Jodoh Sandiwara

Jodoh Sandiwara
23. Bertemu


__ADS_3

Amora memandang "Rumah minum teh" yang ada di depannya dengan tatapan sangsi, apakah rumah minum teh di masa ini sangatlah mewah? Ia berjalan menuju lobi dan seseorang dengan pakaian pelayan mendatangi dirinya.


"Nona muda sedang mencari siapa?" Tanya pelayan itu, Amora segera mengatakan apa yang disuruh Tuan Frins tadi malam, ia mengatakan ada yang sedang menunggunya di kamar 809. Awalnya pelayan itu terlihat sangsi kemudian ia mengantarkannya.


Amora terkejut, "rumah minum teh" ini sangatlah mewah sampai mereka harus pergi ke lantai delapan untuk pergi ke ruangan yang dimaksudkan.


"tok.. tok.. tok.." Pelayan itu mengetok pintu


"Tuan, aku membawa tamu" Katanya, kemudian sebuah suara menyuruh mereka masuk dan Amora melihat ketiga orang yang sedang duduk mengelilingi meja bundar besar di tengah ruangan


Pelayan itu berhenti hanya sampai ambang pintu dan pamit diri, Amora memberinya sedikit uang untuk tip lalu menutup pintunya


"Tuan Vincent? Tuan Albert? apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Amora bingung. "Apakah aku salah masuk kamar?" Gumamnya pelan, ia terlihat sedang berpikir


Albert tersenyum geli melihat Amora yang sedang kebingungan tetapi ia berpura-pura seperti biasa sambil meminum tehnya, Vincent menatap bosnya dan menghela nafas. Mengapa ia harus terjebak ditengah-tengah mereka


Ben yang pertama bereaksi. Ia bangkir dari tempat duduknya dan berjalan ke depan Amora sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.


 "Apakah ini Nona Lotus.ai_ yang ada di depanku" Tanyanya geli meyebutkan nama samaran Amora di dunia maya, Amora menatapnya heran, bagaimana ia bisa tahu nickname nya itu.

__ADS_1


Kecuali.... kalo dia adalah GhostEvil yang membuatnya tidak tidur semalam suntuk


"Tuan GhostEvil, senang bertemu denganmu. Tetapi aku lebih suka jika kamu memanggilku Amora saja" Amora menjabat tangannya sambil tersenyum sopan, dalam hatinya ia sudah mengutuk Ben yang membuatnya tidak tidur semalaman


"Nama asliku adalah Raven Moi, tetapi namaku yang biasa dipakai adalah Ben. Senang berkenalan dengan mu Nona Amora" Ia tersenyum sambil balas memperkenalkan diri


"Baiklah tuan Ben. Senang berkenalan denganmu juga" Kata Amora, ternyata kedua peretas yang ia temui adalah satu orang. Baguslah kalau begitu, ia kira ada banyak peretas di kota K ini. 


(Kedua peretas: Waktu perkenalan resmi dan waktu Vincent panik karena layarnya aneh itu loh)


Ia melihat kearah Albert yang sedang meminum tehnya, bahkan Amora sempat mengira orang ini adalah peretas juga, ia tertawa kecil mengingatnya.


Albert melihat kearah Amora yang sedang menatapnya, tatapan mereka bertemu dan dikunci di satu titik. Albert memalingkan pandangannya kearah Vincent dan mengangguk, Vincent menghela nafas, mengapa harus dia lagi yang menjadi korban


Amora duduk lalu mengambil menu dan mulai memilih makanan yang ia mau, ketiga orang itu ikut memesan karena mereka semua terutama Albert sangat gugup karena pertemuan ini entah mengapa, jadi tidak ada yang sempat menyentuh sarapan mereka dan hanya memesan teh untuk mereka minum selagi menunggu Amora


"tempat ini tidak seperti rumah teh sederhana yang kamu bilang tadi malam" Sambil memotong daging nya Amora berkata.


"hahaha tentu saja, ini adalah salah satu properti milikku dan tidak ada satupun propertiku yang sederhana di mata orang lain" Ben menyombongkan dirinya sendiri, Amora mengerti apa maksudnya itu, maksud sebenarnya dari kalimat itu adalah rumah teh ini terlihat sederhana di mata Ben.

__ADS_1


Tapi Ben tidak berbohong, Rumah teh ini memang dinamakan Rumah Teh Moiven walaupun dengan kemewahan yang tidak biasa. Tempat ini terdiri dari delapan lantai, dengan 20 ruangan di setiap lantainya yang pastinya luas. Tempat yang bagus untuk memamerkan kekayaan lah intinya


Setiap ruangan mirip dengan yang mereka tempati, ada satu meja bulat besar ditengah ruangan dan mereka akan duduk diatas bantal yang empuk. Di dalam kamar juga terdapat jendela besar yang dapat membuat orang dengan mudah melihat kearah luar, pemandangan diluar sangatlah indah.


Dengan Ac yang menyala dan berbagai fasilitas lainnya membuat Amora memuji layanan rumah teh ini sebagai salah satu yang terbaik


Amora menyesap teh nya dengan perlahan, meletakkannya dan memandang Albert.


"Jadi, siapa diantara kalian adalah Tuan Frins" Tanyanya langsung, ia memandang ketiganya yang sedang meminum teh mereka


"Itu aku Nona" Vincent tersenyum kearahnya dan menaruh cangkir tehnya


"Lalu apakah kamu setuju untuk mewakili keluarga Guivera untuk melawan keluarga Quin dalam pertarungan saham?" Tanya Amora untuk memastikan, Vincent menghela nafasnya, bagaimana ia bisa tidak setuju ketika Albert menyuruhnya untuk menyetujuinya


"tetapi aku meminta tiga hal dari Nona Amora, aku tidak tahu apakah nona Amora bersedia?" Vincent mengatakan seperti apa yang disuruh oleh Albert


"Katakan saja" ucap Amora. Ia sudah bisa menebak pasti Tuan Frins ini akan meminta sesuatu sebagai imbalannya.


"Pertama, aku ingin Nona Amora pergi bersama kami untuk mengisi seminar tentang teknologi di Universitas di ibu kota. Kedua, kami ingin Nona Amora tidak memberitahukan tentang Frins kepada siapapun termasuk kakekmu, dan yang ketiga aku belum memikirkannya" Vincent baru saja mengucapkan tiga syarat, dua dari itu bisa Amora janjikan tetapi ia ragu akan syarat yang ketiga

__ADS_1


"Tenang saja Nona, Syarat yang ketiga aku jamin tidak akan memberatkan diri nona" Vincent paham akan kekhawatiran Amora dan menenangkannya, lagi pula bos nya adalah orang yang logis dan pasti permintaannya akan logis juga. Iya kan? (hahahahahahahaha, maaf akan mengecewakanmu Vincent)


"baiklah aku setuju" Amora mengangguk, perjanjian telah dibentuk diantara mereka berdua. Ben menatap Amora dengan senang, kali ini seminar itu tidak akan membosankan sama seperti tahun-tahun sebelumnya, akhirnya ia akan bisa menendang orang tua keras kepala itu dengan kejeniusan Amora!


__ADS_2