Jodoh Sandiwara

Jodoh Sandiwara
37. Saling menggoda


__ADS_3

Mereka akhirnya sampai di sebuah restoran, Amora menahan nafasnya melihat pemandangan keluar jendela,untung saja ia memakai setelan bagus sehingga tidak akan memalukan jika datang ke tempat mewah.


Mereka duduk di salah satu meja bundar, Amora memandang keluar kearah matahari yang sedang tenggelam, dari atas sini ia dapat melihat ibu kota dengan lumayan jelas karena gedung ini lebih tinggi daripada beberapa gedung lainnya dan gedung ini terletak di dataran yang lebih tinggi.


"Indah sekali bukan?" Tanya Kakek Gu, Amora mengangguk. Memang pemandangan ini sangat indah ketika dilihat langsung, bintang-bintang mulai muncul ketika ia makan malam, bulan bersinar dengan indahnya di atas langit


"Baguslah jika kamu menyukainya, benar kan Albert?" Kata Kakek Gu, Albert tersedak oleh wine nya sendiri ketika kakeknya bertanya kepadanya. Ia tidak tahu apa yang ditanyakan jadi ia hanya mengangguk tanpa bertanya lebih lanjut


Kakek Gu tertawa lagi, ingin rasanya Albert mengirimkan dokter untuk memeriksa saluran tertawa kakeknya, siapa tau rusak sehingga ia terus menerus tertawa


"Jadi Amora, mengapa kali ini kamu diajak pergi kemari oleh Albert?" tanya Kakek Gu. "tentu saja ada acara" sahut Albert datar, apakah kakeknya tidak tahu bahwa setiap tahun seminar cyber akan dilaksanakan. Dasar Si Tua penuh basa-basi


"Oh kamu juga bisa" Kakek Gu menjadi lebih bersemangat, teringat almarhumah istrinya yang juga bisa berseluncur di dunia maya. Amora mengangguk, melihat Amora mengangguk, kakek Gu jadi lebih merestui dia lagi dengan cucunya


Lebih baik daripada mantan cucunya yang dulu, Kakek Gu terkekeh. Ia mulai membandingkan Amora dengan gadis terdahulu. Tentu saja Amora yang menang.


"Lalu akan kamu apakan harta yang kamu temukan" Kakek Gu bertanya. Amora menjelaskan rencananya untuk membuka toko barang antik, Kakek Gu tersenyum puas, ruapanya Fang Tua itu juga menyukai Nona muda ini, untung saja cucunya menemukan dia terlebih dahulu sehingga cucu Fang menyebalkan itu tidak punya kesempatan.


"bagus, undang aku dalam pembukaan tokomu" Kakek Gu berseru senang. Vincent merasakan ada yang salah disini, sejak kapan Tuan Besar dengan sukarela mengajukan diri untuk pembukaan sebuah toko. Apakah dua generasi Tuannya sudah memutuskan untuk memilih Amora sebagai pendamping Albert? bukankah itu sangat berbahaya

__ADS_1


Vincent mengingat lagi kejadian nahas yang dialami di tahun-tahun lalu dan menghela nafasnya.


"tenang saja kakek, aku juga berharap kamu bisa mempromosikan toko milikku ke teman-temanmu yang mengoleksi barang antik juga" Amora tersenyum sopan, tentu saja ia tidak akan menyia-nyiakan promosi gratis seperti ini.


"Anak muda penuh ambisius, baiklah" Kakek Gu tertawa, Albert tersenyum lagi melihat kakeknya sepertinya menyukai Amora


_________


"Baiklah, selamat malam Kakek" Amora tersenyum, ia melambaikan tangannya dari dalam mobil kearah kakek Gu. Mobilnya pergi menuju ke hotel Goldentry.


Dalam perjalanan pulang, mobil benar-benar dalam keadaan hening, Amora menghela nafas, atmosfer disini sangat berat rasanya. Ia memandang kearah Albert yang berada disebelahnya, lalu memandang Vincent yang duduk di sebelah Ben yang sedang menyetir


"lalu apa yang harus dibicarakan huh?" Goda Albert, kedua orang yang di depan berpura-pura menulikan telinga mereka.


"Eh?" Amora terkejut, apakah gumamannya terdengar oleh muka dingin bodoh ini.


"Apakah kita mau membahas hal-hal yang dibicarakan oleh pasangan pada umumnya?" Senyum Albert semakin lebar, ia melihat gadis itu semakin tidak nyaman dan semakin menjauh


Mau menjauh? tentu saja tidak bisa, ia menggeser lebih dekat kearah Amora.

__ADS_1


"Jangan deket-deket" Amora menendang kakinya, menahan malu. "Oke" Albert berkata ach tak acuh, ia menggeser lagi


"mau dimulai darimana pembicaraan kita" Albert bertanya lagi, kali ini ia menatap polos kearah muka Amora yang merah tetapi terlihat marah itu. "tidak, mendingan diam saja" Amora buru-buru mencegahnya. Albert mengangguk dan tersenyum puas


Vincent menghela nafas, diikuti oleh Ben.


Amora mengutuk Albert di dalam hatinya, seperti biasanya. Mengapa ia selalu merasa tekanan darahnya naik jika ia berbicara dengan orang menyebalkan itu.


Perjalanan memakan waktu yang sangat panjang, Amora merasakan matanya berat, ia sangat lelah hari ini. Mulai dari keluar masuk toko, melawan gangster yang bahkan Amora tidak kenal. Ia akhirnya tertidur setelah melawan kantuknya.


Albert melihat Amora sudah tidur dan menatap kearah Vincent. "ceritakan apa yang terjadi" Katanya datar. Vincent menceritakan semua kejadian hari ini dengan lengkap. Ia juga meminta maaf karena telah mengajaknya ke makam kuno milik kakeknya, karena itu Amora bisa berada dalam bahaya


"Jangan pedulikan itu" Albert menggeleng ketika Vincent meminta maaf. Vincent merasa tenang di dalam hatinya, bosnya tidak marah rupanya "ngomong-ngomong, cek emailmu nanti" Albert berkata dingin, ia menatap muka polos Amora yang sedang tertidur


Untung saja kucing kecil ini bisa bela diri, seharusnya ia tidak perlu ikut campur dan mengekspos mukanya, ia sudah mengirim bala bantuan kepada kakeknya, seharunya tidak akan ada hal gawat yang terjadi.


Albert memikirkan lagi tentang salah satu anggota gangster yang berhasil melarikan diri, ia pasti melaporkan kepada pimpinannya tentang Amora, ia harus segera mencari tau siapa yang ada di balik layar dan meratakannya.


"Jdug" Mobil melewati polisi tidur sehingga timbul goncangan, "pluk" Kepala Amora berpindah senderan menjadi di bahu Albert. Albert mengernyitkan dahinya tetapi tidak mendorong kepala itu kearah sebaliknya. 

__ADS_1


__ADS_2