
Pesta sudah berakhir dan para tamu satu per satu pun pulang, hanya tersisa Amora dan keluarga Guivera yang sedang mengobrol santai.
"Terima kasih atas undangan hari ini tuan Guivera, aku kira aku tidak akan mendapatkan undangan" Seseorang berjalan mendekat kearah mereka membuat yang lain menatap kearahnya.
Amora memandang pria seumuran kakeknya itu dengan penuh tanda tanya, kebanyakan para tamu disini sudah kembali ke urusannya masing-masing tetapi sepertinya tamu ini menunggu sampai semua tamu pulang.
"Oh Tuan Quin, apa kabarmu? Aku tidak melihatmu daritadi, apakah kamu merasa malu karena akulah yang menjadi pemimpin perusahaan kita berdua?" Xavier bangkit dari tempat duduknya, berjalan kearah Tuan Quin yang menatapnya kesal
"Jangan sombong dulu, kamu kira kamu bisa mempertahankan perusahaan itu. Jangan lupa dua hari lagi adalah hari penentuan antara aku atau kamu yang memegang saham terbesar" kata Quin
"Bukankah sudah puluhan tahun keluarga Guivera menang melawan keluargamu?" Balas kakeknya sambil tertawa pelan.
"Tahun ini keluarga Guivera akan jatuh, aku sudah menyewa penjudi terbaik untuk mewakili" orang itu menyombongkan diri tetapi masih dengan suaranya yang sopan.
Quin Hazel, dulunya adalah teman terbaik kakeknya sewaktu kuliah bisnis, mereka berdua mendirikan perusahaan GuQu yang diambil dari kedua nama mereka.
Namun, Tuan Quin merasa dikalahkan oleh Xavier karena kebanyakan rekan kerjanya lebih memilih untuk bekerja sama dengan Xavier, bahkan ada yang terang-terangan menolaknya ketika ia mengajukan kerja sama.
Akibat dendam di dalam hatinya, ia mulai memecah perusahaan GuQu dengan caranya yang licik, tetapi kakeknya mengetahuinya dan berhasil mengamankan lebih dari setengah aset perusahaannya.
Quin yang marah karena rencananya gagal mengajukan perdamaian dengan cara mengadakan pemindahan saham setiap lima tahun sekali.
Saham yang dimiliki oleh Xavier beserta pendukungnya berjumlah 51%
__ADS_1
Sedangkan saham yang ia dan pendukungnya miliki sebanyak 43%
Dan sisanya adalah saham yang dijual dipasaran yang bisa dibeli oleh masyarakat.
Setiap lima tahun mereka mengadakan permainan judi dan yang memenangkannya akan diberi saham sebanyak 5% yang berarti akan mengganti kedudukan saham terbanyak jika Quin yang menang
(Paham kan ya, misalnya yg menang si Quin, berarti 51% punya Xavier dipindahin 5% nya, jadi Xavier punya 46% dan Quin punya 48%. Sedangkan kalo Quin kalah Xavier tetap punya 51% saham)
(tetap tidak mengerti? tanyakan saja, itulah guna kolom komentar selain menulis komentar 😮)
Walaupun hanya berbeda 2% tetapi dua persen dari ratusan miliyaran itu tidaklah sedikit dan sesuai peraturan, orang yang mempunyai saham terbanyak adalah yang mengatur perusahaan.
Xavier tidak bisa seenaknya mengusir Quin keluar dan merebut saham yang dipegangnya karena ada setengah orang di perusahaan yang mendukungnya sedangkan setengahnya lagi mendukungnya
"Oh ya?" Quin menatap mereka dengan pandangan menantang.
"Kriiingg" Suara handphone Xavier berbunyi, ia langsung menjawabnya.
"Halo Danel, ada apa?" Tanya Xavier begitu mengangkat telefon. Mereka semua menatap kakeknya yang terlihat panik, Danel adalah penjudi yang diandalkan oleh keluarga mereka.
"Quin Sialan, apa yang kamu lakukan kepada Danel" setelah menutup telfonnya, Xavier langsung berseru marah kepada orang didepannya itu.
"Tidak banyak, aku hanya mengatur sedikit agar dia masuk ke rumah sakit" Hazel tertawa kecil melihat kemarahan dari mantan sahabatnya itu.
__ADS_1
"Keterlaluan! Jika ia tidak selamat, kamu yang akan membayarnya" Xavier berseru lagi.
"Itupun jika kamu bisa mempertahankan posisi mu di GuQu. Saat ini tidak ada penjudi lain yang bisa menandingi milikku, hahaha" Hazel tertawa keras.
"Selain penjudi nomor satu tidam ada yang bisa menghalangiku sekarang" Hazel tertawa seraya berjalan keluar, meninggalkan Xavier yang sedang menahan amarahnya.
"Sialan" Xavier memegang kepalanya, Amora menyuruhnya duduk dan menuangkan teh nya. Ia berpikir bagaimana cara untuk menolong kakeknya.
"Siapa itu penjudi nomor satu kakek?" Tanya Amora, ia mungkin akan meminta bantuan kepada penhudi itu karena ia sendiri tidak bisa bermain judi.
"Dia... Namanya adalah Frins, ia selalu memakai topeng di setiap tempat judi yang ia datangi, tidak ada yang tahu siapa dia sebenarnya. Datang dan pergi sesukanya" Xavier menjelaskannya.
Suaranya terdengar lemas karena ia merasa sudah kalah, ia tidak bisa meminta bantuan kepada Frins karena ia tidak mengenal orang itu dan tidak tahu harus kemana untuk mencarinya.
Amora terlihat berfikir.
"Apakah dia mempunyai akun Weibo atau semacamnya?" Tanya Amora.
"Ya dia punya, dia biasa memamerkan kemenangan besarnya disana. Tapi ia tidak bisa dihubungi bagaimanapun kamu mencoba" Xavier kembali mengeluh.
"Tenang saja kakek, aku akan mencari cara" Amora menenangkan kakeknya, ia tersenyum penuh semangat.
"Hahaha, Cucuku satu ini. Tenang saja kakek bisa mengatasi hal kecil seperti ini" Xavier tertawa sambil menepuk bahu Amora.
__ADS_1
Tetapi sayangnya Amora dan keluarga Guivera sudah mengerti arti sebenarnya dari perkataannya