
"Dengar, dia anakku! Kau tak bisa merubah takdir, bagaimanapun kau mau merubahnya! Dia tetap anakku! Darah dagingku!"
Azel memandang tajam wajah Christian, ada kilatan amarah di mata gadis itu, tapi tentu Christian bisa melihat kerapuhan yang juga mendominasi di dalam mata indah milik Azel
"Apa kau sadar dengan apa yang kau katakan? Setelah kau memperlakukanku seperti seorang jalang, menghancurkan hidupku, menghancurkan martabat ku sebagai wanita, membuat aku kehilangan masa depanku! Kau dengan entengnya berkata, janin yang ku kandung adalah anakmu!! Dengar Tuan Christian, sekalipun janin yang ada di rahim ku ini adalah darah dagingmu! Aku tidak akan pernah membiarkan dia tahu siapa ayahnya!" desis Azel
"Jadi kau mau memisahkanku dengan anakku!" Bentak Christian, Azel benar-benar sudah menyulut emosi Christian kali ini
"Ya! Aku bisa membesarkan anakku sendiri, dia tidak butuh ayah sepertimu!"
Christian menggeram kesal, ternyata gadis bodoh di depannya ini sudah berubah menjadi seorang ibu protektif
"Baiklah kalau itu maumu, tapi lihat saja apa yang akan aku lakukan terhadap keluargamu!"
Azel mendelik tak percaya "Jangan macam-macam dengan keluargaku Christian! Mereka tidak ada sangkut-pautnya dengan masalah ini!" ujar Azel memperingati
Christian tersenyum miring tak mengindahkan ucapan Azel
"Aku akan melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang aku mau, dan tidak seorangpun yang bisa menghalangi ku" gumam Cristian lalu melenggang pergi dari ruangan rawat inap itu
Azel menutup wajahnya dengan bantal lalu berteriak sekeras mungkin, menumpahkan segala rasa kesal dan amarah di sana, yang ia rasa sudah tidak bisa menahan beban masalahnya, akhirnya ia hanya bisa terisak dalam kesunyian ruangan bercat putih itu
Tangannya bergerak menyentuh perut ratanya itu, entah ia harus bersyukur atau menyesali ada janin di rahimnya saat ini, yang ia pikirkan saat ini adalah apa yang akan dilakukan Christian pada keluarganya
☘️☘️☘️☘️☘️
"Hey sayang, tumben sekali makan di rumah? Ada apa?" tanya Julie sarkatis, saat Christian menarik kursi disebelahnya
Christian memutar bola mata malas, ibunya ini memang selalu sinis padanya
"Aku ingin bicara serius dengan Daddy, mommy dan Carin" ujar Christian datar lalu meneguk minuman yang baru saja dituangkan oleh pembantunya
"Sudah kuduga" gumam Julie
Carina menaikkan sebelah alisnya "Jangan terlalu serius kak, wajahmu jadi nampak keriput seperti lelaki tua" ledek Carina lalu terkekeh
"Kakak sedang tidak ingin bercanda Rin"
"Ck!! Kau memang tak pernah bercanda kak! Manusia batu sepertimu mana mungkin memiliki sisi humoris, yang ada hanya sisi horor saja" cibir Carin
Christian tak menghiraukan seruan Carina, ia menatap lekat ke wajah ibu dan ayahnya
"Dad.. aku ingin menyampaikan sesuatu!!" ujar Christian
__ADS_1
"Baiklah, apa yang ingin kau katakan!" cicit Paul
"Come on Chris, jangan melihat mommy seperti itu!!"
Sanggah mommynya sambil mendelik ke arah Christian
"Aku ingin perjodohan Carin dan Jackson dibatalkan!" Ujar Christian tegas, membuat Julie dan Carina sontak terbatuk batuk
Sedangkan Paul hanya diam sambil mengerutkan keningnya, memandang ke putra sulungnya itu dengan raut wajah penuh tanya
Julie melirik tajam Christian, sedangkan Carina tersenyum lebar
"Apa kau sadar dengan apa yang kau ucapkan Chris!"
"Kak Christian tentunya sadar Dad, lihatlah dia tak bersama kedua teman bodohnya! Lagipula ini baru jam 7 malam, dia belum sempat ke Club" cerocos Carina masih dengan senyum lebarnya
"Daddy tak butuh pendapat mu Stevani" ujar Paul tajam, ia lalu kembali mengalihkan pandangan pada anak sulungnya yang sedang asik memakan apel
"Kenapa kau tiba tiba ingin membatalkan perjodohan Carin dan Jack, bukannya kau setuju setuju saja? Kau tau bukan, ini wasiat almarhum opa! Daddy tidak bisa membatalkan ini semua"
"Ada sesuatu yang membuat Daddy harus membatalkan ini semua" ujar Christian acuh
"Ya, aku juga setu..."
