Jodoh Sandiwara

Jodoh Sandiwara
27. Terserah


__ADS_3

menghela nafas berkali-kali membuat sang kakak bertanya-tanya mengapa adik perempuannya itu tampak kecewa, Ia juga bingung mengapa kali ini Amora memaksanya untuk mengikuti kakeknya ke tempat ini padahal biasanya Amora tidak peduli terhadap yang seperti ini?


Lucas mengira adiknya sudah menjadi logis sejak kecelakaan, tetapi rupanya tidak terlalu.


Amora yang tidak menyadari bahwa ia sedang di tatap menghela nafas sekali lagi, ia menyesali kebodohannya, jika saja ia tidak mengandalkan Vincent, maka ia pasti bisa menemukan cadangan yang setidaknya lebih baik daripada perwakilan mereka walaupun pasti tidak sebagus Tuan Frins itu


"Lihat saja jika kita bertemu lagi, akan aku.." Amora mulai mengutuk. "Hatchi" Terdengar suara bersin dari luar pintu. Semua orang langsung menatap pintu, perlahan pintu itu terbuka dan menampilkan seorang pria menggunakan topeng peraknya, itu Tuan Frins!


Quinn menatap kaget kearah pintu, kedua penjudi merasa was-was, bahkan Xavier merasa takut jika penjudi top itu akan membantu saingannya.


"Maafkan saya terlambat, tuan-tuan" Tuan Frins membungkuk hormat, Amora yakin jika permohonan maaf nya itu ditunjukan kepada dirinya karena Amora merasa walaupun menggunakan topeng, pandangan mata Tuan Frins mengarah ke dirinya.


"Ada angin apa Tuan Frins datang kemari" Xavier berdiri menyambutnya, tadi ia memandang muka terkejut Quinn dan menjadi tenang ketika menyadari bahwa Frins tidak akan mewakili keluarga saingannya.

__ADS_1


"Aku kemari diminta oleh seseorang untuk mewakilimu, Tuan Guivera" Frins tersenyum, ia masuk dan segera duduk di meja bundar tempat perwakilan Guivera sebelumnya. Dua orang yang lain juga masuk ke dalam ruangan, mereka juga menggunakan topeng tetapi Amora sudah tau siapa mereka.


"Silahkan duduk bos" Ben mempersilahkan Albert duduk di kursi sebelah Tuan Xavier karena kursi itu kosong, tetapi Albert tidak bergerak sama sekali. Ben menghela nafas lagi dan membawa kursi itu ke ujung tempat Amora sedang menyuap es krimnya


Amora memandang Ben dengan tatapan seolah "ngapain geser kemari" Dan dibalas oleh Ben dengan senyuman sopan, di balik topengnya mata Ben menunjukan bahwa ia pasrah atas apapun yang diinginkan bos besarnya


Dengan sedikit senyum Albert berjalan dan duduk di kursi tersebut, ia menengok ke samping kiri. "selamat malam nona" Katanya tenang dan mulai menuangkan teh


"Orang ini!" Seru Amora kesal di dalam hatinya, ia ingin sekali membanting orang ini ke lantai dan menginjaknya dengan gajah dan sesuatu yang berat untuk melampiaskan kemarahannya. Kenapa ia marah? tentu saja itu karena membuatnya menunggu!


(hehe)


"Pokoknya apapun hal romantis yang ada di dalam pikiran orang lain ada pemikiran salah" Amora mengangguk, membuat Albert yang duduk disebelahnya tertawa kecil entah karena apa. "tikus kecil, apa yang sedang kamu pikirkan" Bisiknya pelan sehingga hanya Amora saja yang bisa mendengarnya

__ADS_1


Amora mendengus dan mencubit pinggang orang itu, berbincang dengannya hanya akan membuatnya marah sampai mati! ia tidak menghiraukan pekikan kesakitan pelan dari orang di sebelahnya dan hanya fokus menatap dealer yang sedang membagikan kartu


Kali ini ekspresi muka kedua pihak bertukar. Xavier menjadi tenang walaupun dalam hatinya ia bingung mengapa Tuan Frins yang terkenal itu membantu dirinya. Sebaliknya, Quinn merasa kesal bahkan dendam dengan Frins yang sedang duduk tenang di bangkunya, ia akan mencari siapa orang yang berhasil mendatangkan Frins dan akan langsung menghabisinya karena menghancurkan rencananya.


"Hatchi" Amora bersin dengan suara pelan, Albert langsung menyerahkan sapu tangan kepadanya dan tersenyum


Amora memandang senyum itu dengan aneh, ia menolak sapu tangan yang disodorkan dan mengambil sapu tangannya yang lain di kantong celananya, dan menaruhnya lagi disana. 


Vincent yang perhatiannya teralihkan menjadi ingin tertawa saat itu juga, ia akan tertawa jika saja bos besarnya itu tidak menatapnya dengan penuh peringatan, jadi ia menahan tawanya dan itu membuat mukanya terlihat sedikit aneh


"apakah tuan Frins sakit gigi?" Lucas bertanya, ia memperhatikan bibir Tuan Frins yang dari tadi bergerak, Lucas berkata seperti itu karena ia pernah membaca di salah satu buku itu adalah tanda ketika seseorang mengalami gigi yang ngilu


Keadaan hening dan Ben tidak sengaja menyemburkan tawanya keluar walaupun ia berhasil menyamarkan suara itu dengan suara batuk, Vincent menggeleng dan merasa terhina, untung saja itu adalah kakak dari kakak iparnya, jika tidak ia akan menyuruh seseorang untuk menghabisinya pulang dari sini.

__ADS_1


"Tidak, mari kita lanjutkan" Kata Vincent sambil mengambil kartu yang ada diatas meja.


__ADS_2