Jodoh Sandiwara

Jodoh Sandiwara
39. Daniel???


__ADS_3

"hikss" Amora masih terisak bahkan ketika ia sedang tidur di sofa ruang utama. Albert melihatnya dengan gelisah, mengapa musuhnya mengincar Amora sekarang. Ia mengingat penembak jitu yang sudah dibawa ke markasnya dan merasa benci teramat sangat, rasa benci ini bahkan mengalahkan rasa benci kepada pembunuh ibunya dahulu


"Aku harus menyiksanya dulu dan tidak boleh membiarkannya mati" Gumamnya kecil, tatapan kejam terpancar dari matanya, membuat Vincent yang sedang mengantarkan kopi terasa sedikit gemetar. Ia merasakan kasihan dengan pembunuh itu jadinya


"bilang kepada markas untuk memperlakukan tawanan dengan baik" Albert berkata dengan dingin. Ia membetulkan letak selimut Amora dan kembali ke kamarnya, malam ini ia harus menemukan siapa yang melakukan ini, jika tidak ia tidak akan bisa  berdamai dengan dirinya sendiri


Albert keluar dan memandang Amora sekali lagi. Ia duduk di sofa di depan gadis itu dan berpikir tentang penyiksaan jenis apa yang harus dilakukannya kepada sang penembak jitu itu


"Daniel.." Albert langsung membuka matanya begitu mendengar Amora mengucapkan nama asing yang bahkan ia tidak tahu, siapa itu Daniel? Albert memandang Amora dengan tatapan penuh tanda tanya


"Daniel, takut.. tolong aku" Amora menitikkan air matanya di dalam tidurnya. Perkataan barusan bagaikan petir di malam hari yang cerah untuk Albert, ia mencoba mengingat nama sanak saudara Amora karena siapa tahu Daniel itu adalah saudara Amora yang lain, tetapi sayangnya tidak ada diingatan nya tentang siapapun yang bernama Daniel itu. 


Berkali-kali Amora menyebut nama Daniel di dalam tidurnya sambil meminta tolong, akhirnya Albert tidak bisa menahan diri lagi. "Nona Amora, bangun" Albert membangunkan Amora dengan sedikit guncangan di bahunya. Langsung saja Amora terbangun dan menatap Albert dengan bingung


"Orang cabul, jauh-jauh" Amora langsung menjauh begitu melihat tangan Albert menyentuh bahunya. Albert mengernyit melihat respon dari gadis itu, "Kamu mengigau" Kata Albert datar, kenapa Amora terus saja menganggapnya orang cabul

__ADS_1


Amora masih menatap Albert dengan perasaan waspada, jika ia mengigau bukankah tinggal di hiraukan saja? Melihat Amora yang seperti itu, Albert tersenyum kecil, saat ini ia harus mengetahui siapa itu Daniel agar ia tidak terus menerus berpikiran negatif terhadap Daniel ini


"Siapa itu Daniel?" langsung saja Albert bertanya dengan nada datarnya. Kali ini giliran Amora yang tersambar petir, ia sangat tidak tahu bagaimana cara menjawab pertanyaan itu. Ayolah, masa ia harus menjelaskan bahwa dirinya adalah hasil reinkarnasi dari masa depan, bisa-bisa dirinya dianggap gila oleh muka dingin ini


Melihat Amora ragu untuk menjawab pertanyaan miliknya, entah mengapa Albert merasa sedikit kesal. Ia menunggu dan menunggu, namun Amora tidak kunjung menjawab pertanyaan itu. "apa urusannya denganmu" Setelah beberapa saat akhirnya Amora menjawab, menaikkan satu alisnya dan bertanya seolah ia terusik dengan pertanyaan itu


"Tidak ada" katanya datar, saat ini Albert merasa seperti pipinya di hantam oleh benda keras, dan orang yang menghantamnya itu adalah gadis di depannya ini. Tatapannya kearah Amora  bertambah dingin. (tamparan realita itu memang kejam Al)


Amora merasakan suhu disekitarnya semakin mendingin, Amora merasakan sumber udara membeku itu berasal dari Albert tetapi sayangnya ia terlalu takut untuk mencairkan suasana, ia memberanikan diri untuk menatap mata Albert, tetapi ia hanya menatapnya sekilas dan langsung membuang pandangannya, takut jika Albert mengetahui rahasianya.


Setelah berdoa semoga tidak mengingau lagi, Amora mencoba untuk tidur yang kedua kalinya


Sayangnya, tidak seperti Amora yang bisa tertidur lelap, Albert sedang berjalan bolak-balik di kamarnya, memikirkan kemungkinan terbesar dari seseorang yang bernama Daniel itu, Albert menguras otaknya untuk menemukan apakah ia melupakan nama sanak keluarga Amora yang bernama Daniel itu.


Albert berharap ia salah mengingat tentang sanak keluarga Amora, ia mengingat kembali, apakah Daniel adalah saudara Amora. Jika bukan saudara, maka.... Apakah mereka berpacaran? jika mereka tidak berpacaran, mengapa Amora meminta tolong seperti itu di dalam tidurnya?

__ADS_1


 Albert sungguh frustasi. Ia mengambil handphonenya dan memencet nomor seseorang.


Tunggu, mengapa ia harus frustasi seperti ini, itu bukan urusannya jika si tikus kecil itu ternyata sudah memiliki orang lain yang ia sukai. "Halo" Suara di seberang sana terdengar mengantuk, "Ada apa malam-malam begini kamu menelfon ku, ini waktunya tidur tau" Orang itu menggerutu


Albert hanya diam, ragu untuk menanyakan apa yang ada dipikirannya. "Halooo" suara Orang yang ada di sebrang telefon itu terdengar bete, untung saja itu bos nya yang menelfon nya, jika tidak ia akan membuat orang itu rugi.


"tut" Albert memutuskan sambungan telfonnya, Ben yang berada di dalam markas mengernyitkan dahi. Untuk apa bos nya membangunkannya malam-malam begini, bukankah bosnya sendiri yang memerintahkannya untuk menginterogasi tahanan walaupun pada awalnya ia menolak.


Ben menghela nafas dan mencoba kembali tertidur kembali dengan menghitung domba, tetapi sayangnya muka domba itu berubah menjadi muka bos nya yang balik memerintahkannya untuk melompati pagar.


(sabar ya Ben, kamu hanya bisa menghela nafas~)


______


Ben: Re, aku mau resign.

__ADS_1


__ADS_2