
Mereka berempat berjalan menuju parkiran, tagihan mereka gratis karena Ben yang traktir, ia menangis sedih karena kehilangan uangnya yang berharga
"Oh tidak mobilnya, apa yang terjadi" Vincent memandangi kendaraan mereka bertiga yang terlihat seperti bekas dipukuli oleh seseorang menggunakan besi
"Aku harus bertanya pada pihak hotel" Ben segera berbalik dan mendapati muka Albert yang sedang memperingatinya. Vincent menggelengkan kepalanya dengan pasrah ketika melihat ekspresi muka itu dan memandang kearah Amora dengan matanya yang sayu
"Nona, bisakah Kamu mengantarkan bos kami pulang? kami akan menyelidiki apa yang terjadi disini" kata Vincent
"dia bisa pulang naik taksi" Amora menolaknya. "Tetapi aku ini tunanganmu, jadi kamu harus mengantarkan aku" Albert tersenyum kecil, "Pikirannya selalu tidak masuk akal!" Amora berteriak dalam hatinya
Akhirnya dengan berat hati Amora setuju. Mereka berdua menaiki mobil Amora dengan Amora yang menyetir.
"Dasar pemboros besar!" Ben mengutuk Albert ketika mobil Amora tidak terlihat lagi, Ia memandang mobil barunya yang rusak, seharusnya Albert hanya merusak mobilnya sendiri dan tidak melibatkan mobilnya sama sekali!
Vincent juga memandang mobilnya dengan sedih, apakah sifat logis milik bosnya sudah menghilang?
Albert yang saat ini sedang duduk dibelakang mobil Amora tentu saja tidak mengetahui pikiran dari kedua orang yang merana itu, Amora terus-terusan menatap Albert menggunakan kaca spion
"Berhentilah menatapku, aku tahu aku itu ganteng" Dari belakang terdengar suara Albert. Amora langsung mengernyitkan dahinya. "Aku bukan supir mu, jadi kamu seharusnya duduk di depan bersamaku" Amora mengeluh karena Albert menganggapnya seperti supir.
"terserah aku mau duduk dimana" Albert berkata tidak peduli, ia memejamkan matanya yang membuat Amora tambah kesal. "dasar orang ini" Amora sangat kesal saat ini, ia mengebutkan kecepatan mobilnya untuk melampiaskannya.
__ADS_1
Akhirnya mereka sampai di rumah Albert yang berada di dekat kantornya, Albert langsung turun dan menutup kembali pintu mobilnya.
"tok.. tok.. tok" Albert mengetuk jendela disamping Amora, jendela itu perlahan terbuka.
"Ada apa?" Tanya Amora dingin. "Jangan mengebut seperti sedang kerasukan kayak tadi lagi" Albert tertawa kecil dan langsung masuk kedalam rumahnya, meninggalkan Amora yang sedang melayangkan sumpah serapah miliknya.
"Albert sialan aku dibilang kerasukan!" Amora meninggalkan perkarangan Albert dengan sumpah serapah, seperti biasanya ketika ia habis berbicara dengan orang itu. Di dalam rumah Albert tertawa dan dengan senyum ia bersenandung kecil menaiki tangga, ia tadinya sudah menyiapkan banyak uang untuk membayar tagihan jika Amora kalah, tidak disangka hal kecil itu menang
(Hal kecil, tikus kecil, atapun anak kecil itu panggilan Albert ke Amora)
_________
Amora sedang berada di dalam rumahnya dan mengingat kartu nama yang ia dapat dari Kakek Fang, awalnya ia tidak berpikiran untuk berbisnis barang antik sama sekali, tetapi rupanya tuhan berkata lain, ia diberi mata ajaib yang bisa melihat kebenaran
Terutama orang yang bernama Albert! Ingin rasanya ia memberi lebih dari satu racun tetapi sayangnya saat ini ia hanya bisa berharap ia bisa menggunakan racun untuk kejutan yang selanjutnya.
"huft" Ia menghela nafas, mengambil kartu nama dari tas-nya dan mulai memencet angka-angka di telepon untuk menghubungi orang tua tersebut.
"Halo?" Amora menyapanya terlebih dahulu, ia tidak tahu bagaimana cara menyapa seseorang di telepon di zaman sekarang ini, tetapi di masanya yang lalu beginilah caranya
"Halo? dengan Rumah Gizoun disini, dengan siapa aku berbicara?" Tanya Tuan Fang sisebelah telepon, Amora yang mendengarnya bingung, bukankah orang tua ini yang menyuruhnya menelpon nya jika ada waktu?
__ADS_1
"Dengan Amora disini, bukankah kakek Fang sendiri yang menyuruh ku untuk menghubungimu jika ada waktu?" kata Amora, orang yang menjadi lawan bicaranya berpikir sebentar, saking sebentarnya Amora sampai berpikir terjadi sesuatu dengan orang itu karena lama sekali jeda diam.
"Oh Nona Amora" Akhirnya Tuan Fang mengingatnya, dia adalah gadis muda yang datang ke tokonya tadi pagi sambil membawa dua barang antik
"Aku tidak mengira urusanmu akan selesai secepat ini, aku kira kamu akan menelpon ku besok" Tuan Fang terkekeh di telepon, Amora memutar matanya "Dasar kakek tua"
"Karena nona Amora yang menghubungi ku duluan, pasti kamu ada perlu denganku, benar?" Tanya Kakek Fang, Amora mengangguk membenarkan perkataan darinya
"Aku ingin tuan Fang membantuku untuk membuka toko antik, apakah Kakek mempunyai seorang teman yang akan menjual tokonya di sekitaran sana?" Tanya Amora menyampaikan intinya
Fang terlihat berpikir, ia mempunyai banyak teman yang mempunyai toko dan akan menjual tokonya, tetapi ia tidak berpikir daerah itu bagus untuk diberikan kepada Amora.
Tuan Fang tertawa yang membuat Amora bingung, mengapa orang tua ini tertawa
"Baiklah anak muda, aku akan memperkenalkanmu kepada orang ini, kapan kita akan bertemu? dan em..." ucap Tuan Fang menyetujuinya. Namun, ia terlihat ragu di kalimat terakhirnya.
"Em?" Tanya Amora bingung
"Bisakah kamu memberitahuku bagaimana bisa kamu mendapatkan dua barang antik sekaligus?" Tanya Fang dengan malu, sebagai penilai ia tahu seharusnya ia tidak bertanya seperti ini kepada siapapun, tetapi ia sangat penasaran.
Kini giliran Amora yang tertawa, muka tuan Fang sampai merah dibuatnya.
__ADS_1
"baiklah, kita akan bertemu satu minggu lagi dan saat itu aku akan menjawab semua keraguanmu" Amora berhenti tertawa, ia menyetujui syarat itu karena ia bisa membuat alasan yang kedengarannya logis.
"Benar ya anak muda, kamu dilarang berbohong kepadaku" Suaranya terdengar senang, ia harus pamer kepada si tua Nian saat ini! Tuan Fang mematikan sambungan teleponnya.