
Vincent terbelak melihat Amora yang datang tanpa diundang itu, mengapa gadis ini sangat bodoh, apakah ia belum menjelaskannya dengan jelas bahwa Amora harus bersembunyi sampai ia selesai mengatasi masalah yang ada disini.
ketua kelompok yang sedang kewalahan akibat kemunculan Vincent tersadar akan kehadiran Amora, ia menyeringai dan berteriak kepada anak buahnya untuk menangkap Amora sebagai sandera
Amora yang tidak mengira akan sebanyak ini menjadi mematung, ia mungkin bisa mengalahkan satu-dua orang tetapi ada tujuh orang yang datang kearahnya! Ia tersenyum pasrah kearah Vincent dan bersiap untuk melawannya dengan segenap hidupnya
"Eh?" Amora bergumam keheranan, mengapa ia dengan gampangnya menghindari tendangan dari keempat sisi di tubuhnya? Tubuhnya terasa sangat ringan saat ini. Amora terkekeh, mungkin saja ini adalah keajaiban baru yang ia dapat dari gelangnya.
Menghindar dari pukulan dan satu persatu ia menjatuhkan lawan yang datang kepadanya, pemimpin pun semakin marah, ia memerintahkan anak buahnya yang lain datang menyerang Amora.
Amora menyeringai dan mulai menendang dan memukul. "ups sori" katanya menyesal usai ia menendang salah satu anggota terlarang dengan keras. Orang itu berguling-guling di tanah sambil kesakitan.
"Beraninya!" sang pemimpin berseru, pemimpin itu maju untuk melawannya. Amora tersenyum canggung dan ketika pemimpin itu menerkamnya menggunakan belati ia langsung menahannya dan membanting pemimpin itu ke tanah. Satu bantingan, dua bantingan, dan tiga bantingan sampai pemimpin itu tidak bergerak lagi.
__ADS_1
"hahaha, aku berani. Jadi apa? datang sini jika kamu berani" Katanya sombong sambil menginjakkan kaki kanannya ke atas perut pemimpin itu, ia tertawa meremehkan.
"Nona Amora?" Vincent melihat kearah Amora seolah gadis itu tidak waras. Amora menengok kearah Vincent dan mendapati cowok itu sedang melihatnya aneh, bukan hanya Vincent, yang lain pun menatapnya dengan aneh
"lah? musuhnya kabur?" tanya Amora bingun, dari perkiraannya seharusnya ada sekitar 35 orang jahat yang menyerang, tetapi mengapa sekarang tidak ada yang bertarung lagi.
"Semuanya dikalahkan olehmu" Vincent menunjuk orang-orang yang tergeletak di dekat Amora.
Amora tersadar dan langsung memindahkan kakinya dari perut musuhnya dan menepuk bajunya yang terkena kotoran. Ia terkekeh
Tuan Besar tersadar duluan, tertawa kecil lalu bertanya "Siapakah gerangan Nona muda ini"
"Ainaya Amora. Dan Tuan?" Amora memperhatikan pria yang seusia kakeknya di depannya ini dan sudah bisa menebak bahwa mereka satu generasi
__ADS_1
"Ooh, Cucu Xavier" Tuan Besar tertawa, ia berpikir rumor itu sangat jahat. Bagaimana bisa orang yang berada di hadapannya ini sama dengan Amora yang disebutkan dalam rumor.
"Mengapa kamu pergi bersama Amora, Vincent. Apakah Amora ini pacarmu?" Tanya Tuan Besar dengan antusias. Awalnya ia ingin memperkenalkan Amora kepada cucu laki-lakinya karena ia yakin pasti ketika mereka berdua bertemu pasti akan ramai, dan itu pasti sangat menyenangkan
"Bukan. Kami pergi ke ibu kota bersama dengan Tuan muda" kata Vincent, ia menekankan kata Tuan muda agar tuan besar mengerti maksud dibalik perkataannya.
Tuan besar itu langsung tertawa, ia kini memandang Amora dengan tatapan bersinar. Jujur saja Amora tidak menyukai tatapan itu, apa maksud dari Vincent tentang tuan muda dan tuan besar. Apakah kakek ini ada hubungan dengan si muka dingin itu.
"santai saja nona. Seperti yang sudah kamu duga, aku adalah kakek dari Albert" Kata orang tua itu sambil mengedipkan matanya, Amora mengernyitkan dahinya. "Si dingin itu mempunyai kakek cerewet, bertolak belakang sekali mereka" Amora bergumam
"Baiklah Nona muda, apa yang kamu sedang kamu lakukan, mengapa kamu pergi kemari? Ke kuburan mengerikan ini" Tuan Besar tersenyum sambil menatapnya, "dasar kakek tua, kamu juga ada urusan apa sampai datang kemari" Amora merutuk di dalam hatinya.
"Hanya ingin melihat-lihat" Jelas Amora. Dia baru teringat kakek didepannya ini belum memperkenalkan dirinya sama sekali, mungkinkah ia harus memanggilnya kakek ketika mereka bertemu lain kali? Tentu saja Amora tidak mau, ia belum dan tidak mau menikah dengan si muka dingin itu, jadi kakek miliknya bukan milik Amora.
__ADS_1
"Dan, nama tuan besar adalah?" Tanya Amora cepat-cepat, memikirkan kemungkinan itu saja membuatnya merasa kesal tanpa alasan. Senyum kakek di depannya bertambah besar
"Panggil saja kakek. Ayo kemari, ada yang ingin aku tunjukkan kepadamu" Sebelum sempat Amora memprotes, kakek itu sudah berjalan sehingga Amora dengan cepat menyusulnya.