
"Siapa ya" Amora berkata bosan kearah Jaqueline, "Aku Jaqueline, sahabatmu" Jaqueline membalasnya, Amora mengutuknya di dalam hati.
"Masih tidak tahu malu"gumamnya, Amora ingin menghiraukannya tetapi rupanya Jaqueline sepertinya tidak mengerti bahasa manusia, ia langsung saja duduk disebelah Amora dan mulai berbicara dengan yang lainnya.
Amora memainkan HP nya sambil meminum jus yang dibelinya, ia tidak menghiraukan Jaqueline yang sedang berbicara dengan semangat ini, ketiga laki-laki yang sedang mengobrol merasa heran, bukankah Jaqueline ini tau dirinya tidak diterima disini.
Mereka ikut menghiraukannya dengan tidak menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Jaqueline dan hanya berbicara diantara mereka, Jaqueline berhenti berbicara dan menyadari ia sedang diacuhkan, ia memandang Amora yang sesekali tertawa dengan kesal.
"Oiya Amora, kamu pasti bisa dapat laki-laki yang lebih baik lagi daripada Bernard, tenang saja" Jaqueline lalu memegang tangan Amora yang ditepis oleh pihak lain, "Jangan pegang, kotor" Amora mengelap tangannya di rok sekolahnya.
"Amora, kamu masih marah sama aku?" Tanyanya, Amora tidak menjawabnya, Jaqueline meneteskan air matanya "maafkan aku Amora, aku akan meminta putus dengan Bernard untukmu" Jaqueline menaikkan volume suaranya, suasana kantin menjadi sepi
Semua orang berbisik sambil menunjuk Jaqueline yang sedang menangis, puncak konflik tiba ketika Bernard datang kearah mereka dan mulai menenangkan Jaqueline. Amora melihat kedua pasangan dengan dingin.
"Bernard, sebaiknya kita putus saja. Aku menyukaimu tetapi sahabatku juga menyukaimu" Di sela-sela tangisnya Jaqueline meminta putus kepada Bernard. Bernard menggeleng dan menatap marah kepada Amora.
"Kamu jahat sekali Amora, aku tidak akan balikan denganmu sampai kapanpun" Ia berseru, Amora menatapnya nanar. "baguslah kalau begitu, Amora tidak akan rugi juga" Tanpa diduga Noel ikut masuk dalam pembicaraan, yang lain menatap Noel dengan pandangan tidak percaya.
"Sudahlah, ayo pergi dari sini Amora. Hiraukan saja sampah itu dan perempuan sampahnya" Rafael bangkit dari kursi yang diikuti oleh Noel dan Taqi, Amora mengangguk dan pergi bersama mereka.
__ADS_1
"Tunggu Amora, aku minta maaf karena telah merebut tunanganmu" Jaqueline tidak suka diacuhkan, tidak ada yang berani mengacuhkannya karena ia cantik, jelas-jelas ia lebih cantik daripada Amora tetapi mengapa trio itu memilih Amora daripada dia.
"Tidak usah meminta maaf, Aku tidak menyukai nona arogan itu, hanya kamulah yang aku sukai" Bernard memeluk Jaqueline yang terlihat merana.
Melihatnya Amora memutar matanya, ia tidak mengetahui alasan mengapa Amora yang dulu menyukai laki-laki seperti itu. Amora melangkahkan kaki keluar dari kantin bersama trio yang juga merasa jijik
"Tidak disangka sampah itu beneran sampah" Rafael megutuk Bernard lagi, bukankah selama ini Bernard berpacaran dengan Amora? mengapa ia mengatakan bahwa ia tidak menyukainya sekarang.
"sampah organik" Taqi mengangguk, Amora tertawa mendengarnya. "Busuk dong" kata Amora mengerti leluconnya, lalu tertawa lagi ketika Taqi mengangguk.
"baiklah, aku kembali ke kelas duluan" Amora berlari menuju kelasnya karena sebentar lagi bel akan berbunyi, ia melambaikan tangannya sambil berlari.
"Sekarang aku mengerti mengapa kakakmu tertarik dengannya" kata Taqi kepada Noel, tuan muda keluarga Ouyang yang keempat.
Amora menghela nafasnya untuk yang kesekian kalinya, untung saja ia tidak satu kelas dengan mantan sahabatnya ataupun dengan mantan tunangannya itu.
"Hai Amora" Rafael melambaikan tangannya sambil masuk kedalam kelas,"Ngapain?" Tanya Amora
"Ini kelas kami tau" Noel terkekeh lalu duduk di bangku paling belakang, tepat beda dua bangku dari Amora. "kelas kalian!" Amora berseru tidak percaya, kalau begitu mengapa tadi ia berpamitan dengan mereka, benar-benar mengesalkan.
__ADS_1
Rafael tertawa melihat ekspresi muka Amora, ia menyentil dahi Amora lalu kabur dan segera dikejar oleh Amora keluar kelas
"Larimu cepat juga" Rafael terengah-engah ketika ia masuk kedalam kelas lagi bersama dengan Amora, Amora mengelap keringatnya dan meminum air yang ia bawa
"Bukan aku yang larinya cepat, kamu aja yang lambat" kata Amora geli, di kehidupannya yang lama, demi mempertahankan hidupnya ia harus belajar bela diri dan suatu waktu ia harus berlari dari kejaran pembunuh yang memburunya.
Bel masuk pun berbunyi, Amora segera kembali ke tempat duduknya, teman-teman sekelasnya satu persatu memasuki kelas dan guru masuk untuk mengajar pelajaran matematika.
Guru itu duduk di meja guru dan memandang Amora dengan tatapan rumit, ketika ia sedang berada di ruang guru, Tia berseru heran yang membuat perhatiannya teralihkan, ternyata Tia berseru kaget karena Amora berhasil mendapat nilai sempurna untuk pelajaran sejarah.
Gina percaya Amora menyontek dalam ulangan tetapi Tia mengatakan yang sebaliknya, apakah benar anak bodoh itu berubah menjadi pintar dalam sekejap.
Gina mengambil pandangannya kembali dari Amora, "Kumpulkan PR kalian" Ia menyuruh semua murid untuk mengumpulkan PR nya.
Amora terkaget, PR? ia segera melihat buku tugasnya yang bersih tanpa coretan dan mengeluh, apakah Amora yang dulu tidak pernah mencatat apapun.
Gina memandang Amora yang terlihat lesu dan menyadari anak itu belum mengerjakan PR-nya, "angkat tangan bagi yang belum membuat PR" perintahnya, segera saja Amora, Taqi, Noel, Rafael dan beberapa anak lainnya mengangkat tangan.
"Oke, kalian maju dan kerjakan soal di papan tulis ini" Gina menulis soal, seperti biasa jika ada yang belum membuat PR maka anak itu harus mengerjakan soal yang diberikannya.
__ADS_1
Noel yang sudah terbiasa maju memandang Amora karena ia yakin anak itu tidak dapat menjawabnya, tetapi diluar dugaan Amora dapat mengerjakan soal yang terbilang sulit itu dengan mudahnya.
di dalam hatinya Amora bersyukur karena dirinya dulu sudah terbiasa menghadapi persoalan seperti ini, ia hanya bisa mengandalkan ingatannya yang dulu karena tubuh ini masih sangat bodoh.