
Felia turun dari mobil sendiri karena Devano yang mau pergi ke rumah Mama nya.
Felia melambaikan tangan nya kepada Devano, dia langsung masuk ke dalam rumah.
Felia melihat ibu nya yang tidak ada di rumah.
" Seperti nya ibu masih di toko kue, yasudah lebih baik aku belajar saja."
Felia masuk ke dalam kamar nya dia ingin fokus belajar untuk bisa mendapatkan nilai yang terbaik.
Di saat Felia fokus pada sekolah nya, Devano akhirnya sampai di depan pintu gerbang rumah Mama nya.
Devano melihat suasana rumah yang sangat sepi.
" Apakah masih Mama berada di dalam rumah, kenapa rumah ini seperti tidak berpenghuni yaa."
Devano keluar dari mobil nya, dia berjalan menuju ke pintu utama.
Devano menekan tombol bell dan akhirnya pintu pun terbuka.
" Devano, kamu datang ke sini."
Sabilla memeluk erat tubuh Devano.
__ADS_1
" Aku sudah ke Apartemen Mama, tapi ternyata Mama tidak ada di sana."
Sabilla melepaskan pelukan erat nya dia membawa Devano ke dalam rumah.
" Maafkan Mama, Mama terpaksa menjual Apartemen Mama demi kehidupan Mama."
Sabilla sampai menundukkan kepalanya di hadapan Devano.
" Kehidupan Mama,? Atau Mama menghidupi seseorang dengan uang Mama. Aku bukan Devano yang masih kecil Mam, aku sudah dewasa dan tidak bisa di bohongi."
Devano semakin yakin Mama nya berbohong kepada nya.
" Mama sudah tua, aku lebih setuju jika menikah kembali dengan lelaki yang cinta dengan Mama. Tapi aku tidak akan pernah setuju jika Mama menikah dengan lelaki muda yang pengangguran, lelaki yang tidak punya pekerjaan."
" Maafkan Mama Devano."
Sabilla hanya bisa meminta maaf kepada Devano.
Devano yang merasa kesal dia langsung pergi dari rumah Mama nya.
Sabilla tidak bisa melarang Devano untuk pergi, dia memilih untuk diam karena Sabilla tidak mau Devano banyak bertanya kepada dirinya.
Melihat Devano yang sudah pergi, Sabilla melihat wallpaper handphone nya yang memakai photo dirinya dengan Vicko.
__ADS_1
" Maafkan Mama, tapi Mama sangat cinta dengan lelaki ini. Lelaki muda yang membuat Mama nyaman, Mama butuh kenyamanan dalam kehidupan Mama."
Sabilla menutup rapat pintu rumah nya, dia memilih untuk sendiri di rumah nya agar bisa bebas ketika Vicko datang ke rumah nya.
Di saat Devano sudah menemui Mama nya, sekarang giliran Febia dia datang ke kantor Papa nya.
Dia ingin membicarakan Vicko kepada Papa nya, Febia masuk ke dalam ruangan Papa nya.
" Ada apa Febia sayang, apakah tentang Devano lagi."
Febia duduk dia langsung bicara dengan Papa nya.
" Aku mau membicarakan tentang Vicko, Pap Vicko itu masih sekolah tapi kenapa dia pernah membelikan Mama kalung berlian dan sekarang Vicko di mau membeli cafe. Ini nggak masuk akal kan, Vicko punya uang dari mana Papa. Aku hawatir Vicko mencuri ATM Papa, di pakai untuk semuanya."
Papa Febia tersenyum manis ketika melihat Febia yang menghawatirkan adik nya.
" Vicko sudah bercerita kepada Papa, dia mempunyai teman dia yang memberikan modal usaha untuk membuat Cafe. Itu bukan uang Vicko ya, itu uang teman nya."
Febia seketika dia langsung terdiam mendengar perkataan Papa nya.
" Sudah yaa jangan berpikiran negatif terhadap adik mu, dia tidak mungkin mencuri uang."
Febia masih merasa tidak percaya dia ingin mencari tahu sendiri.
__ADS_1