Jodoh Sandiwara

Jodoh Sandiwara
2. First Meet


__ADS_3

"Syukurlah kamu terbangun" Suara seorang wanita terdengar, Amora menatapnya bingung, menepis tangan yang memegangnya dengan spontan, "Kamu siapa?" Tanyanya dengan kepala dibalut perban, ia merasakan sakit di kepalanya dan menyentuhya.


"Aku ibumu nak" kata wanita itu, Amora masih menatapnya aneh. Kemudian ia memandang ke sisi lain, ia tertegun sejenak. Ia langsung melompat dari tempat tidurnya dan berdiam diri didepan kaca. "Siapa?" tanyanya bingung sambil memegang mukanya.


Nyonya Aria melihat anaknya yang sedang bingung dengan sedih, apakah Amora mengalami hilang ingatan? "Aku akan memanggil dokter" Nyonya Aria memutuskan, ia beranjak dari kursi dan segera meninggalkan ruang pasien.


"Tok tok, nona Amora?" Seseorang mengetuk pintu, pintu kemudian dibuka dengan dua orang pria menatap Amora heran. "apa yang gadis itu lakukan sambil berada di depan kaca, bukankah mukanya tidak terluka sama sekali?" Orang berjas biru itu bertanya-tanya.


"Tenanglah nona, mukamu baik-baik saja" Orang itu mengangguk meyakinkan, mempersilahkan tuan yang memakai jas hitam duduk dan ia sendiri berdiri.


"Eh?" Amora bertanya heran, ia heran terutama dengan kacamata yang dipakai oleh orang ber jas biru itu sangat kuno, bukankah sudah ada teknologi untuk menyembuhkan mata minus? mungkin mereka berdua adalah orang miskin, tetapi itu tidak mungkin, alat itu gratis dengan hanya pergi ke perpustakaan.


"Tunggu, tahun berapakah ini?" Tanya Amora, kepalanya kembali sakit, ia berjalan sempoyongan menuju kedua tamu itu. "Bruk" ia terjatuh, menggelengkan kepalanya untuk mengusir pusing dan perlahan membuka matanya.


"Hei tuan berkacamata, mengapa engkau melihatku dengan pandangan aneh itu?" Amora bertanya, pasalnya tuan berkacamata itu memandangnya dengan ngeri.


"Hei, aku bertanya kepadamu" Amora melambaikan tangannya karena pria berkacamata ini hanya diam tidak menjawabnya, "Bukankah ini sudah waktunya untuk menyingkir dari pangkuanku" Suara dingin terdengar dari belakangnya, rasanya udara di sekitarnya membeku 100 derajat.

__ADS_1


Ia menolehkan kepalanya dan mematung sebentar, setelah itu ia menyengir lebar dan kemudian terburu-buru bangkit dan duduk di kursi yang lainnya. Amora menghela nafas lega dan meminta maaf kepada tuan yang ia duduki barusan.


"aku ingin meminta maaf karena telah menabrak nona" Pria berkacamata itu membungkuk, Amora terpana, apa maksud dari menabrak? "Untung saja kamu kelihatannya baik" Lanjutnya.


"Sebentar, tahun berapa sekarang?" Ia pernah membaca di sebuah buku usang yang ia temui di perpustakaan rumahnya, di bagian paling bawah rak dengan debu yang banyak.


"2020" kali ini pria yang memakai jas hitam yang menjawab, ekspresi muka dinginnya terbesit rasa kesal melihat Amora yang masih berpikir. 


"Tunggu, aku bereinkarnasi?" Tanyanya dalam hati, ini persis seperti apa yang buku itu bilang, tetapi gadis yang menjadi tokoh utama itu kembali ke zaman Dinasti ming, zaman apakah saat ini?


"Karena kelihatannya nona baik-baik saja, kami pamit undur diri" Pria berkacamata itu melihat kearah bos nya yang terlihat kesal, Amora hanya mengangguk tetapi mulutnya diam. Ia melipat kakinya diatas sofa, tangannya menopang dagu, pose biasa ketika ia sedang berpikir.


Kemudian Amora melihat sesuatu tertinggal di atas sofa, ia memungut dan menyimpannya di kantong bajunya, ia kembali berpikir, otak tubuh gadis ini sangat buruk untuk diajak berpikir


"Amora apa yang sedang kamu pikirkan?" Nyonya Aria dan seorang pria masuk, pria itu menunjukkan ekspresi dingin kepadanya.


"Siapa?" Tanya Amora sambil menunjuk pria itu, "itu ayahmu" Jawab Nona Aria

__ADS_1


"Srrtt" sebersit ingatan memasuki kepalanya, ia memegang kepalanya sembari memejamkan mata.


Ayah, judul itu tidak pantas bagi Pria yang berada didepannya, ayah di depannya ini tidak pernah mengakuinya sebagai anak, karena ibunya dan dia adalah hasil perjodohan sehingga "ayah" ini tidak bisa menikah dengan cinta pertamanya, yang juga istrinya kedua.


"Dasar lelaki" Amora mengutuk, inilah mengapa sejak kehidupannya yang lalu ia tidak akan pernah mempunyai pacar, pertama itu merepotkan, kedua ia harus menjaga kakaknya dari bayang-bayang di perusahaan peninggalan orang tua mereka.


"Amora, apakah kamu baik-baik saja? Aku mendengar kamu tertabrak dan sangat khawatir" Pintu dibanting terbuka, seorang laki-laki masuk sambil membawa bunga mawar dan di sebelahnya terdapat perempuan yang sedang berlari sambil menangis kearahnya.


"Siapa?" Tanya Amora lagi, "Aku Bernard, tunanganmu. Dan ini Jaqueline, sahabatmu" Bernard menunjuk Jaqueline dengan malas, ia merasa Amora menanyakannya untuk menarik perhatiannya lagi, seperti biasa. 


kepala Amora terasa seperti ditusuk kembali.


Bernard Abiyan, anak tunggal dari perusahaan Kinn, mantan tunangannya. Perempuan disebelahnya adalah Jaqueline Harinson, mantan sahabatnya. Kedua orang inilah yang menyebabkan Amora yang asli meninggal.


Kemudian ia teringat, ia berpindah dari tubuhnya yang berasal dari 100 tahun kedepan karena ia tidak sengaja memasukkan kode komputer yang salah sehingga komputer di ruangannya meledak, tetapi mengapa komputer itu meledak tiba-tiba?


Amora menarik nafas, memperjelas pandangannya dan matanya berubah menjadi dingin. Jaqueline merasakan pandangan mata yang menusuk kearahnya dan menggigil, ia memandang sekeliling dan menemukan Amora yang sedang tersenyum melihat kearah depan.

__ADS_1


"Mana mungkin Amora" Ia menertawakan pikirannya yang konyol, dan tertawa pelan.


"Aku tidak punya sahabat sepertimu lagi" Katanya sambil tersenyum kearah Jaqueline. "Amora?" Gadis itu bingung, apakah guncangan membuat otaknya rusak?


__ADS_2