Kakak Tiri Yang Nakal

Kakak Tiri Yang Nakal
Episode 42.


__ADS_3

Felia dan Devano masuk ke dalam mobil nya, mereka berdua tetap pergi bersama.


" Apakah Ibu dan Ayah tidak akan marah kepada kita berdua yang tetap ingin pergi padahal mereka berdua ingin kita melihat peresmian cafe milik Vicko."


Felia merasa sedikit ketakutan tapi Devano yang sangat benci dengan Vicko, dia merasa lebih senang bisa pergi bersama dengan Felia.


" Aku tidak suka Vicko apalagi Kakak perempuan nya, aku berharap tidak akan pernah lagi bertemu dengan mereka berdua."


Felia melihat ekspresi wajah Devano yang kelihatan sangat kesal sekali membuat nya memilih untuk diam.


" Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah mau bersama dengan Febia. Apalagi sekarang aku yang sudah memiliki mu, aku akan bertahan hidup bersama dengan mu."


Devano mencium tangan Felia, dia semakin ingin bersungguh-sungguh dengan Felia.


" Apakah cinta kita berdua ini akan selalu bersama, dengan kita berdua yang di pertemukan sebagai adik dan kakak."


Devano memberhentikan mobilnya ketika mendengar perkataan Felia.


" Kita tidak sedarah, kita berdua bisa menikah jika harus pergi aku lebih memilih untuk pergi bersama dengan mu daripada harus menikah dengan Febia."


Felia merasa sangat terharu dengan perkataan Devano.


Felia sampai meneteskan air mata nya, mereka berdua berpelukan di dalam mobil.

__ADS_1


" Terimakasih banyak yaa, aku pun tidak bisa berbohong jika aku sayang kamu."


Felia mengungkapkan perasaan cinta nya terhadap Devano, Devano mencium bibir mungil Felia mereka berdua melanjutkan perjalanan menuju ke villa.


Felia masih memakai seragam sekolah, Devano tidak berhenti di toko dia ingin secepatnya sampai.


Setelah akhirnya sampai mereka di sambut dengan rintikan hujan dan membuat Devano dan Felia langsung berlari menuju ke Villa.


" Dingin sekali di sini yaa."


Baju seragam sekolah Felia kebasahan.


" Aku ku tidak berhenti di toko baju tadi, yasudah masuk ke kelas seperti nya ada baju di dalam."


Ketika Felia membuka kancing baju seragam nya, Devano memeluk Felia dari belakang.


" Ihhh, bagaimana jika ada orang yang melihat."


Devano melepaskan pelukan erat dia menutup rapat pintu kamar tersebut bahkan mengunci nya.


Felia seketika langsung menggelengkan kepalanya, ketika Devano membuka kancing kemeja nya.


" Hmmm, apakah kita akan melakukan nya lagi."

__ADS_1


Devano menarik tangan Felia dia langsung mencium bibir mungil Felia, Devano membuka baju seragam tersebut.


Felia hanya bisa pasrah saja ketika tangan nakal Devano memainkan mahkota nya.


Devano membaringkan tubuh Felia di atas kasur dia menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua yang tanpa memakai sehelai benang.


Suasana semakin panas ketika hujan yang semakin deras dan angin kencang masuk ke dalam kamar tersebut.


Felia memejamkan mata nya dia seperti sangat menikmati permainanku yang di mainkan oleh Devano.


Suara ******* Felia semakin membuat Devano bergairah, dia semakin mempercepat permainan nya.


Nafas Felia semakin tidak beraturan di saat Devano semakin memperlihatkan permainan nya.


" Ahhhhhh."


Felia merasa sangat lemas di seperti merasa puncak cinta nya, Devano tersenyum puas ketika melihat Felia sampai memejamkan mata nya dan memegang erat tubuh nya dengan kuat.


" Sekarang giliran aku ya."


Devano dan Felia mereka merasa sangat kelelahan sekali, Felia tidur di pelukan erat Devano.


Devano dan Felia menghabiskan waktu bersama hanya di dalam kamar mereka melupakan rencana mereka sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2