Jodoh Sandiwara

Jodoh Sandiwara
20. Nona Muda Viera


__ADS_3

Keesokan harinya Amora bangun pagi sekali dan segera bersiap untuk bertemu dengan Tuan Frins yang katanya misterius itu, namanya tidak akan lagi menjadi misterius bukan jika dia tahu siapa orangnya. 


Ia menguap sambil berpakaian, menguap sambil sarapan, dan bahkan menguap ketika ia meminjam mobil kakaknya. Amora tidak ikut sarapan bersama karena waktu yang diajukan oleh Frins terlalu pagi menurutnya, untung saja hari ini adalah hari libur sehingga ia tidak harus izin kepada wali kelasnya


Mereka janjian untuk bertemu di sebuah rumah tempat meminum teh pada jam 09.00 tetapi karena Amora yang membutuhkan sesuatu dari Frins, ia merasa harus membelikannya sebuah hadiah.


Dengan lancar ia mengemudikan mobil kakaknya yang berwarna putih. Ia masih mengingat ekspresi kakaknya ketika ia meminjam mobil kepadanya, Amora yang dulu sama sekali tidak bisa menyetir mobil, terakhir kali ia menyetir mobil dirinya menabrakkan mobil ke pohon kelapa yang tumbang


"kalo dipikir-pikir bagus juga si hidup kembali ke tubuh orang kaya" Amora membayangkan apa jadinya ia jika bereinkarnasi ke tubuh orang miskin, tentu saja pada akhirnya ia akan kaya, tetapi itu akan lebih susah bukan?


Amora berhenti didepan pasar barang antik, menurut berita yang ia baca, semua orang kaya sangat menghargai barang antik yang mereka punya, jadi sebagai sogokan untuk Frins ia akan membelikan barang antik yang semoga saja itu asli.


Amora berjalan dari setiap toko ke toko yang lain dan merasa kebingungan, jujur saja ia tidak tahu mana barang yang asli dan mana yang palsu, tetapi mungkin saja dengan keberuntungannya ia bisa menemukannya.


"Nona muda, kelihatannya kamu sangat kebingungan" Seseorang di balik meja berkata kepadanya, ia menoleh dan mendapati seorang wanita paruh baya berambut keriting sedang menjualkan barang dagangannya.


Amora dengan iseng melihat kearah mejanya dan mendapati banyak gelang yang dijualnya, tetapi yang paling menarik perhatiannya adalah gelang dengan permata kuning di atasnya, gelang itu seolah bercahaya, ia sampai mengucek matanya untuk memastikan.


Tetapi setelah sekian kali ia mengusap matanya, cahaya itu tidak pudar dan malah semakin terang, ia melihatnya lebih dekat. Ibu penjualnya menatap Amora dengan senyum yang tidak dapat dijelaskan. Gelang itu telah berbicara, ia sebagai penjaga gelang akhirnya terbebas dari tugas sulit yang diberikan oleh masternya.

__ADS_1


"Nona tertarik dengan gelang itu?" Ibu itu bertanya, Amora mengangguk "apakah gelang itu dirancang agar dapat bercahaya?" Ia bertanya, ibu penjual itu menggeleng.


"Jika nona kecil tertarik aku akan memberikan harga spesial, diskon 10% saja dari harga 5 juta" Penjual itu mengajukan tawarannya, Amora mengeluh didalam hatinya "Penipu, ini hanya gelang yang terbuat dari plastik, mengapa harganya begitu mahal" 


Amora menggeleng, ia terlihat berpikir lagi. 


"Bungkus gelang itu untuk aku bu" kata seseorang perempuan yang baru datang. Ibu penjual itu tidak bisa menjualnya karena gelang itu sudah memilih tuannya. "tidak bisa anak muda, sudah dibeli oleh nona disebelahmu" Tolak ibu penjual


Anak itu melihat kearah Amora yang sedang berpikir, Amora didalam otaknya sedang mencari alasan yang logis tentang mengapa gelang itu dapat bercahaya. "Dia? Dia hanya orang miskin, pasti gelang 5 juta ini tidak dapat ia beli" Gadis itu meremehkan, pasalnya ia datang kemari karena mendengar percakapan Amora dengan ibu penjual.