"Stevani!" Desis Julie memperingati putrinya itu, Carina memutar bola mata malas
"Coba jelaskan apa yang membuat Daddy harus membatalkan semua ini" tanya Paul
"Ajak keluarga Wiratama bertemu dengan kita besok malam, dan aku akan menjelaskannya disana Dad.." ucap Christian sambil meneguk sisa minumannya lalu berdiri dan melenggang pergi
"Semua keluarga Wiratama! Tak terkecuali" lanjutnya dan benar benar meninggalkan meja makan itu, menyisakan kerutan mendalam di dahi Paul dan Julie
☘️☘️☘️☘️☘️
Azel tampak mondar mandir didalam ruangan kerja Jackson sembari menggigit jarinya cemas, Jackson juga terlihat sangat frustasi
Sehabis makan malam tadi, Naomi memberitahu mereka tentang undangan Dinner yang diadakan keluarga Maurer, dan semuanya harus ikut, itu artinya Azel tak bisa menghindar dari acara tersebut, ditambah sifat kedua orang tuanya yang tidak pernah ingkar janji
Azel mendesah berat lalu mendudupkan dirinya disofa
"Kak gimana???" Rengek Azel sambil mengusap wajahnya
"Kamu tenang aja ya, jangan terlalu dipikirkan, nanti berpengaruh sama janin kamu" Jackson menenangkan, meskipun sebenarnya ia sendiri sedang pusing
__ADS_1
"Kakak usahakan, Christian tidak akan berbuat macam-macam" lanjutnya, Azel hanya mengangguk lemah
☘️☘️☘️☘️☘️
Azel memandang pantulan dirinya dikaca, dress peach selutut dengan lengan panjang siap menemaninya malam ini
"Sayang, kok lama banget sih, ayo nanti kita telat" ucap Naomi sesaat setelah memasuki kamar Azel
Azel menoleh dengan wajah memelas, membuat Naomi menaikkan sebelah alisnya
"Mi, Azel nggak usah ikut ya, Azel nggak enak badan" kilah Azel
Naomi meneliti putrinya dari tas sampai bawah "Kamu kelihatan baik baik aja kok sayang, ayolah Zel, kali ini ikut ya, Mami Nggak enak sama keluarga mereka, mereka sudah mengundang kita" mohon Naomi
Dan sialnya Azel paling tidak bisa melihat maminya memohon seperti itu, akhirnya gadis itu hanya bisa mengangguk pasrah, sembari berdoa semoga tidak terjadi apa-apa
☘️☘️☘️☘️☘️
"Chris Apa kau tidak membocorkan sedikit saja kepada Mommy dan Carin?" Tanya Julie untuk yang kesekian kalinya, tapi hanya dibalas gumaman tak jelas Christian
Carina memutar bola matanya malas
"Sudahlah mom! Nanti juga mommy akan tau sendiri" ucapnya acuh
Julie mengedikkan bahu acuh lalu memainkan ponselnya, kemudian suara bass Paul yang terdengar menginterupsi ketiganya
"Apakah semuanya telah disiapkan untuk menyambut kedatangan tamu penting kita" ujar Paul
"iya honey.. tentu saja semuanya telah aku siapkan" sahut Julie
Beberapa saat kemudian, terdengar suara yang memecah keheningan kediaman Maurer
"Selamat malam" sapa Piter, Paul dan Julie menoleh lalu tersenyum, ia pun berdiri di ikuti oleh Carina dan Christian
"Selamat malam, mari mari silahkan duduk" ajak Paul, merekapun mulai menempati kursi kursi yang kosong disekililing meja itu
Setelah makanan dihidangkan dimeja, mereka bersama sama menikmati santap malam, sambil mengobrol tentang bisnis keluarga masing masing
"Sebenarnya malam ini kami mengundang Keluarga Wiratama untuk makan malam, karena ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh Putra sulungku" ujar Paul
Seketika Azel membulatkan matanya dan kemudian tampak gusar, begitupun dengan Jackson yang kini menatap tajam Christian, ia sudah menebak tujuan keluarga Maurer mengundang keluarganya untuk makan malam, ia terus terusan menatap dengan tajam seakan bermaksud menahan laki laki itu agar tetap diam, tapi sepertinya Christian tak peduli
Naomi menaikan sebelah alisnya "Memangnya nak Christian mau bicara apa?" Tanya Naomi ramah
__ADS_1
Azel sendiri sudah panas dingin, ia berulang kali menatap wajah kakaknya yang juga terlihat panik.
to be Continued.....