Kakak Tiri Yang Nakal

Kakak Tiri Yang Nakal
Episode 25.


__ADS_3

Devano merasa bingung bagaimana dia berkata kepada Felia, dia melihat Felia yang terus menerus memeluk nya dengan sangat erat sekali sampai Devano merasa sangat sesak nafas nya.


" Felia sayang, kita mengobrol sebentar yaa tapi lepaskan dulu pelukan erat nya yaa."


Secara perlahan Felia mencoba untuk melepaskan pelukan erat nya, Devano mengajak Felia untuk duduk bersama.


" Kamu tidak mau pulang,?"


Felia menggelengkan kepalanya berkali-kali.


" Yaudah sekarang kita cari tempat penginapan yaa, kita cari dua kamar yaa untuk kamu dan aku."


Felia masih memegang erat tangan Devano, Felia yang waktu kecil nya mempunyai trauma dengan petir.


Waktu kecil Felia pernah pergi bersama dengan orang tua, dan tiba-tiba saja ada petir yang menyambar pohon besar.


Pohon tersebut jatuh di depan mobil, membuat Ayah meninggal dunia karena berada di kursi depan.


Sedangkan Felia bersama dengan ibu nya berada di kursi belakang, trauma Felia begitu sangat berat sekali setelah membuat nya sangat takut dengan suara petir.

__ADS_1


Devano dan Felia akhirnya mendapatkan kamar penginapan tapi ternyata banyak juga yang memilih untuk menginap karena cuaca yang sangat extrim.


Devano hanya mendapatkan satu kamar saja, dia pun langsung menghampiri Felia.


" Bagaimana ini hanya ada satu kamar saja, yasudah kamu itu untuk kamu saja yaa. Aku tidur di mobil saja, agar kita berdua tetap di tempat yang sama."


Devano mengikuti apa yang di katakan oleh Papa nya, dia tidak mungkin satu kamar dengan Felia.


" Tapi aku takut Kak, bagaimana jika kita satu kamar saja. Kakak bisa tidur di sofa, aku takut petir karena hujan yang sangat deras sekali."


Felia yang sangat ketakutan dia sampai memohon kepada Devano.


" Tapi Felia, Papa melarang kita untuk satu kamar. Aku tidak mau sampai terjadi sesuatu yang aku inginkan, bersama dengan mu."


Felia membuka pintu kamar tersebut dan ternyata ada sofa di kamar itu.


" Lihat kan ada sofa, bisa tidur di sana kan."


Devano hanya bisa terdiam saja dia pun menutup pintu kamar nya.

__ADS_1


" Felia, sebenarnya apa yang membuat kamu sangat takut dengan petir."


Devano mengajak Felia untuk duduk berdua dan menceritakan semuanya.


" Ayah ku meninggal dunia di saat ada pohon besar yang tersambar petir, di mobil kita bertiga dan posisi Ayah di depan sedangkan aku dengan ibu di kursi belakang."


Felia menangis mengingat almarhum Ayah nya.


" Aku dan ibu selamat, sedangkan Ayah meninggal dunia."


Devano merasa sangat tersentuh ketika mendengar cerita Felia, Devano langsung memeluk erat tubuh Felia.


" Maafkan aku yaa, aku tidak bermaksud untuk membuat kamu menangis mengingat kembali masa lalu mu bersama dengan Ayah mu."


Devano melepaskan pelukan erat nya dia menghapus air mata di yang membasahi kedua pipi Felia.


" Sudahlah yaa jangan menangis yaa, sekarang kamu tidur yaa istirahat besok pagi kita akan langsung pulang."


Devano mengantarkan Felia ke tempat tidur nya, Felia membaringkan tubuhnya dan Devano menarik selimut.

__ADS_1


" Tidur nyenyak yaa, jangan takut yaa aku ada di sofa itu dekat dengan mu."


Di saat Devano akan pergi tiba-tiba saja kembali ada suara petir, Felia langsung menarik tangan Devano sehingga membuat Devano terjatuh di atas tubuh Felia.


__ADS_2