
Kelvin mulai berani bertanya kepada Febia.
" Apakah kamu mempunyai Tante yang kaya raya,? Atau mungkin sodara perempuan yang sayang ke Vicko."
Febia terdiam sambil memikirkan pertanyaan Kelvin, Devano merasa tertarik pada pertanyaan Kelvin jika sudah membicarakan tentang Tante dia teringat pada Mama nya.
" Dari kedua keluarga orang tua ku, hanya mereka saja yang berkecukupan. Jadi tidak mungkin ada yang memberikan modal atau uang kepada Vicko, tapi kenapa kamu bertanya tentang Tante yaa?."
Kelvin langsung mengalihkan pembicaraan nya.
" Sudahlah jangan di bahas lagi mungkin adik lelaki mu memiliki orang kepercayaan."
Kelvin dan Devano memilih untuk pergi sedangkan Febia merasa sangat curiga terhadap adik nya.
Dia mengeluarkan handphone nya untuk menghubungi Vicko.
Vicko yang baru selesai ujian akhir sekolah dia melihat ada panggilan telephone masuk dari kakaknya.
" Ada apa yaa Kak Bia."
Vicko mencari tempat yang nyaman untuk menjawab panggilan telephone tersebut.
* Hallo Kak Bia*
* Vicko apa kah benar kamu akan membeli sebuah cafe,? Kamu mendapatkan uang dari mana Vicko. Kamu tidak mencuri kan,? Jangan mempermalukan Papa dan Mama*
__ADS_1
* Kak, aku mencari uang sendiri. Masalah dari mana nya Kakak tidak usah hawatir, aku mendapatkan uang dengan bekerja*
* Pekerjaan apa yang kamu dapatkan,? Senin sampai Jumat kamu sekolah hanya hari Sabtu dan Minggu saja kamu tidak ada di rumah*
* Sudahlah kak, aku tidak mau banyak bicara*
" Hahaha, sudahlah jangan di bahas lagi yaa."
Vicko mengakhiri panggilan telephone nya.
Fabia semakin penasaran dengan pekerjaan Vicko.
" Jangan sampai Vicko mencuri uang Papa, aku harus datang ke kantor Papa."
Devano dan Kevin memperhatikan Febia.
" Mau pergi ke mana Febia,? dia seperti nya akan bertemu dengan Vicko."
Devano memperhatikan Febia sampai min nya meninggalkan kampus.
" Seperti nya Vicko itu lelaki simpanan tante-tante, sumber uang nya berasal dari sana karena pada saat di cafe dia sedang bicara di telephone dengan seorangpun wanita yang di sebut Tante."
Devano pun langsung pergi meninggalkan Kelvin.
" Vano, loe mau pergi ke mana woy."
__ADS_1
Teriakan Kelvin di abaikan oleh Devano.
Devano masuk ke dalam mobil nya dia ingin bertemu dengan Mama nya di Apartemen.
" Jangan sampai Tante yang di maksud Kelvin itu adalah Mama, gue nggak pernah bisa menerima itu semua."
Devano mengendarai mobil nya dengan kecepatan yang sangat tinggi sekali, dia seakan tidak peduli lagi dengan keselamatan nya.
Di pikiran Devano dia ingin secepatnya sampai di Apartemen Mama nya.
Di saat sampai di Apartemen, Devano menekan tombol bell.
Dia menunggu Mama nya membukakan pintu untuk nya, tapi betapa terkejutnya Devano ketika melihat orang lain yang membuka pintu untuk nya.
" Maaf Tante, apakah Tante ini teman Mama saya?."
Wanita yang ada di hadapan Devano kelihatan sangat kebingungan dengan pertanyaan Devano.
" Hmmm, mungkin yang kamu maksud pemilik Apartemen ini yang sebelumnya yaa. Apartment ini sudah di jual, seperti nya Mama mu tidak memberitahu kepada mu."
Devano seketika langsung terdiam dia merasa sangat kecewa sekali dengan Mama nya.
" Maafkan saya, saya tidak tahu."
Devano pun langsung pergi dia mencoba untuk menghubungi nomer handphone Mama nya tapi ternyata tidak aktif.
__ADS_1