
Suara ketikan keyboard menggema di ruangan yang besar ini, Ben melihat Amora dengan puas, ia sangat menikmati ekspresi para orang tua itu yang terlihat tidak nyaman seperti saat ini, terutama ayahnya yang tidak menyangka ia bisa membawa orang seperti Amora ini
"rasakan, cepatlah kalah jadi gelar pemenang akan aku ambil alih" Ben mengucapkan kalimat itu berulang-ulang, ia sudah bosan diejek ketika ia gagal menghancurkan sistem mereka saat itu, asal tahu aja, julukannya diantara orang tua itu adalah "makhluk sombong tidak tahu diri" bahkan ayahnya juga terkadang memanggilnya seperti itu saat berada di rumah
Amora tersenyum lagi, sebenarnya ia sudah bisa mengakhiri hal ini sedari tadi, tetapi ia menikmatinya, sudah lama ia tidak merasakan perasaan seperti ini, Amora akhirnya menyerang mereka dengan santai
Tiga jam pun berlalu. Tidak terasa sudah lima jam sejak mereka memainkan permainan ini. Amora sudah merasakan perutnya kelaparan saat ini, ia berpikir apakah ia harus menyelesaikannya saat ini sehingga ia bisa makan atau tidak ketika Ben mengangkat tangannya
Para orang tua itu melihatnya dan dengan serentak tangan mereka menjauh dari atas keyboard dan lima kesatria juga begitu. Ben mempersilahkan seseorang masuk dan orang itu masuk sambil membawa banyak makanan yang diletakkan diatas nampan
"bagus, aku sudah kelaparan saat ini" Amora memuji Ben dengan cara mengacungkan jempolnya ketika ia melihat makanan itu masuk ke dalam. Mereka makan potongan kue yang sudah Ben siapkan sebelumnya, para orang tua itu juga melihatnya dengan mata berbinar
"Tidak disangka Nona muda ini adalah peretas juga" sambil memakan kuenya, salah satu golongan orang tua berkata kepada Amora, Amora tersenyum kecil dan mengangguk, ia tidak tahu harus menjawab apa jadi ia hanya mengangguk
__ADS_1
"apakah kamu pacarnya Ben?" tanya ayahnya Ben, ia melihat anaknya sangat dekat dengan nona muda tersebut jadi ia menyimpulkannya seperti itu.
Amora menatap kaget, Ben juga menatap ayahnya dengan ketakutan, ia memandang ke sekeliling dan menjadi tenang ketika tidak menemukan Albert di ruangan itu. Ia memelototi ayahnya agar tidak mengatakan hal aneh di depan Amora lagi
"tentu saja bukan" Amora menjawab pertanyaan itu dengan sopan, Tuan Winifred Moi menghela nafas kecewa, alangkah baiknya jika anak nakal itu mempunyai seorang pacar yang hebat seperti Amora, pasti ia akan mengizinkan mereka walaupun Amora tidak lahir dari keluarga yang menggunakan sendok emas
Ben memandang muka ayahnya yang kecewa dengan perasaan kesal. Sepertinya ia harus melarangnya bertemu dengan Albert di kemudian hari agar ia tidak terkena imbasnya lagi.
Waktu sudah menunjukkan pukul tengah malam saat para orang tua itu mengibarkan bendera putih alias mereka menyerah. Para orang tua itu mengeluh tentang punggung mereka yang sakit dan semacamnya lalu menatap jam dan kaget dengan waktu yang mereka habiskan
"kalian beruntung kali ini tuan Gustang tidak ada, jika ada bahkan aku yakin Nona Amora tidak akan bisa mengatasinya" salah satu orang tua itu berkata. Amora hanya tersenyum di luar nya, tetapi di dalam hatinya ia sudah meremehkan. Tenang saja, kesombongan Amora disertai dengan kemampuannya kok
"oh orang tua eksentrik itu" Ben tersenyum kecut. Tentu saja ia mengenal siapa itu Gustang, Orang tua itu sangat susah ditebak isi kepalanya. Ia tidak bergabung dengan perusahan manapun dan ia juga bukanlah seorang bos besar, ia hanya suka menghabiskan waktunya dengan melakukan hal yang ia inginkan dan membiarkan anaknya yang mencari nafkah, keluarganya hanya menggeleng-gelengkan kepala mereka maklum terhadapnya.
__ADS_1
Tetapi orang tua itu juga merupakan orang yang sangat setia, ia akan membantu temannya yang membutuhkannya, prinsipnya hanya satu "aku suka, aku lakukan"
Rupanya dialah yang menjadi kambing hitam di kelompok mereka, kenapa ia tidak menyadarinya sejak dulu
"Amora, ini kartu nama kami. Hubungi kami jika kamu membutuhkan bantuan" kelima orang tua itu menyerahkan kartu namanya yang berisi nomor handphone mereka. Amora mengambil kelimanya dan berterima kasih.
Mereka berpisah setelah Amora berjanji akan datang lagi ke pertemuan mereka selanjutnya bulan depan di sebuah universitas. Mereka saat ini berencana untuk menarik Gustang bulan depan, tidak peduli jika orang tua itu tidak mau.
Amora menghela nafas, ia menyimpan kartu nama kelima orang itu di tas kecilnya. Para lima kesatria juga berpamitan pulang, mereka pulang degan hati yang gembira karena mereka memenangkannya kali ini, mereka berniat akan merayakannya nanti. Lima kesatria tidak bisa merayakannya bersama saat ini karena sudah larut malam. Lihat saja, bahkan bulan yang ada di tepat di atas kepala mereka, menjadi sedikit menyerong
Ben tersenyum terus menerus karena kali ini gelar kejuaraan berada di genggamannya, ia berjalan sambil bersenandung riang dengan Amora disebelahnya. "Bagaimana? apakah kalian memenangkannya?"tanya Albert begitu mereka mendatanginya.
Amora memandang ke sekeliling dan tercengang, ternyata ruang tunggu tempat muka dingin itu menunggu sama sekali tidak buruk, ruangan itu terdapat di atas gedung ballroom tempat diadakannya acara. Dan yang paling menarik perhatiannya adalah, rak buku besar yang berisi banyak sekali buku disana. Amira jadi sedikit tergoda
__ADS_1