaya Amora bisa mendengarnya
"baguslah, gausah ketemu selamanya lagi kalau bisa" Amora berkata Keki dari dalam kamar, Ben menghela nafas kasihan karena permintaan Amora itu tidak akan bisa terwujud
Ben masuk ke dalam kamarnya, menyalakan lampu dan merebahkan dirinya diatas kasur, matanya tidak sengaja menuju kearah laptopnya dan langsung tercengang. Ia segera duduk di hadapan laptopnya dan mengetikkan kode-kode pencegah
"Baiklah aku akan menemani mu bermain malam ini saja" Ben tersenyum kecil, ia sangat yakin pelakunya adalah Miss Lotus_ai yang lebih dikenal sebagai Amora
"kalah biarin aja komputernya eror, biar si muka tembok itu memohon kepadaku" Amora berseru lantang, kamarnya yang bersebelahan dengan Ben membuat Ben bisa mendengar seruannya itu, ia tersenyum kecil ketika mendengar Amora tertawa jahat sebagai lanjutannya
Akhirnya malam itu mereka habiskan untuk bermain-main di komputer mereka. Keesokan paginya Amora keluar kamar sambil menguap, ia kelepasan begadang semalam sehingga ia harus meminum kopi saat ini
Mengapa ia tidak menyempurnakan saja antivirus miliknya daripada membuang waktunya bersama Ben hanya untuk melampiaskannya
"selamat pagi Nona Amora, ingin meminum kopi?" Ben bertanya, lelaki itu juga keluar dari kamarnya ketika mendengar pintu kamar Amora terbuka
Amora mengangguk lalu menguap, ia berjalan ke dapur dan membuka kopi instan lalu menyeduhnya di gelas, ia menyeduh dua kopi, satu untuknya dan satu lagi untuk Ben
"jangan di tepis" Amora memandang Ben dengan tajam. Hanya ketika cowok itu mengangguk ia memberikannya satu gelas kepada dirinya
Ia menguap ketika duduk di sofa di depan TV dan menyalakannya, matanya menyala gembira ketika ia melihat benda yang bentuknya seperti permainan yang ada di masa depan. Ia langsung mengambilnya dan mencoba mencari tahu bagaimana cara menggunakannya
__ADS_1
Tadinya Ben ingin kembali ke kamarnya untuk tidur tetapi niatnya terusik ketika melihat Amora sedang memandangi PS miliknya dengan pandangan bingung
"Sini aku bantu" Akhirnya Ben tidak bisa menunggu lagi, ia memasangkan kabel pada TV dan mencolokkan dua stik agar mereka bisa memainkannya
"wah, bagaimana cara memainkan benda ini" tanya Amora bingung sekaligus kagum, di masanya yang dulu permainan sudah bisa dimainkan seperti 3D dan tidak perlu menggunakan stik aneh ini lagi
Ben dengan sabar mengajarinya, ia mengajari Amora bagaimana caranya bermain Smack Down, game PS yang pertama kali Amora mainkan di masa ini
(PS: Game PS yang pertama kali aku mainkan juga lawan saudara, tapi kalah )
Untungnya Amora cepat mengerti cara mengoperasikan permainan ini, sehingga sebentar kemudian ia menjadi sama jagonya terhadap Ben dalam memainkan PS
"Gabisa, aku mau pake karakter yang itu" Amora kini sedang beradu pendapat dengan Ben, ia berebut karakter yang menurut analisanya presentase kemungkinan menangnya lebih tinggi daripada yang lain
"makan yuk" Amora berjalan ke dapur, mengambil sereal yang ia temukan di kulkas lalu menuangkannya di mangkok lalu susu kemudian. Ia membawa dua magkok dan menyerahkan satu ke Ben. Kini, mereka berdua bermain PS sambil memakan sereal
"Gimana nihh!!" Amora berkata panik ketika karakternya dikunci gerakannya oleh pihak lain, Ben tersenyum sambil menghitung mundur. Sudah pasti gadis itu akan kalah kali ini
... 1" Ben berseru lebih kencang ketika hitungan mundur mencapai angka satu.
"kalah!" Amora berteriak, ia membanting stik PS ke sofa tetapi sayangnya mental dan jatuh ke lantai bertepatan dengan pintu yang terbuka
Amora mendengus melihat siapa yang datang. Dengan berpura-pura tidak ada yang terjadi, ia mengambil stik PS dan memulai game Smack Down sekali lagi. Ben tidak tahu harus melakukan apa saat ini, ia hanya mematung tidak mempedulikan Amora yang menyuruhnya memilih karakter untuk memulai game
__ADS_1
Akhirnya dengan kesal Amora menatap Ben, dan tersenyum kesal ketika melihat ketakutannya saat Albert datang. "yasudah aku akan tidur saja saat ini. Selamat tidur Ben, pasti kamu mengantuk karena semalaman begadang" Ucap Amora sambil beranjak ke kamarnya, ia tidak menyadari kalimatnya yang terdengar ambigu itu mendatangkan bahaya kepada Ben.
Ben mengasihani dirinya yang sebentar lagi akan mendapatkan kesialan. Ben ingin menjelaskannya kepada bos besarnya tetapi ia sudah berjalan menghalangi pintu kamar Amora, membuat gadis itu menatapnya dingin
tatapan mereka berdua bertemu di udara, tidak ada yang memulai pembicaraan dan hanya saling menatap saja. "huft" Albert menghela nafas, mulutnya diusahakan untuk tersenyum saat ini
"aku membawakanmu sarapan" kata Albert, ia mencoba menghilangkan nada dinginnya sampai-sampai Ben merasa ada yang salah dengan bos besarnya itu.
"makan saja sendiri, aku ingin tidur saat ini, jadi minggir" Amora berkata dingin, mukanya yang datar menatap secara langsung ke muka Albert.
"tapi nanti supnya akan menjadi dingin" kata Albert lagi. Amora tidak bergeming dan hanya terdiam tidak peduli.
"aku sudah makan, jadi permisi" Amora mengulangi lagi. Albert melihat tatapan keras kepala di matanya dan menyingkir. Amora dengan cepat langsung masuk ke dalam kamarnya dan menguncinya
"Konyol sekali, apakah ia kira aku bisa disogok dengan makanan" Amora berkata kesal sambil meloncat keatas tempat tidurnya, ia langsung tertidur ketika menyentuh kasur
Di luar kamar, Albert masih terdiam di depan pintu, tentu saja ia mendengar ucapan Amora barusan, ia menyayangkan makanannya dan menyuruh para pelayan untuk meletakannya di tudung saji agar ketika Amora bangun ia bisa memakannya. Ia mengingat Amora belum makan besar kemarin, gadis itu hanya memakan kue yang ada di pesta dan belum sempat makan berat
Ben melihat bos nya yang sedang menginstruksi para pelayan untuk dengan hati-hati menaruh makanan di dalam tudung saji dengan aneh. Yang lebih aneh adalah Albert segera pergi setelah melakukan itu, Ben sih merasa bersyukur karena ia tidak terkena imbasnya
tetapi ternyata ia salah, ketika ia membuka email, ia dikejutkan dengan banyaknya pesan masuk yang datang. Membuatnya ingin menangis tetapi tidak bisa. Ketika ia mengira pesan yang masuk sudah selesai, datang lagi gelombang kedua dan ketiga.
Ia menghela nafas dan mulai membaca email itu dari yang paling bawah
__ADS_1