Jodoh Sandiwara

Jodoh Sandiwara
4. Bertemu kakek


__ADS_3

Nyonya Aria melihatnya dengan mata kemarahan yang samar, tetapi ditutupinya dengan senyum, "salam Nyonya Lisa" Ia tersenyum menyambut Lisa dan dibalas juga dengan sapaan yang sopan, "Salam" Lisa tidak menyebutkan nama Aria. Karena sebenarnya, ia tidak menerima Aria yang berasal dari keluarga yang lebih hebat dari dirinya, itu membuatnya sedikit rendah diri. (Padahal dia kan selirnya~ :( )


"salam selir ayah" Dengan santai Amora menyebut sebutan selir yang ia dapat dari buku yang pernah dibacanya, kalau tidak salah itu artinya adalah istri kedua dan posisinya lebih rendah daripada permaisuri yang juga istri utama.


Nyonya Lisa membeku, tentu saja ia mengetahui apa arti dari selir itu, "Amora, minta maaf!" Tuan Kenneth berseru, Amora menghela nafas dan meminta maaf


"Maafkan aku selir kedua ayah" Ia meminta maaf dengan tulus, tetapi rupanya tuan Kenneth tidak menyukai permintaan maafnya, karena ia berteriak lagi, "Amora! Kamu harus diberi pelajaran" Kemudian Tuan Kenneth mengangkat tangannya untuk menampar Amora.


Tangannya menahan tamparan, ia memelintir tangan ayahnya, "Tuan Kenneth, bukankah ada hukum yang melarang kekerasan terhadap seorang anak" Ia bertanya dengan pelan, Amora juga tidak mengetahui apakah hukum itu ada atau tidak, tetapi ia yakin pasti ada.


Suasana kemudian hening, Kenneth juga merasa dirinya terlalu berlebihan karena Amora masih memiliki dukungan yang kuat yang tidak bisa ia singgung, ia menepis tangannya dan berjalan menuju Lisa.


"Sudahlah, pokoknya kamu tetap akan menikah dengan Tuan Bernard dan keputusan itu sudah bulat" kemudian ia keluar dari kamar dengan menggandeng tangan Lisa, meninggalkan Amora dan ibunya yang saling menghela nafas.


"Tenang saja, aku akan memikirkan cara agar kamu dapat membatalkan pertunangan itu" Aria bersungguh-sungguh, mungkin ia akan meminta bantuan kepada ayahnya agar dapat membantunya menggagalkan pertunangan Amora, walaupun mereka sudah putus hubungan tetapi itu layak dicoba.

__ADS_1


mendengarnya, Amora tersenyum dengan terharu, suasana ini terasa familiar seperti yang dikatakan oleh kakaknya ketika kedua orang tuanya tiada.


"terima kasih ibu" Ia tersenyum, tetapi di dalam hatinya ia bertekad akan mencari caranya sendiri.


Hari berganti hari ketika ia berdiam diri dirumah sakit, Amora sedang membaca buku fisiologi yang ia minta belikan kepada ibunya, ia sedikit tertawa ketika melihat ekspresi kaget nyonya Aria sewaktu ia memintanya, bahkan ibunya membawakannya dokter sebelum akhirnya membelikan tiga buku yang diminta.


"Tok.. tok.. tok" Ketukan kali ini terdengar, Amora yang sedang membaca buku tentang fisiologi menghela nafas dan mengizinkan masuk. ibunya sedang pergi membelikannya makanan dan ia harus meladeni tamu ini sendirian.


"Amora, apakah kamu baik-baik saja?" Yang bertanya adalah kakeknya dari pihak ibu, ia bersama dua orang laki-laki sepantaran ibunya masuk sambil membawa sekeranjang kue. 


"Siapa?" Amora bertanya bingung, ia juga heran ketika melihat mereka membawakan kue mahal dibandingkan buah yang biasa menjadi buah tangan untuk menjenguk orang sakit.


Tidak heran mengapa pamannya menjawabnya dengan singkat dan tidak heran juga mengapa mereka membawakan kue mahal dibandingkan dengan buah. Amora mengutuk Amora yang dahulu, sangat disayangkan ia menghiraukan semua hal baik yang tersedia. Karena itu, ia tidak akan mengulanginya lagi.


"Selamat datang kakek" ia berdiri dari tempat tidurnya dan merasa sedikit oleng, "Amora' mereka bertiga berteriak berbarengan, bahkan pamannya memegang tangannya untuk menopang, "Aku tidak apa paman" Ia tersenyum dan berjalan menuju sofa dan duduk disebrang kakeknya.

__ADS_1


Tuan Xavier Guivera, atau bisa disebut kakeknya mempunyai tiga anak, yaitu Brian Guivera, Rafael Guivera, dan ibunya sendiri, Aria Guivera. Umurnya sudah masuk kepala lima tahun lalu tetapi ia sendiri masih terlihat muda.


Xavier adalah seorang pria yang sangat melindungi anaknya, namun ia kecewa ketika melihat Aria menentang keluarganya hanya karena permintaan tidak masuk akal dari gadis kecil di depannya, itu membuatnya tidak terlalu suka dengan Amora.


"kakek seharusnya menelpon aku terlebih dahulu sebelum datang sehingga aku bisa membelikan kue coklat kesukanmu" Kata Amora sambil menuangkan teh ke empat cangkir di depannya.


Ketiga orang tua itu terheran-heran melhat gerakan Amora yang sangat halus, Amora yang mereka ingat bahkan tidak bisa menuangkan teh kedalam cangkir.


"Ehem" Xavier terbatuk pelan, "apakah kamu merasa baikan?" Tanyanya menyembunyikan keheranannya. 


"Tentu saja aku merasa lebih baik karena kakek mengunjungiku" Amora menyesap tehnya, memandang ketiga orang di depannya yang sedang bingung sambil tersenyum elegan.


"Aku rasa dia tambah sakit, lihatlah apa yang ia baca" Rafael membawa buku fisiologi yang baru saja ia baca dan menunjukkannya. Amora terbatuk pelan sambil menyeka teh yang tidak sengaja tersembur.


"Hanya sedikit bacaan ringan" Amora menutupinya dengan senyum kecil. "Ringan? Aku saja menghafal buku itu sampai setengah mati" Brian yang juga seorang dokter terkejut dan merasa pasti bukan Amora yang membaca buku itu, pasti buku itu adalah hadiah, pasti.

__ADS_1


"Aku baru saja membaca sampai sistem saraf, paman pasti lebih hebat dariku" ia mengembalikan pujian lagi dengan tenang. "Apakah kamu mengerti isi dari buku ini?" tanya pamannya lagi.


Tentu saja Amora mengerti, siapa orang yang tidak mengerti setelah membaca satu bab buku, untung saja Brian tidak dapat membaca pikirannya, jika tidak mungkin Amora sudah dilemparkan keluar jendela karena kesal.


__ADS_2