Jodoh Sandiwara

Jodoh Sandiwara
38. Penembak jitu


__ADS_3

"Bos, kita sudah sampai" kata Ben, ia memberhentikan mobilnya di depan lobi, nanti akan ada sopir vallet yang memarkirkannya. Albert mengangguk tetapi tidak beranjak dari duduknya.


"Bos?" Tanya Ben lagi. "Ck" Albert mendecakkan lidahnya, dengan perlahan ia meletakkan Amora kedalam gendongannya dan membawanya, untung saja tikus kecil menyebalkan ini tidak terbangun karena ini.


Vincent dan Ben terbelak, bukankah bos besar mereka tidak menyukai menyentuh orang lain? Entahlah, mungkin arwah bos sudah pergi dan digantikan oleh kaisar cinta saat ini


Albert berjalan dengan langkah besar tetapi stabil saat melintasi lobi. Banyak karyawan yang menatap mereka tidak percaya, apakah bos besar menculik orang? tetapi mengapa orang itu berada di gendongannya, dan itu adalah seorang perempuan!


Ingin rasanya Vincent dan Ben mendahuluinya, tetapi mereka menahannya. Ben memencet tombol lift dan lift berjalan keatas, menuju lantai paling atas


"Albert" Suara seorang cewek terdengar, itu Wendy. Ia terhenyak ketika melihat apa yang ada di gendongan bos nya, dengan tidak sengaja ia menjatuhkan kuenya yang ia beli untuk merayakan ulang tahunnya malam ini


"kenapa dia bisa ada disini" Seru Wendy, mungkin karena suaranya yang lantang, Amora menjadi terbangun. Ia awalnya bingung, dan langsung menatap Albert dengan dingin


"Turunkan aku sekarang" Amora memerintah, Albert melepaskan tangannya. Amora hampir saja terjatuh, untung dia bisa mendarat dengan sempurna dibantu dengan gelangnya. "dasar cabul" Teriak Amora sambil berlari masuk ke dalam president suite dan langsung menuju ke kamarnya


"Ck" Albert berdecak, mukanya terlihat tidak baik saat ia meninggalkan yang lainnya dan langsung masuk ke dalam ruangan

__ADS_1


"Maafkan dia nona Wendy, hari ini tidak baik untuk mengganggunya, kembalilah lain kali.Ayo, aku akan mengantarmu" Vincent meminta maaf. 


"Tunggu, gadis itu diperbolehkan Aldirc memilih salah satu kamar disini?" Seru Wendy tidak percaya, ia saja harus memesan satu kamar untuknya menginap, mengapa gadis entah darimana bisa mendapatkannya


"ceritanya panjang" Vincent berkata, ia juga tidak memahami apa yang ada di pikiran bos nya saat ini, sangat susah membedakan apakah bosnya hanya memanfaatkan nona Amora atau benar-benar menginginkannya.


"Kamu tidak usah mengantarku Tuan Vincent" Hatinya kini patah, ia berjalan lesu ke arah lift, tidak dipedulikannya kue yang ada di lantai, hari ulang tahunnya tahun ini sangat menyesakkan. Padahal tahun-tahun kemarin mereka memotong kue bersama sambil berpesta kecil-kecilan. Dan ia senang seperti itu.


Wendy berjongkok di dalam lift dan tidak bisa menahan air matanya lagi.


"apa-apaan Muka tembok itu" Amora mengacak rambutnya frustasi, ia berdiri di balkon sambil memikirkan apa yang harus dilakukan selanjutnya


"dor" Sebuah peluru meleset kearahnya, dengan lincah ia menghindar. Ia terkaget, tetapi ini bukan saatnya untuk seperti itu. Ia masuk kedalam kamarnya dan bersembunyi  balik tembok, ia tidak bisa keluar karena pintu keluar sangat terlihat dari luar.


Albert yang mendengar suara kaca pecah dari kamar Amora menyadari apa yang terjadi, ia mengutuk sambil berlari ke depan pintu kamar dan bertemu dengan Vincent dan Ben yang sudah berjaga.


"Cepat masuk apa yang kalian tunggu" Katanya dengan tidak sabaran. "tetapi itu akan berbahaya" Vincent menggeleng, ia tidak bisa membiarkan bosnya masuk begitu saja, siapa tau penembak jitu itu akan menyerang lagi

__ADS_1


Albert sudah panik, bagaimana jika ia masuk dan menemukan Amora bersimbah darah. "dor" Tembakan dua dilepaskan, dan mengenai jendela balkon, kaca jendela itu juga pecah


"buka pintunya" Albert kini berseru. "jangan bodoh" Vincent ikutan berteriak


"kalian berdua diamlah, tunggu saja disitu dan jangan masuk" dari dalam terdengar suara Amora, ia mendengar perdebatan kedua orang dan merasakan kepalanya pusing


"Nona Amora, kamu baik-baik saja?" teriak Vincent. "aku baik. Tapi aku butuh kamu untuk mengirim pasukan atau apapun untuk membunuh penembak jitu itu sehingga aku bisa keluar dari sini" Amora mengingatkan. Albert kembali ke jalan lurus dan berpikiran jernih, ia memanggil seseorang dan memerintahkannya untuk mencari penembak jitu itu melalui perhitungan satelit dan mengirim lusinan orang ke daerah itu.


Penembak jitu berhasil di tangkap hidup-hidup sesuai perintah Albert, langsung saja cowok itu menendang pintu kamar Amora dan melihat perempuan itu sedang tiarap di balik tembok dengan meja di depannya. 


"Ppfft" Albert tidak dapat menahan tawanya ketika melihat posisi Amora.


"jangan tertawa, tidak boleh... Huaaa" Amora tiba-tiba menangis, ia sendiri juga bingung. Soalnya dulu ia sudah pernah mengalami hal yang lebih parah daripada ini, lalu mengapa ia menangis sekarang


Tentu saja ia takut. Jika bukan karena gelangnya, mungkin kini ia sudah kehilangan nyawa karena peluru itu langsung menuju ke kepalanya


"Tikus kecil, jangan menangis" Albert terlihat panik. Mengapa ia menangis saat ini? Ia tidak tahu harus berbuat apa sekarang, ia hanya mengambil tisue dari meja makan dan berjongkok lalu menggesernya kearah Amora, membiarkan gadis itu menyelesaikan tangisannya.

__ADS_1


__ADS_2