Jodoh Sandiwara

Jodoh Sandiwara
54. kasihan sekali


__ADS_3

Albert berjalan bolak-balik di depan kamar Amora, mengapa si kecil satu ini belum juga bangun, apakah dokter pribadinya sudah tidak kompeten lagi dalam mengurus pasien? Untung saja dokter di dalam tidak mengetahui perkataan Albert, jika tidak ia akan mati karena marah, baru saja tiga menit yang lalu ia datang, mengapa bos besarnya itu begitu tidak sabaran


"bagaimana Hans? Ia terkena racun apa? bisakah penawarnya dibuat?..." Ketika dokter Hans keluar dari ruangan, langsung saja pertanyaan itu diluncurkan dari mulut Albert yang sedang panik itu. Hans merasa tidak berdaya menghadapi pertanyaan yang ditanyakan oleh Albert, kecepatan Albert bertanya bahkan lebih cepat dari macan yang sedang berlari


"Pertama, nona Amora tidak di racuni oleh apapun, ia hanya terlalu lelah saja. Kedua, bisakah kamu tidak panik seperti ini, santai saja" Hans menepuk pundak Albert, ia merasa teman masa kecilnya ini terlalu konyol, kemana diri Albert yang tidak pedulian itu pergi?


(udah tertelan laut si Albert yang dulu)


"Baguslah" Albert menghela nafas, tanpa basa-basi lagi ia meninggalkan Hans yang berdiri di depan pintu dan langsung masuk ke dalam kamar, menatap hal kecil itu dengan tatapan rumit


"dasar tikus kecil, kamu hanya boleh masuk ke dalam perangkapku, jangan sampai terbunuh oleh predator yang lain" Gumam Albert sambil membuka jendela agar angin sejuk masuk. Tetapi ia lupa saat ini ia berada di ibu kota, langsung saja asap masuk dan membuat Albert terbatuk


Ia segera menutup jendelanya dengan segera


___________


Amora merasa pusing, ia merasakan sekelilingnya gelap dan ia hanya bisa mendengarkan saja, tidak bisa bergerak maupun berbicara. Ia mendengar gumaman Albert yang mengatakan hal konyol yang menurut dia sangat menyebalkan

__ADS_1


"Huh, siapa yang tikus" Dengusnya kesal, tentu saja ia tidak mengatakannya tetapi hanya berbicara di dalam hatinya karena mulutnya sama sekali tidak bisa ia gerakan. Amora berpikir kenapa ini terjadi, ia hanya mengingat ia menyembuhkan seseorang dari penyakit bawaannya dan ia tiba-tiba saja menjadi mengantuk


Apakah ini harga dari kekuatannya tersebut? ia merasa sedikit rugi dengan apa yang menjadi bayaran akan kekuatannya, ia tadinya merasa bisa menyembuhkan orang secara rahasia dengan bayaran yang besar, tetapi kini ia harus melupakan keinginan itu, bagaimana pun ia masih bisa melakukan hal lain yang bisa membuatnya kaya


"Tapi apakah benar penyakit anak itu tidak akan kambuh kembali?" pikir Amora, akan sangat sia-sia jika ternyata anak itu tidak sembuh dari penyakit bawaannya dan hanya sembuh sementara, semoga saja tidak demikian


Albert yang saat ini sedang memantau Amora menjadi kesal, mengapa tikus kecilnya ini kecapaian, apakah ia melakukan sesuatu yang berat tadi pagi. "Tunggu, apakah tadi pagi ada geng yang mengelilinginya, jadi dia kelelahan karena melawan" Albert bergumam. Sungguh, ia sama sekali tidak tahu apa yang menyebabkan Amora seperti ini, dan berapa lama kondisi ini akan terjadi


"Vincent!" Albert berteriak, suara seraknya membuat Vincent langsung terburu-buru masuk ke dalam kamar dengan ditemani oleh dokter Hans. Tadinya ia sedang mengobrol dengannya sambil meminum segelas wine sebagai perayaan akan selesainya tugas yang dilimpahkan Albert kepadanya.


"ada apa bos" Jawabnya ketika menghadap. "Selidiki geng mana yang ditemui oleh gadis ini tadi pagi dan ratakan mereka" Albert memberi perintah dengan suara dingin. Vincent mengangguk dan langsung keluar dari ruangan.


"sepertinya kamu terlihat sangat khawatir Al, apa hubungan gadis ini denganmu" Tanya Hans penasaran, ia melihat Amora dengan alis dinaikkan satu.


Memang sih, gadis ini mempunyai kecantikan diatas rata-rata, tetapi banyak wanita yang seperti itu berkeliaran di sekitaran bosnya, jadi ia sangat tertarik mengapa hanya gadis ini yang bisa membuat teman menyebalkan nya menjadi berbeda.


"Tidak ada alasan khusus, aku hanya sedang bosan dan menemukan gadis ini cukup menarik, itu saja" kata Albert, tetapi sayangnya mukanya berbeda dengan omongan nya. Selagi mulutnya berkata kalimat menyakitkan, matanya menatap dalam kearah muka Amora yang sedang tertidur

__ADS_1


sayang sekali Amora sedang tidak sadar dan hanya bisa mendengar omongan menyebalkan itu, Amora menjadi kesal dengan omongan Albert sekaligus merasakan hatinya sedikit sakit. "sakit hati? Oh ayolah Amora, jangan jadi konyol seperti ini" Amora berusaha menahan rasa sakit yang tidak jelas ini


Mereka berdua terjebak oleh permainan gengsi di dalam diri mereka. Albert yang masih tidak yakin dengan perasaannya, dan Amora yang salah paham dengan omongan Albert. Seperti adegan fiksi novel romantis saja.


"Ck, aku yakin kamu belum bisa melupakan dia bukan?" Tanya Hans, ia juga tidak melihat tatapan dalam di mata Abert, jadi ia menduga Albert masih tidak bisa melupakan mantan kekasihnya itu


Ia melihat muka Albert tidak berubah. Tidak yakin akan jawaban Albert sebenarnya, apakah dia menjawab "iya" atau "tidak" karena orang yang ditanya tidak menjawab dan hanya pergi meninggalkan dirinya sendirian di kamar


"dasar tembok satu itu" Ucap Hans, ia sendiri tidak berlama-lama di kamar dan langsung keluar karena takut Albert salah paham kepadanya jika ia berdiam diri disana lebih lama lagi


Amora yang mendengar pertanyaan aneh itu menjadi bingung, kemarin ia juga diceritakan oleh Ayahnya Albert tentang mantan muka tembok itu dahulu. Dulunya mereka adalah tunangan tetapi tiba-tiba saja ketika tunangannya itu pergi ke luar negeri, pesawat yang ditumpanginya meledak.


"Kasihan sekali" Amora sekarang merasakan sedikit simpati untuk si muka tembok itu. Walaupun mayatnya tidak bisa dikenali karena sudah berubah menjadi abu, pasti Albert sudah meyakinkan dirinya bahwa tunangannya itu sudah tidak ada lagi di dunia ini


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2