Perkataan gadis disebelahnya membuatnya menengok dengan tidak suka, ia melihat sinis kearah gadis itu dan menarik nafasnya, "Tenangkan dirimu Amora, dia hanyalah gadis kecil" ucapnya dalam hati


"Aku akan membelinya" Amora mengeluarkan dompetnya dan memberi penjual itu uang yang sesuai harga. "terima kasih nona" Penjual itu tersenyum, Amora mengangguk dan mengambil gelang itu pergi


"Kamu, sebentar. Aku ingin membeli gelang yang tadi, aku akan membayarmu sepuluh kali lipatnya" Anak itu menghalangi jalannya, anak inilah yang menyebabkan Amora menghamburkan uang sebanyak lima juta untuk sebuah gelang walaupun ada diskonannya sih.


Amora menggeleng, uang? ia dengan mudah dapat menghasilkan uang, mengapa ia harus tertarik pada jumlah uang yang sedikit itu.


"lima belas kali lipat" Anak itu mencoba menawar lagi, Amora menggeleng "Tidak dijual dengan harga berapapun"

__ADS_1


Anak itu menatapnya kesal "apakah kamu tahu siapa aku" katanya, Amora menggeleng lagi


"Namaku adalah Viera, Aku adalah putri kedua dari keluarga Hou, anak kandung dari direktur bank terbesar, Tuan Vian" Anak itu memproklamasikan asalnya, Amora menatapnya tidak peduli.


Anak itu menatap Amora bingung, bukankah seharusnya ia segera memberikan gelang itu keapdanya? mengapa ia hanya menatapnya dingin


"Lalu?" Tanya Amora datar. "lalu.. lalu.. aku akan mengadu kepada ayahku jika kamu tidak memberikan gelang itu kepadaku" Viera meninggikan suaranya, berharap agar Amora segera takut dan menyerahkan gelang itu.


"Telpon saja ayahmu sekarang, aku tidak takut" Amora menantangnya, anak itu tercengang. Apakah perempuan di depannya ini kehilangan akal? Bukankah ia sudah mendengar jika Vian sangat menyayangi anak perempuannya? Baiklah, ia akan membuktikan kata-katanya kepada kakak di depannya


Viera mengambil handphonenya dan menelpon ayahnya, "Halo ayah" Katanya. "bukankah ayah bilang jika aku menginginkan sesuatu aku akan mendapatkannya?" Kata Viera lagi, disebrang sana ayahnya menyetujui omongan anaknya


"tetapi ada seseorang yang tidak mau menjualnya kepadaku" Viera berkata sedih, "Siapa dia! aku ingin berbicara kepadanya!" Vian berseru di teleponnya. Viera tersenyum kecil dan menyerahkan handphonenya kepada Amora


"Halo tuan Vian" Kata Amora, Vian disebrang sana berpikir ulang, mengapa suara ini terdengar familiar. "Halo, dengan siapa aku berbicara" Tanyanya memastikan


"Aku Amora, kemarin anda baru saja membantu saya untuk memeriksa akun bank keluarga Mora" Amora tersenyum kecil sedangkan Vian langsung berkeringat dingin, mengapa anaknya menyinggung orang besar yang bisa seenaknya masuk ke dalam bank di dunia maya


"Oh Ini nona Amora, kapan-kapan aku ingin mengundangmu dalam sebuah makan malam, bisakah kamu?" Tanya Vian sambil tertawa kecil di akhir kalimatnya.

__ADS_1


"tentu saja aku bisa tuan Vian, atur saja dan hubungi aku" Amora kemudian memberikan handphone Viera balik, "Anak nakal, cepat pulang sekarang" Ayahnya mendesis begitu tahu ia sedang berbicara dengan Viera.


Mau tidak mau Viera pulang walaupun ia masih bertanya mengapa ayahnya terdengar sangat marah


__ADS_2