Jodoh Sandiwara

Jodoh Sandiwara
46. kelakuan aneh


__ADS_3

(terkadang kalo authornya lagi males nulis, pokoknya gatau dah gegara apaan. Pasti bahasanya agak berubah gitu, ga terlalu enak. Jadi maaf ya hehe)


"mari kita pulang" Albert mengajak mereka berdua untuk segera meninggalkan lokasi karena dirinya ingin cepat-cepat pergi ke markas dan bertanya tentang kemajuan Vincent selama ini. Amora yang tadinya ingin membaca buku yang ada di dalam rak jadi menghilangkan keinginan itu dan mengikuti Albert keluar dari ruangan.


Seperti biasa Ben menyetir mobil dan Amora masuk ke kursi belakang dengan mulut terkatup rapat, apapun yang terjadi ia tidak akan berbicara dengan muka dingin licik di sebelahnya ini yang sudah menukar wine mereka


Pandangan mereka bertemu secara tidak sengaja ketika Amora melihat kearah samping kanan, Amora sendiri juga mengutuk dirinya sendiri mengapa ia menengok kearah sana, apakah ia sudah gila?


Kebetulan sekali saat ia menengok, Albert juga memandang kearah kiri, jadi pandangan mereka bertemu sesaat dan Amora langsung memalingkan kepalanya keluar jendela.


Albert yang melihat itu jadi tersenyum kecil, dan juga seperti biasa, Ben berpura-pura tidak menyadari apa yang sedang terjadi di belakang sana


Udara mobil yang dingin karena AC membuat Amora merasakan kantuk perlahan menyerang, ia berusaha untuk tidak tidur mengingat kejadian terakhir kalinya ketika ia tertidur, tetapi sayangnya seberapa keras pun ia menahan, tetap saja ia jatuh tertidur jika Author menginginkannya (:p)


kepala Amora bergoyang ke kiri dan ke kanan untuk mencari sandaran, "pluk" Kepalanya terjatuh di pangkuan si muka dingin. Albert sedikit terkejut ketika melihat Amora sudah meringkuk dengan kepalanya di pangkuannya.

__ADS_1


Albert mendecakkan lidahnya,mukanya terlihat tidak suka dengan apa yang terjadi, tetapi ia tidak membangunkan Amora secara paksa atau bahkan membuangnya dari mobil, ia menyelipkan rambut Amora ke belakang telinganya dengan pelan dan memandang mata Amora yang terpejam. Ternyata bulu mata tikus satu ini lumayan lentik.


Entah mengapa perasaannya menjadi rileks walaupun hanya sedikit, bibirnya perlahan-lahan naik dan membentuk senyuman. "selamat tidur" Ia berbisik sambil melepaskan kunciran Amora yang pastinya membuat gadis itu tidak nyaman.


Ben sebenarnya melihat dan mendengar semuanya, tetapi ia berpura-pura tidak menyadarinya. ia sendiri juga heran mengapa bosnya tidak melemparkannya keluar dari mobil sama seperti matan-mantannya yang tidak sengaja melakukan itu dulu. 


Ben menghela nafas, sepertinya ia harus memperingati para perempuan yang mendekati Albert agar menjauh supaya mereka tidak celaka


Tidak lama kemudian mereka pun sampai di depan hotel, Ben memandang Albert dengan bingung. Mukanya seolah berkata "apa yang harus kita lakukan? membangunkan Amora?" 


Albert menggeleng, ia mengibaskan tangannya tanda supaya Ben pergi. Ben menjadi tercengang, apakah bosnya ingin bermalam di mobil ini dan menunggu agar Amora bangun terlebih dahulu? itu gila bukan?


Ia menyuruh beberapa senior di geng mereka untuk mengawasi tempat parkir hotel dan mengamankan bos besar tanpa diketahui olehnya, Ben menutup telefonnya kemudian ia memencet tombol ke ruangannya paling atas


"Albert!" Suara seorang cewek membuat Ben terkaget. Ternyata itu Wendy, ada ala dia datang kemari malam-malam seperti ini?

__ADS_1


Sama seperti Ben yang kaget melihatnya, Wendy pun kaget ketika melihat hanya Ben yang keluar dari lift. Ia mencari Albert dibelakangnya, tetapi tidak menemukan orang yang dicarinya.


"Ada apa Nona Wendy kemari malam-malam seperti ini" Ben bertanya sopan, ia tidak akan memberitahukannya posisi Ben saat ini, karena akan menimbulkan perang dunia ketiga jika Amora dan Wendy bertemu nanti. Ben sudah menyadari perasaan Wendy terhadap Bos besarnya dari dulu.


"Kenapa Al.. maksudku bos tidak ikut kembali bersamamu?" Tanya Wendy dengan pandangan menyelidik. Ben mengangkat bahu tanda ia tidak tahu dan menghiraukan Wendy, ia hanya berjalan menuju depan pintu dan mencari kartu untuk membukanya.


"Jawab aku dulu" kata Wendy dengan keras kepala, ia menghalangi pintu dengan tangan kanannya. Ben menatapnya dengan bosan, ia sudah mengantuk saat ini.


"Tidak tahu, mungkin saja bos sedang ada urusan, aku tidak punya hak untuk menanyakan hal itu" Akhirnya Ben menjawab. Wendy memandanginya dengan tatapan menyelidik.


"Maksudmu urusan dengan perempuan itu?" Kata Wendy, ia mengucapkan perempuan itu seolah ia adalah pengganggu, dan memang benar. Sejak ada perempuan itu, hubungannya dengan Albert tidak terlalu baik.


"Aku akan menasihati mu karena kita telah bersama selama ini, jangan melakukan apapun yang pikiran anehmu pikirkan" Ben tersenyum, memperingati Wendy atas dasar niat baiknya yang tiba-tiba saja muncul.


Sebenarnya ia agak kasihan juga terhadap perempuan di depannya. Tetapi ia juga mengagumi Nona Amora dan merasa nona itu lebih cocok jika disandingkan oleh bos besarnya yang seperti tembok itu.

__ADS_1


Setelah mengatakan hal itu, Ben menyingkirkan tangan Wendy dan segera masuk ke dalam, ia sangat ingin tidur saat ini dan tidak peduli dengan Wendy yang sedang terlihat marah dibalik pintu tertutup


(Amora: Heh! jangan ngadi-ngadi ya kalian! Liatin aja si Rere kalo bikin kayak gitu, aku berhenti jadi tokoh utama)


__ADS_2