Jodoh Sandiwara

Jodoh Sandiwara
5. Pergi ke "rumah"


__ADS_3

"Tidak banyak" Amora menjelaskan secara singkat apa yang ia dapat dari buku yang ia baca, ia meringkasnya agar tidak terlalu banyak kata yang harus ia keluarkan.


ekspresi Brian berubah, Rafael yang sedikit mempelajarinya juga berubah, hanya Xavier yang bertanya-tanya mengapa informasi yang disampaikan cucunya ini dapat membuat kedua anaknya mengubah ekspresi mereka.


"Amora, kamu sangat hebat" Brian dengan senang hati memujinya, ia sekilas melupakan sikap Amora yang berbeda dari apa yang ia lihat sekarang.


"Paman Brian terlalu memujiku" Ia tersenyum dengan muka jenaka, membuat paman Brian tertawa. "Oh iya, Nadine menitipkannya kepadaku" Brian mengeluarkan kartu hitam lalu menyodorkannya kepada Amora, ia yakin pasti Amora akan menerimanya.


Di luar dugaan, Amora tidak sekalipun melirik kartu yang disodorkannya, "Terima kasih paman, tetapi tidak usah" ia menolak secara halus yang membuat ketiganya membuka mulut mereka heran.


Brian memaksanya lagi untuk menerima kartu yang disodorkan sampai akhirnya Amora menyerah, "Ucapkan terima kasihku kepada bibi" Kemudian Amora menaruhnya begitu saja kedalam tas dan melanjutkan obrolan dengan mereka.


Xavier saling berpandangan dengan Brian dan tertawa puas, mungkinkah malaikat mampir di hati Amora dan merubahnya, mungkin saja. Ia juga berharap malaikat itu akan menetap selamanya.


Aria kembali tidak lama setelah itu dan heran mendengar ayahnya tertawa di dalam ruangan, bukankah setiap kali ayahnya berkunjung ia akan menampilkan ekspresi tidak puas? Ia langsung membuka pintu. 


"Selamat datang kembali ibu" Amora mendatangi ibunya dan mengambil alih makanan yang Aria bawa lalu membawanya ke meja, ia membuka bungkusan pizza yang ia minta ibunya untuk memesan, karena Amora sangat penasaran ketika melihat iklan yang ada di televisi tadi malam.

__ADS_1


"Mari kita makan bersama" Amora mempersilahkan dan malam itu mereka mengobrol layaknya sebuah keluarga yang bahagia.


"Amora, ini undangan ke pesta ulang tahun kakek" Rafael menyerahkan undangan kepada Amora, Undangan itu juga lah yang membuat Xavier terpaksa datang, tadinya.


"Terima kasih Paman, Amora pasti akan datang" ia menunjukkan jempolnya, 


"hahaha, baguslah. Aku akan menemui mu lagi disana" Kakeknya tertawa bahagia sambil menepuk bahunya, kemudian ketiganya berpamitan pulang karena malam semakin larut dan Amora harus beristirahat. 


Sebenarnya, jika Aria tidak mengusir mereka, mereka masih ingin mengobrol sambil menikmati makanan yang mereka pesan sampai pagi menjelang, tetapi Aria memaksa mereka bahkan sambil bercanda akan memanggil polisi jika mereka tidak segera pergi. Akhirnya ketiga laki-laki dari keluarga Guivera pulang dengan janji Amora untuk bisa hadir di pesta.


________________


__________


Kemudian, satu minggu berikutnya Aria sudah duduk di kursi penumpang sambil melayangkan pandangan keluar jendela sembari berpikir.


Pak Zheng, adalah supir keluarganya tetapi supir itu tidak pernah menaruh rasa hormat kepada dirinya, sebaiknya ia meminta kepada kakeknya sebuah mobil agar ia mudah untuk berpergian.

__ADS_1


Pak Zheng mengantar mereka menuju rumah Tuan Kenneth yang notabenenya adalah ayah kandungnya, mobil mulai memasuki perkarangan luas dan berhenti di depan pintu marmer berwarna putih, di depannya Tuan Kenneth sudah menunggunya bersama dengan Lisa dan ketiga anaknya dan seorang pria yang lebih tua dari Amora.  (Ini di teras, you know lah rumah orang kaya)


"Amora kamu kembali" Seorang perempuan sepantaran dirinya berlari untuk menyambut dirinya tetapi Amora mengelak dan menaruh kakinya agar perempuan itu tersandung, benar saja ia terjatuh karena itu.


"Amora!" Lagi-lagi ayahnya berteriak, "Kenapa?" Amora bertanya polos, tuan Kenneth juga tidak bisa mengatakan apapun karena ia tidak melihat apa yang sebenarnya terjadi, tetapi ia yakin pasti Amora lah penyebabnya.


"Maafkan aku Abigail, aku menghindar karena mengira kamu akan menyerangku" Amora mengulurkan tangan untuk membantu Abigail berdiri. Ya, Amora mengetahui siapa perempuan di hadapannya, ia adalah anak kedua dari selir ayahnya, panggil saja dia Abigail. Abigail yang ada di ingatan Amora sangatlah baik, tetapi ia tahu bahwa Amora yang dulu sangatlah naif.


"Tidak apa kakak, aku tidak terluka" Abigail menahan amarahnya di dalam hati sambil terus tersenyum paksa. Amora balas tersenyum, matanya menunjukkan kilatan kepuasan, kita lihat saja nanti Abigail!


"kakak, aku sampai" Amora memeluk kakaknya, pria yang terlihat pendiam yang tidak menonjol sama sekali, tetapi Amora tahu kakak lelaki ini sangat menyayangi dirinya, selalu membelanya dari selir ayahnya yang selalu mengadu 


"mari kita masuk ka, kemudian kakak harus masak untukku karena kakak tidak sempat mengunjungiku" Amora menarik tangan kakaknya, sesungguhnya Amora tahu Lucas lebih menyukai urusan masak memasak dibandingkan urusan bisnis, tetapi demi dirinya kakaknya merelakan hal itu.


"Maafkan kakak karena baru pulang hari ini sehingga tidak bisa menjengukmu" Lucas meminta maaf, karena perjalanan bisnis mengharuskannya pergi dan ia baru pulang hari ini, begitu ia pulang langsung saja ia bersiap untuk pergi menjemputnya pulang, tetapi Amora dengan mati-matian menolaknya karena ia yakin kakaknya akan merasa capai setelah perjalanan


Mereka berdua masuk selayaknya adik dan kakak, tuan Kenneth tidak bisa berbuat apapun karena ada Lucas di samping Amora, Lucas lah yang membuat perusahaannya bangkit setelah diurus oleh Tian, putra sulungnya dari Lisa.

__ADS_1


__ADS_2